Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengawas Pendidikan di Ambon

Willi Toisuta & Associates bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Olahraga Ambon telah menyelenggarakan “Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengawas Pendidikan Kota Ambon”. Kegiatan berlangsung tanggal 14–16 Oktober 2008 di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Maluku.

Inti dari kegiatan ini adalah menyusun sebuah model, sistem, dan mekanisme pengawasan sekolah yang cocok untuk kota Ambon. Selain itu juga diberikan materi yang sifatnya menambah pengetahuan, wawasan, dan pemahaman yang berkaitan dengan tugas-tugas seorang pengawas. Materi-materi tersebut yaitu: (1) “Transformasi Sekolah Abad 21 dan Pendidikan Masa Depan” dengan narasumber Yuli Kwartolo; (2) “Tugas, Fungsi, dan Ruang Lingkup Supervisi dan Supervisi Akademis” dengan narasumber Unifah Rosyidi; (3) “Model, Sistem, dan Mekanisme Supervisi Sekolah Swasta” dengan narasumber Elika D. Murwani.

Berkaitan dengan materi mengenai model pengawasan sekolah di kota Ambon, WTA telah menyiapkan draf model, sistem, dan mekanisme pengawasan sekolah di kota Ambon. Pada lokakarya inilah draf itu didiskusikan, dikritisi, dilengkapi, dan disempurnakan. Hasilnya diharapkan bisa menjadi panduan para pengawas sekolah di kota Ambon dalam menjalankan tugas-tugasnya. Peserta lokakarya berjumlah 40 orang yang terdiri atas para pengawas sekolah kota Ambon dan beberapa kepala sekolah.

Master Plan Pendidikan Kota Ambon Harus Diperdakan

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menjadikan Ambon sebagai pusat pertumbuhan pendidikan di Maluku harus disertai dengan perhatian serius Pemkot Ambon terhadap dinamika dunia pendidikan di daerah ini serta diperkuat dengan penerbitan peratuan daerah (perda).

Konsultan pendidikan kota Ambon, Eka Simanjuntak, pada hari Kamis 20 September mengatakan, master plan pendidikan kota Ambon yang sementara disusun merupakan gambaran riil kebutuhan dunia pendidikan kota Ambon kini dan nanti. Diharapkan Pemkot Ambon dapat merumuskan master plan tersebut dalam sebuah perda tentang pendidikan.

“Harus diperdakan jika Pemkot Ambon merasa pendidikan itu penting. Selama ini pendidikan tidak pernah diperdakan. Ini penting demi kemajuan pendidikan di daerah ini,” katanya.

Menurut Simanjuntak, masih banyak yang harus dibenahi Pemkot Ambon dan semua stakeholder pendidikan di daerah ini guna mewujudkan kota Ambon sebagai pusat pendidikan di Maluku, mulai dari sarana dan prasarana, manajemen, kualitas tenaga pengajar hingga database pendidikan yang dinilainya masih minim.

Ditambahkannya, jumlah tenaga guru di Ambon saat ini masih sangat banyak yang mengenyam pendidikan sarjana. Untuk SMA jumlah guru yang sarjana baru mencapai 30 persen, SMP mencapai 40 persen, dan yang lebih memprihatinkan adalah kondisi guru SD yang hampir mencapai 90 persen hanya tamatan D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

“Rata-rata guru SD merupakan tamatan D2 yang adalah mahasiswa buangan yang tidak lulus seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri,” ujarnya.

Ditanya keyakinannya master plan pendidikan yang dibuat akan dirumuskan dalam perda, Simanjuntak mengatakan, sangat tergantung seberapa jauh kepedulian Pemkot Ambon menganggap pendidikan itu sebagai suatu yang penting dan vital.

Sumber: Radio Baku Bae

Sejumlah Guru Papua Ikuti Pelatihan di USC Australia

University of the Sunshine Coast besok, 16 April, akan menandatangani sebuah perjanjian tentang para guru senior dari Papua yang akan mengikuti pelatihan pengembangan profesional di Sunshine Coast.

Program pelatihan guru ini pada awalnya akan melibatkan 15 guru Papua, termasuk sejumlah kepala sekolah, yang akan tinggal di Sunshine Coast selama tujuh minggu dan mengikuti pelatihan tentang bagaimana sains dan matematika diajarkan di sana.

Perjanjian ini akan ditandatangani oleh wakil rektor USC Profesor Paul Thomas dan Eka Simanjuntak, direktur Willi Toisuta & Associates, perwakilan resmi dari Dinas Pendidikan Papua.

Di antara yang akan hadir adalah Willi Toisuta dan James Modouw, kepala Dinas Pendidikan Papua.

Ketua program USC Bill Allen mengatakan bahwa sejumlah pengajar sains unggulan universitas, termasuk David McKay, Ann Parkinson, dan Scott Roche akan terlibat dalam program pelatihan ini.

Ia juga mengatakan bahwa para guru dari Papua itu akan mendapat kesempatan untuk mengobservasi kelas-kelas matematika dan sains di SMA-SMA setempat.

Allen yakin bahwa perjanjian ini akan menciptakan peluang untuk proyek-proyek penelitian bersama dan membuka berbagai peluang kerjasama antara USC dan Pemerintah Indonesia, maupun antara Sunshine Coast dan sekolah-sekolah di Papua.

Pengembangan Kurikulum SD RSBI Kota Ambon

Willi Toisuta & Associates telah ditugaskan oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dikor) Kota Ambon untuk mengembangkan kurikulum rintisan sekolah dasar bertaraf internasional. Langkah pertama yang dilakukan adalah presentasi pengembangan kurikulum dalam tataran konseptual. Fokusnya adalah mengembangkan standar kelulusan, mengembangkan standar kompetensi mata pelajaran, sistem pembelajaran, dan bagaimana mengembangkan bahan ajar, serta sistem evaluasi pembelajaran.

Presentasi telah dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2008 bertempat di Balai Pelatihan Kesehatan Kuda Mati Kota Ambon. Acara ini selain dihadiri oleh calon-calon guru potensial untuk menjadi staf pengajar rintisan sekolah dasar bertaraf internasional, dihadiri pula oleh para pengawas sekolah, dan pejabat-pejabat terkait di lingkungan Dikor Kota Ambon. Sebagai narasumber adalah Vitriyani P. Tobing dan Yuli Kwartolo.

WTA Serahkan Bantuan Buku untuk Dua SD di Ambon

PT Wacana Tata Akademika (WTA) menyerahkan bantuan berupa buku-buku perpustakaan kepada dua SD di kota Ambon. Kegiatan ini dilakukan pada hari Senin, 4 Februari 2008. Acara penyerahan buku ini dihadiri oleh B.A.J. Kainama (Kabid Dikmen Dinas Pendidikan dan Olahraga Ambon), Pattiasina (Kabid Program Dinas Pendidikan dan Olahraga Ambon), dan Morits Lantu (Kabid Dikdas Dinas Dinas Pendidikan dan Olahraga Ambon).

Turut hadir Noya (kepala SD Negeri 2 Hative Besar), Kelwouw (kepala SD Negeri 6 Tawiri), Suryati (pengawas pendidikan), beberapa kepala sekolah lain dan guru-guru SD Negeri 2 Hative Besar. Perwakilan dari WTA adalah Willi Toisutta, Eka Simanjuntak, dan H. Soplantila.

Sekolah yang menerima bantuan buku ini adalah SD Negeri 2 Hative Besar dan SD Negeri 6 Tawiri. Terpilihnya kedua sekolah ini sebagai penerima sumbangan buku karena sekolah-sekolah tersebut memiliki perpustakaan yang baik dan dipercaya dapat merawat buku-buku tersebut.

WTA menyumbangkan buku sebanyak 350 buah kepada masing-masing sekolah. Buku-buku yang disumbangkan antara lain buku-buku dongeng, baik dongeng luar negeri maupun dongeng rakyat dalam negeri, cerita tokoh kepahlawanan, seri penemuan, ensiklopedi Britannica, ensiklopedi Anak Nasional, buku-buku pengetahuan umum berupa pengetahuan mengenai dunia tumbuhan, hewan, buku pengetahuan tentang gempa bumi, tsunami, dan yang menunjang pembangunan karakter siswa. Buku-buku ini ada yang berbahasa Indonesia dan Inggris, juga bilingual.

Kegiatan ini dilakukan oleh WTA demi meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan di Ambon. Dengan adanya buku-buku baru ini sekolah dapat mengembangkan minat baca bagi para siswa dan membuka wawasan pengetahuan mereka. Peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah semata, namun juga partisipasi masyarakat dan peran serta pihak swasta. Sumbangan WTA ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi pihak-pihak swasta lain.

Nota Konsep Campus Ministry

campus ministry

campus ministry pic

Preambul

Konsep campus ministry (CM) dalam skenario ini adalah “nurturing as well as empowering, on the basis of the Christian faith”, kapasitas dari sebuah perguruan tinggi sebagai masyarakat akademik agar mencapai:

Excellence (knowledge and skills of talented professionals—konsep tentang “excellence” dalam konteks CM ini adalah knowledge-driven dan karenanya tentu research-based. Selanjutnya, konsep tentang “talented professionals” hendaknya dipahami dalam konteks: (a) profesionalisme, yakni menuntut pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan menjamin performativitas (efficient performance dalam dunia kerja); (b) pengembangan kapasitas belajar mahasiswa sebagai aktualisasi dari “imago Dei”. Karena konsep yang serius ini, peran CM adalah meningkatkan status dari quality improvement perguruan tinggi Kristen kepada pencapaian kapasitas transformatif sebagai suatu institusi yang mendemonstrasikan “Christian presence” dalam pendidikan tinggi)

Leadership (sebagai bagian dari pembentukan modal sosial untuk pengembangan civil society)

Stewardship (menghidupkan dan memberlakukan budaya dan nilai-nilai spiritual untuk menyelaraskan pengadaan dan penggunaan semua sumber-daya finansial dan non-finansial bagi satu prioritas utama, yakni terlaksananya pembelajaran yang bermutu tinggi—proses pembelajaran sebagai suatu ethical imperative, yaitu pelaksanaan proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh dan tuntas)

Dengan demikian, CM didesain sebagai suatu proses pendidikan dan pembinaan dalam rangka mewujudkan kehadiran Kristen (Christian presence) dalam kampus secara berkelanjutan. CM bukan sekedar sebuah kumpulan doa, bernyanyi dan mendengar khotbah para pendeta. CM adalah “nafas” kehidupan iman dalam eksistensi sebuah perguruan tinggi Kristen; bagaimana memerankan nilai-nilai spiritual untuk menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan. Jadi, memberi warna yang khas kepada etos kerja para pelaku pembelajaran dan perilaku organisasi suatu perguruan tinggi Kristen yang bermutu bagi setiap mahasiswa (high quality and high equity).

Berdasarkan paparan di atas, maka esensi CM perlu diterjemahkan ke dalam berbagai program dan aktivitasnya. Berbagai gagasan akan dikemukakan sebagai referensi. Para pendeta CM perlu memperbincangkan desain mereka secara realistis dan memikirkan bagaimana menerapkannya.

Berikut di bawah ini adalah satu di antara berbagai upaya programatik (yang masih perlu disempurnakan) untuk mewujudkan nota konsep ini. Dengan sengaja program-program diklasifikasi secara hirarkis, mulai dengan kategori yang tertinggi, yaitu program induk (tema program utama), kemudian diterjemahkan ke dalam kategori program utama, lalu dijabarkan ke dalam berbagai kategori program, dan akhirnya kepada kegiatan atau aksi program sebagai basis untuk mengusulkan/merancang anggaran.

Gunanya hirarki semacam ini adalah agar kita dapat mulai dari ideal-ideal (kadang-kadang merupakan terjemahan langsung dari visi dan misi perguruan tinggi kita). Hanya pendekatan begini dapat membuat kita lebih taat prinsip dalam pemrograman sampai kepada aksi program, dan tentu konsekuensinya pada penganggaran secara realistis (tidak mengada-ada).

Kategori-kategori Program Campus Ministry

Program Induk

  1. Mewujudkan konsep “Christian presence” kepada sivitas akademika.

Program Utama 1

  1. Memerankan nilai-nilai spiritual untuk menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan sehingga terwujud etos kerja para pelaku pembelajaran dan terjadi perubahan perilaku individual dan organisasi dalam kampus yang mencerminkan “Christian presence”.
  2. Menulis dan memublikasikan untuk seluruh sivitas akademika buku santapan rohani yang merujuk pada kalender akademik. Dengan demikian landasan spiritual dan nilai-nilai Kristiani mendasari kegiatan akademik setiap hari. Perhatian penting perlu diberikan kepada hari-hari penting dalam kalender akademik.
  3. Membudayakan penggunaan buku santapan rohani kampus (SRK) di kampus dan di rumah, dan dalam kelompok sejawat (academic-peer groups).
  4. Memrogramkan kebaktian rutin dan khusus dengan liturgi yang beragam dan ekumenikal.

Kegiatan

  1. Membentuk komite penerbitan buku santapan rohani kampus dengan tugas yang jelas—termasuk riset, konsultasi, editorial, dan tata cetak yang kreatif dan atraktif.
  2. Memublikasikan buku santapan rohani kampus dan mengatur distribusinya sesuai perencanaan yang jelas.
  3. Merancang kegiatan penggunaan buku santapan rohani kampus.

Program Utama 2

  1. Mengembangkan komponen pendidikan umum untuk menopang studi ilmu dan teknologi berdasarkan perspektif iman dan nilai-nilai Kristiani.

Program

  1. Turut membangun sebuah departemen matakuliah umum (DMU) yang setara fakultas dengan personil yang memadai untuk mengajarkan, berdasarkan perspektif iman dan nilai-nilai Kristiani, matakuliah yang penting dalam pembentukan sikap dan kepribadian serta kepemimpinan mahasiswa.
  2. Turut mengembangkan program pengabdian kepada masyarakat melalui sebuah lembaga pengabdian kepada masyarakat, dengan tujuan mengintegrasikan ilmu dan pengabdian sebagai tonggak dari suatu masyarakat Pancasila (civil society).
  3. Mengembangkan perkuliahan khusus sebagai refleksi iman terhadap permasalahan aktual dalam berbangsa dan bernegara Indonesia, dan membangun rasa tanggungjawab mahasiswa dan warganegara secara beradab. Perkuliahan khusus ini diadakan dengan mengundang para ahli dan tokoh nasional dan internasional, yang memiliki pergumulan dan memperjuangkan keyakinan mereka, misalnya dalam persoalan demokrasi, hak asasi manusia, keadilan, dan keutuhan ciptaan (concern for the environment).

Kegiatan

  1. Mengadakan pembicaraan dan lobi dengan para senator dan pimpinan universitas tentang peran kritikal dari komponen pendidikan umum dalam pembentukan profesi dan ilmuwan.
  2. Mempersiapkan kurikulum bersama para senator dan para ahli lainnya untuk matakuliah dasar filsafat (termasuk filsafat ilmu), kebudayaan, etika, dan mungkin politik. Sasarannya adalah teori, kinerja, dan perilaku.
  3. Mengembangkan kelompok diskusi, konvensi, konferensi berkala, penerbitan, dalam bidang-bidang ilmu yang disebut sebelumnya.
  4. Membantu mengembangkan profesionalitas (ketrampilan profesional) sebagai bagian dari “delivery service” dan kesaksian dosen Kristen dalam proses pembelajaran (ethical imperative).
  5. Mendorong terjadinya research-based teaching and learning dan mengintegrasikannya dengan program service learning.
  6. Turut menciptakan hubungan dosen-mahasiswa yang ideal berdasarkan model yang sudah disepakati bersama.
  7. Memelopori terjadinya perwalian akademik sebagai tanggungjawab moral dosen.
  8. Memikirkan program remediasi bagi mahasiswa yang terlambat pertumbuhan akademiknya.
  9. Mengembangkan program service learning sebagai tonggak dalam pengabdian kepada masyarakat yang terarah bagi terbentuknya servant leader dalam diri setiap mahasiswa.

Program Utama 3

  1. Berperan aktif dalam membangun collective performance dari universitas yang terwujud dalam kualitas masyarakat akademiknya (ilmiah).

Program

  1. Mendorong dan memelihara kualitas yang berkelanjutan dimana tampak secara konkret ciri-ciri kecerdikan, kreativitas, dan produktivitas di antara masyarakat akademik UHN.
  2. Turut melahirkan dan menjamin berlangsung seterusnya kebebasan akademik dan otonomi kampus.
  3. Membudayakan nilai-nilai dari masyarakat kampus yang berkomitmen pada otonomi, tetapi bertanggungjawab dalam menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas.
  4. Mengembangkan kebiasaan memberlakukan continual self-evaluation sebagai landasan pengambilan keputusan manajerial pada semua lini organisasi UHN.

Kegiatan

  1. Membantu pimpinan universitas membentuk komisi penilaian kinerja (performance appraisal) UHN dan mendorong terlaksananya secara teratur dan rutin.
  2. Turut merancang, membentuk, dan kemudian melaksanakan hasil kerja dari berbagai komisi, yang meliputi kode etik UHN, disiplin ilmu, dan dosen.
  3. Merancang dan turut dalam proses pemberlakuan “standard of good practices” bagi sivitas akademika UHN, yang membuktikan secara nyata perwujudan kehadiran Kristen dalam perilaku kampus UHN.

Catatan Penting: Ada asumsi yang implisit, yaitu bahwa buku santapan rohani kampus yang akan memberi nafas bagi kehidupan “Christian presence” dalam kampus sudah dirancang untuk “memberi terang firman Tuhan” bagi program-program yang diusulkan dan terutama doa bagi pergumulan mewujudkannya.

Kebutuhan Akan Refleksi Teologis

Semua ini adalah konsekuensi dari sebuah penelusuran eksperiensial yang belum selesai untuk menjawab tantangan yang amat kompleks mengenai eksistensi sebuah perguruan tinggi Kristen di Indonesia, yang dalam keseharian hidupnya sukar mengaktualisasi dengan optimal visi dan misinya melalui program tri darmanya, apalagi membangun secara bermakna nilai-nilai fundamental yang dipercayai seperti akuntabilitas, profesionalitas secara ketat berdasarkan perspektif iman (faithful obedience).

Demi manajemen perguruan tinggi yang bertanggungjawab, peran CM membantu perguruan tinggi Kristen mencapai excellence adalah dalam rangka “human capital formation” (HCF), yakni pembentukan manusia berkualitas yang produktif dan kreatif dalam menjawab permintaan pasar, maupun menjadi pemeran utama dan perancang (bukan sekedar tukang dari roda pembangunan, industrialisasi, dan globalisasi) dalam knowledge-driven economy itu sendiri. Sisi yang lainnya yaitu membantu perguruan tinggi Kristen mencapai leadership dan stewardship sebagai bagian dari “social capital formation” (SCF). Wujudnya adalah kepekaan para mahasiswa terhadap keadilan, penindasan hak asasi manusia, perang terhadap kemiskinan, demokrasi dan transparansi dalam rangka membangun manusia yang adil dan beradab. Inilah komitmen pada Matius 25:45 itu. Dengan demikian menjadi jelas yang sudah dikatakan dalam preambul tentang tugas CM untuk memerankan nilai-nilai spiritual, guna menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan dari warga akademik sehingga mereka, dalam bahasa T.B. Simatupang, aktif berpartisipasi secara kritis, kreatif, dan realistis dalam (pembangunan sebagai pengamalan Pancasila) proses pembentukan modal sosial dan manusia.

Ada persoalan besar di sini, sekaligus tantangan pada konsep mengenai kehadiran Kristen dalam konteks CM. Kalau sekedar high quality dan high equity dalam proses menghasilkan keluaran perguruan tinggi, bukan hanya kalangan Kristen yang concern dan bekerja keras mewujudkannya melalui perguruan tinggi.

Berdasarkan pengalaman, dapat dikemukakan dua profil perguruan tinggi Kristen di Indonesia yang saling berbeda dalam kemampuannya mewujudkan kehadiran Kristen di kampus mereka.

Yang pertama adalah perguruan tinggi Kristen yang, karena keharusan untuk menyalurkan seluruh energi dalam survival strategy institusinya, maka kesiapan untuk memberi respons terhadap tekanan-tekanan eksternal yang berhubungan dengan akuntabilitas publiknya mendominasi kebijakan apapun. Dalam keadaan demikian, dapat dilihat bahwa komitmen pada kehadiran Kristen hanya nampak pada lambang-lambang, dan mungkin juga ritual dengan berbagai instrumen penopangnya. Sudah terjadi bahwa dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal sehubungan dengan tuntutan untuk memenuhi standar benchmarking, banyak perguruan tinggi Kristen yang lemah secara kualitas bersedia “membayar upeti” untuk mempertahankan kelangsungan operasional. Tindakan menyogok “dibaptis” dengan nama “pemberian kasih”.

Yang kedua adalah profil perguruan tinggi Kristen yang mampu berperan dalam masyarakat industrial, dan karenanya menjadi responsif menopang ekonomi yang abundance atau bahkan over-abundance. Idola yang baru adalah kemakmuran. Diperkuat dengan slogan tentang pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengembangan daya saing bangsa, maka pertimbangan ekonomi dan politik yang pragmatik dalam penggunaan solusi ilmu pengetahuan dan teknologi semakin memperoleh pembenaran, walaupun disadari akan adanya constraints seperti terbatasnya sumberdaya alam secara ketat, atau ketidakpedulian terhadap membengkaknya biaya sosial lainnya. Dalam konteks seperti ini, nilai-nilai ekonomi, politik, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi amat dikukuhkan dan dengan sendirinya lentur terhadap nilai moral dan etik. Pembentukan modal manusia yang dibicarakan kini dijadikan wahana dan prasyarat untuk membentuk masyarakat teknokratik yang materialistik. Jikalau perlu, demi kepentingan teknokratik-materialistik, pengetahuan dikemas menjadi komoditi dan ukuran keberhasilan dalam pekerjaan direduksi menjadi performativitas. Seharusnya, perguruan tinggi Kristen yang taat prinsip mempertahankan perspektif kualitas pembelajaran, yang secara riil memang harus market-driven tetapi juga research-driven.

Ada keprihatinan yang lebih luas karena walaupun diketahui bahwa materialisme memiliki juga dampak negatif bagi masyarakat umum secara luas, orang-orang dan masyarakat Kristen bahkan gereja sendiri tidak secara gigih berusaha mengubah arah pembangunan yang negatif. Ini menyebabkan berkembangnya Kekristenan yang sinkretistik—pada hakekatnya kita meyakini dan berpegang pada nilai-nilai religius, tetapi mengakomodasi juga kebiasaan serta asumsi-asumsi sivilisasi industrial modern, seperti kolusi antara ekonomi dan politik (pengusaha dan penguasa) untuk memperluas pengaruh dan kekayaan, jikalau relativistik dalam standar nilai atau norma.

Beramah-tamah dengan dosa ternyata terjadi, baik dalam kalangan kampus perguruan tinggi Kristen, maupun komunitas Kristen secara umum. Dengan demikian maka wawasan pendidikan Kristen itu sendiri yang terutama harus dibangun kembali. Persoalannya amat kompleks: bukan sekedar urusan survival dari situasi kembang-kempis secara finansial dan profesional, maupun sikap kompromistik secara rohani. Melampaui segala interes kelembagaan perguruan tinggi, bahkan eksistensinya sendiri, terdapat isu sentral, yaitu kapasitas dalam rangka pemenuhan akan panggilan profetik kita dalam bersaksi dan melayani dalam dunia pendidikan tinggi.

Agar terjadi komitmen yang baru, diperlukan telaah tentang bagaimana dan seberapa sempurna perguruan tinggi Kristen telah memberikan responsnya terhadap panggilan (profetik) tersebut. Secara institusional, hanya CM yang dapat menjadikan studi ini sebagai prioritas. Kantor rektorat sudah disibuki dengan tugas manajerial, dekan dan para dosen dengan tugas akademik, sedangkan mahasiswa dengan menentukan nasibnya sendiri dalam pembelajaran, dan terutama dalam menentukan karirnya setelah lulus.

Analisisnya hendaknya dimulai dengan distorsi-distorsi dari kebenaran, dan didasarkan atas keyakinan bahwa: (1) perguruan tinggi Kristen juga sudah menjadi kontributor pada distorsi yang ada; (2) perlu ada kerendahan hati untuk bertobat dan memohon pengampunan—bukan menonjolkan arogansi; (3) semua pembaharuan harus bertolak dari perspektif kerajaan Tuhan—bukan kepentingan kelembagaan belaka. Mudah-mudahan dari titik berangkat demikian dapat dibangun kembali juga persepsi perguruan tinggi Kristen tentang keahlian dan profesi yang sadar betul bahwa: (a) “takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan”—bukan saja pengetahuan rasionalistik; (b) “obedience to God” dimengerti sebagai “true freedom” dalam kontras dengan “individual self-determinism”; (c) buah-buah roh diterima sebagai “abundant life” dalam kontras dengan “personal success”.

Jadi, CM perlu mengembangkan sebuah common framework secara teologis untuk mewujudkan kehadiran Kristen dalam kampus perguruan tinggi Kristen—pada hakekatnya sebagai landasan dari kehidupan yang baru (langit yang baru dan bumi yang baru) yang substansial dalam kampus.

WILLI TOISUTA

Pedagogi Orang Basudara: Pedagogi Toleransi

pedagogi orang basudara

Sebuah model pendidikan berbasis kearifan lokal orang Ambon untuk mendorong modernitas dan rekonstruksi sosial.

Kota Ambon adalah pusat pembelajaran di provinsi Maluku. Di sana terdapat sekolah-sekolah terbaik dan satu-satunya universitas negeri daerah itu. Sistem pendidikannya lumpuh sewaktu konflik bertahun-tahun. Tak hanya bangunan dan fasilitas-fasilitasnya hancur, hingga proses belajar-mengajar di segala tingkat mengalami stagnasi, masyarakatnya secara umum juga tertinggal dalam trauma, kecurigaan, dan banyak orang terlantar di kotanya sendiri.

Walikota Ambon mengusulkan sebuah proses rekonsiliasi untuk rakyat Ambon dan berfokus, dari perspektif jangka panjang, pada pendidikan. Sebuah proses kependidikan berkualitas tinggi harus terpasang dalam atmosfer harmoni pada konteks sosial yang spesifik dan orisinal—inklusivitas, keterbukaan pikiran, dan toleransi persaudaraan keluarga besar. Kearifan lokal yang begitu, yang telah diketahui dan dilaksanakan rakyat Ambon, harus direvitalisasi agar menjadi dasar dan desain baru bagi proses belajar-mengajar, supaya itu dapat berkontribusi dan mendorong modernitas serta rekonstruksi sosial.

Ini akan menyentuh isi dan pendekatan dalam proses belajar-mengajar untuk sekolah-sekolah dasar dan menengah. Atas bantuan UNDP, sebuah proyek jangka pendek dilaksanakan di tahun 2001-2003 dengan fokus pada peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran serta bantuan untuk perlengkapan dan beberapa rekonstruksi fisik bagi satu SMA. Empat SD, dua SMP, dan satu SMA terpilih untuk mendapat bantuan proyek itu.

Ke depan, sebuah visi dan pendekatan untuk jangka yang lebih panjang akan dibutuhkan dan diusulkan untuk menerapkan prinsip dan praktik “Pedagogi Orang Basudara” (POB).

Model POB itu, pertama-tama, akan punya sebuah komponen penelitian. Ini untuk menelaah secara mendalam kearifan lokal yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, kultural, dan religius yang dipercaya dan dilaksanakan orang Ambon sebagai dasar dan tradisi dalam praktik mendidik anak, serta pendidikan keluarga, bagi pengasuhan semua anak Ambon.

Fokus penelitian yang demikian, saya harap, akan membantu kita untuk memahami corak kognitif, pola pikir, dan perilaku belajar anak-anak sehingga, dalam pengertian yang lebih luas, itu akan menjadi penelitian penting tentang keterdidikan anak-anak Ambon. Dalam konteks ini, konsep keterdidikan dimengerti sebagai potensi atau probabilitas pembelajaran dalam sebuah latar kelas formal. Oleh sebab itu, pertanyaan tentang bagaimana pengalaman kanak-kanak di sini dapat menjadi faktor berpengaruh bagi keberhasilan belajar di sekolah.

Telah diketahui bahwa faktor-faktor seperti praktik pengasuhan anak, hubungan antar-keluarga, penggunaan bahasa ibu pada satu sisi, dan nilai serta konteks sosial dan kultural pada sisi lain, sangat menentukan arah perkembangan anak. Masuk ke situasi sekolah dengan latar belakang yang berpengaruh demikian membuat kecocokan menjadi penentu penting yang tak dapat dihindari selanjutnya. Jika latar belakang pengalaman anak tersebut cocok dengan harapan dan ketentuan sekolah formal, maka probabilitas pembelajaran menjadi tinggi. Sebaliknya, jika latar belakang pengalamannya tak cocok, atau hanya sedikit memenuhi harapan sekolah, maka kesempatan terjadinya pembelajaran efektif menjadi rendah.

Sementara faktor-faktor itu penting untuk menggenjot pembelajaran bermutu tinggi, agar anak-anak Ambon dapat dipersiapkan untuk hidup efektif dalam masa depan masyarakat yang modern, POB harus juga mendorong rekonstruksi sosial. Revitalisasi nilai-nilai dan kearifan lokal akan menjadi dasar untuk membangun, di antara anak-anak, rasa kemasyarakatan yang bebas dari prasangka, ketidakadilan, polarisasi keagamaan, dan kemiskinan material serta intelektual. Inilah proses pendidikan untuk membantu anak-anak memahami serta berpartisipasi dalam resolusi konflik dan, oleh sebab itu, merupakan pencerahan dalam hubungan sosial, personal, kultural, dan religius. Sebuah kurikulum perdamaian harus difokuskan pada proses internalisasi kultural—dengan demikian, itu akan sekaligus membangun kapasitas intelektual dan memperkuat kultur kebersamaan. POB, karena itu, akan menganggap rasa cinta damai sebagai satu bagian integral dalam menghasilkan anak Ambon yang belajar dan setia lewat pendidikan.

Sebagai konsekuensi, sistem sekolah dan para guru harus merancang sebuah model untuk menggenjot potensi pembelajaran siswa. Tidak akan ada pembelajaran yang nyata kecuali aspek ini diperlakukan sepantasnya. Kurikulum POB akan secara serius menginkorporasikan latar belakang si anak dengan nilai-nilainya.

Sejauh ini, kurikulum sekolah Indonesia belum menyentuh dimensi-dimensi tersebut. Rantai yang terputus ini akan disambung oleh POB. POB akan secara kontekstual membangun tiga tonggak yang saling berkaitan untuk sekolah-sekolah di Ambon: (1) deskripsi proses pembelajaran; (2) resep, atas dasar tonggak pertama, bagi teori instruksional; (3) desain instruksional dan rekomendasi mengenai metodologi sebagai bagian pembelajaran baru yang menginkorporasikan “kebersamaan” dalam dan lewat pembelajaran bagi anak-anak Ambon.

POB juga akan meninggalkan tradisi kurikulum yang sudah terlalu sumpek untuk memberi jalan bagi pendekatan yang dapat mengintegrasikan secara bermakna domain kognitif, afektif, dan performa dalam pengajaran dan pembelajaran. POB harus terarah kepada pemikiran rasional dan menyisihkan sektarianisme yang akan memacetkan demokrasi dan modernitas.

WILLI TOISUTA