Pembelajaran Berbasis Penelitian

pendidikan berbasis penelitian

“Ciri-Khas Pendekatan Pembelajaran 4T Untuk Mencerdaskan Kehidupan Anak Bangsa.”

Indonesia Dan Problematika Pendidikannya

anak bangsaAkhir-akhir ini masyarakat Indonesia terusik oleh masalah-masalah terkait komersialisasi sekolah berstandar internasional, gonjang-ganjing Ujian Nasional (termasuk keraguan terhadap obyektivitas sistem penilaiannya) dan yang amat mengkhawatirkan adalah  kompetensi guru yang rendah. Seluruh permasalahan tersebut berhubungan dengan kualitas pendidikan yang tidak kunjung membaik, walaupun berbagai peraturan telah diterbitkan dan upaya memperbaiki sistem pendidikan nasional, telah dilaksanakan secara masif dengan  investasi yang mahal.

Sebagai bangsa, kita mencatat lahirnya berbagai kebijakan pemerintah yang tujuannya adalah untuk perubahan sistem nasional, yang dipercaya dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara umum. Secara khusus, perubahan sistem melalui peningkatan kompetensi guru dan sertifikasinya, pengakuan akan status professional guru dan perbaikan penerimaan guru,  penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kelas, termasuk pembangunan infrastruktur yang diperlukan, dipercaya akan memajukan proses pembelajaran. Upaya perbaikan dimulai dengan meningkatkan alokasi anggaran pendidikan menjadii 20% dari APBN, perubahan kurikulum menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK), yang kemudian menjadi KTSP. Perubahan ini kemudian diikuti dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), pengesahan Undang-Undang tentang perbaikan status Guru dan Dosen, Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dan program sertifikasi guru.

Dalam rangka desentralisasi, pengambilan keputusan terkait kebijakan lokal (sampai tingkat Kabupaten), sangat dimungkinkan. Hal ini membuat, berbagai kepentingan sekolah dapat diselesaikan tanpa intervensi birokrasi  pusat. Semangat pembaharuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah turut ditopang dengan berbagai  bentuk bantuan Internasional  dari negara-negara sahabat. Semua ini menunjukkan bahwa, bukan hanya cakupan kerjanya yang meluas, tetapi investasi finansial juga meningkat secara signifikan.

Jika diurut kebelakang, sejarah pembaharuan pendidikan untuk mengembangkan kualitas manusia Indonesia, telah dimulai sejak kita merdeka. Rencana demi rencana disusun, investasi demi investasi ditanamkan, pinjaman dan bantuan internasional sampai sekarang masih berlangsung dan terus meningkat, dana pinjaman negara yang harus dilunasi oleh generasi  bangsa  yang akan datang.

Walaupun banyak hal yang telah dilakukan, saat ini sebagai bangsa kita diberi-tahu bahwa gagasan, dan upaya melaksanakan misi mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh masih tertinggal – “the mission has not been fully accomplished”. Keprihatinan mendalam yang disebut sebelumnya memang beralasan kuat. Beberapa diantaranya amat kritikal dan mempengaruhi (secara negatif) ” daya-saing-bangsa”.

Fakta menunjukkan bahwa 90% dari lulusan Ujian Nasional SMU tahun 2011, hanya mencapai nilai rata-rata 64.4. Angka ini termasuk lulusan dari berbagai kabupaten di daerah yang sekolahnya  mencapai angka kelulusan 100%, walaupun diketahui bahwa sekolah-sekolah tersebut memiliki fasilitas yang sangat minimal dan tidak memiliki guru  dalam jumlah dan kualitas yang cukup, dengan etos kerja yang memprihatinkan. Apabila kecenderungan ini meluas, maka dapat dikatakan bahwa 90% dari lulusan SMU di Indonesia di tahun 2011, memiliki resiko yang tinggi (walaupun tidak mutlak) untuk gagal di Perguruan Tinggi. Jikalau nilai rata-rata 50 hingga 60 didudukan dalam rentangan kelayakan tingkat kesukaran pembelajaran, disatu sudut “low level cognitive”, dan disudut yang lain ” high level cognitive”, nilai rata-rata merupakan indikasi bahwa perguruan tinggi mendapatkan pembelajar yang pasif dan amat bergantung pada  dosennya sebagai satu-satunya sumber informasi.

Pada lulusan SMU ini belum ada ketrampilan untuk mencari sendiri, menganalisis, dan mensintesiskan materi perkuliahan sebagai tanda adanya pengertian, pemahaman dan penguasaan, bukan saja konten tetapi juga konsep ilmu-pengetahuan yang dipelajari. Persyaratan yang disampaikan diatas adalah syarat yang harus dimiliki calon mahasiswa, bila mereka diharapkan dapat berhasil dengan baik maupun gemilang untuk menyumbang kepada dan memperluas basis bagi berkembangnya “brain power” Indonesia.

Dari perspektif ini ancaman terhadap kualitas  pencerdasan anak bangsa sudah jelas sangat kritikal.  Temuan Kementerian Pendidikan Nasional yang diumumkan melalui website-nya  tentang hasil Uji Kompetensi Awal guru  di Indonesia sangat memprihatinkan.  Dalam  skala 1 – 100, kompetensi guru provinsi Maluku hanya mencapai nilai 34.5 ( terendah) dan yang tertinggi adalah DIY, 55.1. Dalam 10 besar terbaik kita temukan bahwa DIY adalah tertinggi dengan nilai 55.1. Yang menarik selanjutnya adalah bahwa 4 urutan terbawah yaitu Kepulauan Riau (43.8), Sumatera Barat (42.7), Papua (41.1) dan Banten (41.1).

nilai rata-rata ukaNilai-nilai tadi menerangkan kepada kita bahwa Kompetensi Guru di Indonesia berada pada aras rata-rata dan dibawah rata-rata, karena rentangannya adalah 41.1 (terendah) dan 50.1 (tertinggi). Dari kemampuan guru yang seperti ini, maka tidak heran bila 90% lulusannya lulusan SMU kita hanya mencapai nilai 64.4. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para guru kita, belum mampu mengaktualkan potensi keterdidikan siswanya karena potensi yang masih tertinggal sebesar sekitar 35,6%.

Masyarakat Indonesia menyambut kebijakan mengenai Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) dengan penuh harapan. RSBI dianggap sebagai suatu terobosan yang akan mengangkat mandeknya kualitas pembelajaran di Indonesia. Namun ironisnya, Kementerian Pendidikan sendiri mengumumkan bahwa ketika kualitas guru-guru di RSBI dengan Sekolah biasa (Konvensional) dibandingkan, hasilnya amat mengecewakan, karena diantara keduanya tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan. RSBI hanya sedikit lebih baik dari Sekolah Konvensional dalam satu aspek yaitu pengajaran dibidang sains dan Bahasa Inggris.

Bila potensi siswa tidak mampu dikembangkan secara optimal oleh guru-guru Indonesia, lalu bagaimana kita bisa berharap bahwa kualitas Sumber-Daya-Manusia kita mampu menyumbang pada “daya-saing” bangsa dalam menghadapi masyarakat global abad XXI yang berbasis pengetahuan. Ini adalah dentuman meriam keterbelakangan Indonesia dalam mengembangkan dan mengelola pendidikan nasional – sebuah dentumen yang amat memekakkan telinga bangsa. Gaungnya tidak akan menghilang hanya dengan melatih kembali guru  selama sepuluh hari, untuk memperoleh sertifikasi profesi sebagai guru. Tuntutan profesional seorang guru, tidak akan dapat dipenuhi hanya melalui penerbitan sebuah Peraturan Pemerintah.

Revitalisasi Pendidikan Indonesia

Keterbelakangan kondisi pendidikan Indonesia, adalah kenyataan yang mengharuskan kita meninggalkan sistem yang konvensional, yang sangat didominasi oleh pemikiran tradisional. Para penentu kebijakan nasional, belum mampu melepaskan perspektif mereka dari kebiasaan yang sudah ketinggalan jaman. Karakterisik pembelajaran tradisional, nampak dalam berbagai peraturan yang sebenarnya hanya fokus mengembangkan dan memperbaiki instrument-instrument pendidikan, dan bukan pada persoalan-persoalan yang intrinsik yaitu mengaktuaIisasikan secara utuh kapasitas belajar para siswa. Instrument pendidikan memang diperlukan, terutama untuk mengatur, mengelola (dengan menerbitkan berbagai aturan),  hingga tingkat tertentu menjamin keberhasilan suatu proses pendidikan atau pembelajaran.

Dalam hubungan dengan kurikulum kita temukan misalnya, Kurikulum Berbasis Kompetensi lengkap dengan indikator kinerja keberhasilannya. Itulah juga yang menjadi ukuran penilaian bagi siswa dan gurunya. Yang selama ini terjadi dalam kaitan dengan KBK ini adalah penentuan terlebih dahulu tujuan instruksional atau “pre-described objectives” dari proses interaksi guru dan murid. Seharusnya yang dari awal perlu dipastikan adalah hal-hal terkait jumlah siswa/ kelas (rasio guru dan siswa), sampai pada gizi siswa, teknologi pembelajaran yang digunakan dan yang terpenting adalah standar dan kualifikasi gurunya (Kompetensi). Keberatan  terhadap “pre-described objectives” adalah kecenderungannya membatasi guru dan siswa, bekerja untuk hanya menguasai secara tuntas tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini menyebabkan penguasaan pengetahuan yang “terbatas”, karena target capaiannya dibatasi. Yang diperlukan oleh siswa dalam abad informasi sekarang ini adalah, bukan saja transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Dunia kerja berkelas dunia, membutuhkan lulusan yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi dan bekerja dalam kelompok untuk memecahkan persoalan, saling berargumentasi dalam rangka bertukar informasi, dan harus memiliki ketrampilan berkomunikasi secara efektif. Para siswa harus dapat bertanggung jawab atas temuan dan pendapat mereka. Semua ini membutuhkan suatu proses pembelajaran yang berpusat pada pembelajar/siswa, dimana siswa sendiri lebih dimampukan untuk menjadi pro-aktif.

Sekarang ini sedang terjadi, dalam ranah  ilmu pendidikan,  pergeseran konseptual dari pengembangan kurikulum yang berorientasi “predescribed objectives”  kepada kurikulum yang mengembangkan imajinasi. Fokusnya adalah pada pengembangan “critical thinking” dan kesempatan seluas-luasmya disediakan bagi studi kolaboratif dalam bentuk kerja sama kelompok, baik yang bersifat “on line” dengan sesama siswa atau sumber-sumber pengetahuan baru, yang ada dimana saja. Tugas lapangan dan penelitian untuk menemukan kebenaran dengan bukti-buktinya yang sahih, harus bagian integral dari proses pembelajaran tersebut.  Oleh karena itu pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah harus meninggalkan kebiasaan tradisional, proses pembelajaran harus mampu menghubungkan secara bermakna, pembelajaran dengan fakta kehidupan dan berkarya dalam dunia global yang berbasis pengetahuan. Para siswa sekarang membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang relevan, termasuk berkomunikasi secara efektif untuk berfungsi  sebagai warga negara yang produktif. Oleh karena itu kurikulum sekolah perlu mengembangkan kemampuan siswa untuk, “imagine the possible future”; “forcasting probable future” dan yang yang terpenting “deciding on preferable future”. Tentu bukan membuat keputusan tentang masa depan dengan imajinasi berbasis mimpi belaka, tetapi suatu kemampuan membangun skenario yang berbasis pengetahuan yang memiliki “evidence” dari proses studi yang berbasis-penelitian.

Sekolah Berstandar Universal

Sebagai kontras pada praktek pendidikan yang sekarang sedang berlangsung di Indonesia, paradigma  pembelajaran pada Sekolah Berstandar Universal, dilandaskan pada beberapa keyakinan yang mendasari rancangan belajar dan mengajar :

  • Pembangunan nasional berbasis-pengetahuan adalah “knowledge driven” tetapi juga “market driven” karenanya membutuhkan angkatan kerja yang terdidik dan terlatih dengan mutu yang tinggi;
  • Pola pembelajaran konvensional yang terpusat pada guru dan buku-teks akan ditinggal karena hanya menyebabkan pembelajaran yang pasif;
  • Globalisasi melahirkan paradigma pendidikan baru yang perlu difokuskan pada upaya mengaktualisasi kapasitas belajar para siswa – utamanya adalah pengembangan berpikir kritis, pembelajaran yang berkelanjutan, serta kemampuan membuat asesmen dan respons secara kritikal;
  • Pembelajaran-Berbasis-Penelitian (Research Based Teaching Learning/RBTL) adalah model yang diunggulkan – tidak hanya mengembangkan kemampuan menemukan dan mengkomunikasikan pengetahuan tetapi juga mampu mengintegrasikan keputusan moral dan etik baik secara pribadi maupun kolektif yang berguna bagi pribadinya dan masyarakat umum;
  • Pembelajaran-Berbasis-Penelitian memiliki komponen “social learning” untuk mengembangkan rasa percaya diri dan solidaritas sosial agar dapat berfungsi secara efektif dalam masyarakat yang terus berubah.

Untuk menerjemahkan prinsip-prinsip tersebut  ke dalam proses pembelajaran, para siswa difasilitasi secara berkelanjutan untuk mempelajari esensi mata-pelajarannya melalui dialog, studi kepustakaan, penelitian dan eksperimen dalam laboratorium maupun kegiatan kerja lapangan. Tujuan akademik dan aplikasi mata pelajaran akan dianalisis berdasarkan arahan kurikulum nasional tetapi tetap memberlakukan standar yang universal. Berdasarkan hasil analisis itu maka tugas pembelajaran akan disusun dalam berbagai tugas (taking learning to tasks) yang perlu dilaksanakan bersama oleh guru dan siswanya. Proses inilah yang merupakan model pembelajaran berbasis penelitian dan terdiri dari empat (4) langkah yang konsekutif tetapi saling terkait. Dengan demikian proses mempelajari keutuhan mata-pelajaran diupayakan melalui sebuah desain “action research” yang khusus untuk studi individual dan kolaboratif antara siswa dan guru. Para siswa akan diperkenalkan pada berbagai metodologi penelitian dan komunikasi dan kemampuan dalam menggunakannya secara terampil. Dengan bantuan metode “Problem-Based-Learning” daftar pertanyaan yang disusun berdasarkan ke-4  langkah pembelajaran itu akan dibuat bersama oleh guru dan siswanya.

Keempat langkah pembelajaran yang konsekutif dan saling tergantung tersebut disebut: 4T, yaitu :

TELAAH:  proses mengkonstruksi pengetahuan yang utuh melalui pengumpulan informasi dan studi pustaka. Daftar pertanyaan disusun bersama untuk membantu dalam langkah-langkah selanjutnya akan dirancang pada tahap ini ;

TELITI: Proses ini untuk mengkonformasi temuan yang diperoleh sebelumnya, berdasarkan pembuktian yang bersifat laboratorik, kerja lapangan dalam bentuk observasi, interview dan cara lain yang memnuhi persyaratan ilmiah. Hasil dari langkah ini akan berupa temuan (pengetahuan) yang telah dikonfirmasi dengan “evidence” (bukti). Siswa secara pribadi atau berkelompok akan melaporkan temuannya secara tertulis dengan menggunakan standar laporan ilmiah yang lazim ;

TATA: Temuan dalam bentuk laporan yang telah dipersiapkan akan diperbincangkan dalam pertemuan diskusi, tutorial, dengan rekan sekelasnya. Jikalau dianggap perlu satu atau dua nara-sumber dapat diturut-sertakan. Tujuan utama langkah ini adalah untuk mengklarifikasikan asumsi-asumsi yang digunakan; memperdebatkan pendapat dan temuan ; menyempurnakan temuan berdasarkan pendapat yang benar dan obyektif dari “peer group” dan pendapat ahli lainnya.

Disini pula akan timbul perbincangan tentang isu yang kontraversial yang ditemukan di lapangan karena tidak sejalan dengan pembelajaran tentang nilai-nilai spiritual dan agama, nilai moral dan budaya. Persoalan kekerasan terhadap anak, jender,  keluarga, dan anggota masyarakat akan memunculkan kepentingan baru yang berhubungan dengan hak azasi manusia, keadilan, kemiskinan, demokrasi, dan juga penghancuran dan keutuhan lingkungan. Dalam upaya siswa menata temuan dan pengetahuannya ia harus dibantu sepenuhnya agar mampu mengadakan proses mengklarifikasi niali-nilai. Proses tersebut sangat penting oleh karena maksudnya untuk memungkinkan para siswa mengambil keputusan berdasarkan kata hatinya (nurani)  sebagai landasan untuk bertindak sesuai dengan keputusan kata hatinya itu. Dalam langkah TATA ini menjadi imperatif internalisasi nilai dan etika.

TUTUR: Pada akhir proses pembelajaran tentang suatu ilmu/mata-pelajaran para siswa perlu mengkomunikasikan dalam rangka pertanggung-jawaban ilmiah, temuan yang telah diverifikasi, dan ditata secara “tuntas”. Para siswa akan menggunakan berbagai media yang dipilihnya sendiri  misalnya melalui workshop, konperensi, atau seminar. Tidak tertutup kesempatan bagi siswa-siswa untuk memilih cara yang lebih komunikatif dan ekspresif, misalnya,  melalui lukisan, seni pertunjukkan, poster, dsb. Semua umpan balik yang didapat sebagai akibat mengkomunikasikan temuan pembelajaran berbasis penelitian itu mempunyai dimensi edukatif yaitu untuk membuat penemunya memilki kerendahan hati tetapi dengan integritas kepribadian yang tinggi.

Sekolah-sekolah di Indonesia harus memulai sebuah lembaran baru dalam mengembangkan  pendekatan pembelajaran yang berbasis penelitian dengan langkah-langkah yang konkrit, konsekutif dan integratif. Sudah barang tentu perbaikan dan pembaharuan proses pembelajaran berbasis penelitian yang dilaksanakan sekolah-sekolah ini, tidak akan terjadi secara instan, namun yang jelas, akan terjadi Pemebelajaran Berbasis Penelitian ini akan mendobrak pemikiran-pemikiran dibidang pendidikan yang konvensional – pendekatan ini akan mendorong upaya untuk merekonstruksi kurikulum kearah yang memberdayakan imajinasi anak dan secara menyeluruh tidak “overloaded”.  Dipihak yang lain, akan ada tuntutan pembaharuan pada program pendidikan guru agar berbasis pada pengembangan kapasitas belajar anak.

Telaah, Teliti, Tata dan Tutur, menerjemahkan dan mengkonkritkan semboyan Ki Hajar Dewantoro, “tut wuri handayani” menjadi semakin nyata dan berwibawa dalam upaya kita bersama untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

 

Ditulis oleh;

Willi Toisuta PhD.

 

© Ilustrasi: kompasiana

Dimensi Internasionalisasi Sistem Persekolahan Indonesia

sekolah internasional

Pertumbuhan dan kebangkitan ekonomi global seperti yang sedang terjadi di negara-negara Asia sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya kita mengenal ucapan “ekonomi global berbasis pengetahuan”. Penetrasi yang lebih luas telah dimungkinkan karena revolusi dalam teknologi informasi dan komunikasi. Fenomena yang perlu diperhatikan sekarang bukan saja transformasi sosial dan politik pada mancanegara, tetapi juga hubungannya dengan pemetaan pendidikan ke masa depan, yaitu membrojolnya (emergence) pasaran kerja sejagat.

Globalisasi jelas mempengaruhi liberalisasi ekonomi sekaligus liberalisasi sosial, yaitu demokratisasi politik. Dalam liberalisasi ekonomi dunia telah terjadi perpindahan pekerja berpengetahuan (knowledge workers) seperti para ilmuwan, pakar, dan mereka yang berketrampilan tinggi—mereka dapat berpindah kemanapun mereka diperlukan sehingga batas-batas negara tidak lagi menjadi penghalang. Itulah sebabnya mobilisasi spasial terjadi secara spontan.

Dominasi pekerja berketrampilan tinggi dengan sendirinya menggeser kesempatan tenaga kerja lokal, yang sebelum bersaing saja sudah memiliki kelemahan dalam pendidikan pra-jabatan, dan pendidikan umum yang tidak mendorong kreativitas serta independensi bertindak—pengalaman membuat keputusan yang diperlukan pada saatnya. Dengan sendirinya “orang lokal” yang memiliki kemampuan akan memperoleh kesempatan, dan bahkan dalam rangka proteksi nasional mungkin saja memperoleh prioritas. Namun jumlahnya selalu sangat terbatas sehingga membaurnya mereka dalam kelompok yang didominasi “asing” hanya turut menciptakan “kelas elit” baru, yang tidak mungkin memperbesar kemungkinan membangun daya saing nasional. Padahal, daya saing nasional diperlukan untuk mengimbangi penetrasi ekonomi global berbasis-pengetahuan, demi pengembangan kekuatan ekonomi yang berorientasi pada meratanya kesejahteraan nasional.

Dipandang sepintas, demokratisasi pendidikan nampak seolah menjadi jawaban terhadap kepentingan nasional. Yang menjadi persoalan besar adalah: karena demokratisasi juga menyatu dengan liberalisasi ekonomi, kekuatan peubah yang menentukan prioritas kurikulum akan selalu didominasi oleh tuntutan ekonomi global dan bukan lagi orientasi nasional atau historik. Tidak dapat lagi diberlakukan pembedaan antara “kami” dan “mereka” karena semua pemain sudah menjadi kompetitor. Selanjutnya, mobilisasi sosial yang terjadi karena adanya demokratisasi telah membuka peluang yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan kesempatannya, dalam rangka memperoleh pendidikan pada semua jenis dan tingkatan persekolahan, termasuk perguruan tinggi. Perluasan daya tampung telah terjadi sehingga penerimaan siswa atau mahasiswa menjadi masif. Kenyataan itu turut menyebabkan lembaga pendidikan menjadi “demand absorbing” sehingga mudah mengancam kualitas. Dengan kata lain, akses meningkat tetapi kualitas terancam.

tantangan demokratisasi pendidikanTabel berikut (klik untuk memperbesar gambar) menunjukkan dua kenyataan yang kontradiktif. Di satu pihak ada tuntutan dan kesadaran untuk memenuhi standar internasional, tetapi di lain pihak kelemahan inheren dalam sistem nasional masih merupakan beban yang berat. Jelas bahwa hak kebanyakan anak untuk memperoleh pengajaran terbaik akan terhambat jikalau kualifikasi guru tidak memadai, fasilitas belajar minim, dan kurikulum masih “overloaded”. Apalagi masih terdapat “miss conception” dalam merancang dan menginterpretasi konsep-konsep esensial.

Hasil Ujian Nasional pada tahun 2006, 2007, dan 2008 menunjukkan angka rata-rata sebagai berikut: 5.94; 6.28; 6.35. Agar angka-angka ini dapat dimengerti dalam suatu perspektif keberhasilan, suatu analogi dengan gambaran John Biggs (1999) akan dicoba berikut ini. Karena disadari sepenuhnya bahwa generalisasi tidak dapat dibuat terhadap semua pendapat—apalagi tanpa mengklarifikasi asumsi yang mendasarinya—analogi ini tidak bermaksud merepresentasi akurasi apapun kecuali sekedar menampakkan sebuah kecenderungan yang menarik.

Apabila hasil Ujian Nasional dipergunakan untuk memasuki perguruan tinggi akan terjadi kemungkinan berikut ini. Angka rata-rata 6 dari skala 1 sampai 10 jikalau ditempatkan dalam rentangan Biggs tentang level of engagement dari rendah ke tinggi, maka kedudukannya berada di antara relating dan recognizing (ke bawah) atau relating dan applying (ke atas). Pada posisi yang demikian, keterlibatan mahasiswa baru dalam proses pembelajaran masih cenderung memberat pada keadaan yang pasif. Akibatnya, mahasiswa masih tergantung pada dosen sebagai satu-satunya sumber informasi. Itulah sebabnya tingkat pemahamannya tidak mendalam dan terbatas. Biggs menyatakan bahwa mahasiswa tahun permulaan yang dapat berhasil dengan baik secara akademik adalah mereka yang memiliki kemampuan berinteraksi pada posisi applying ke reflecting, dan terutama theorizing. Mereka ini yang dinamakan Biggs sebagai mahasiswa tipe akademik karena memiliki pemikiran analitikal, sehingga dapat menyesuaikan dirinya dengan metode pembelajaran yang memerlukan independensi dalam proses “pengayaan” dan “pendalaman” konten, tidak bergantung pada dosen.

Di kalangan internasional, penciutan gap antara tipe akademik dan non-akademik biasanya telah terjadi lebih dini, yakni pada jenjang persekolahan. Ini pun harus dimulai dari jenjang terendah karena perjalanan pembelajaran, dari pengembangan kapasitas belajar sampai mampu mengelola daya saing bangsa, adalah suatu perjalanan panjang. Inti dari pengembangan daya saing bangsa bukan terletak pada keuntungan yang diperoleh dari produktivitas ekonomi per se, tetapi pada kreativitas berpikir dan kemampuan serta ketrampilan intelektual, sehingga dapat menghasilkan produk ekonomi dan teknologi yang berdaya saing.

Jadi, hubungan antara “scientific interest” dan “technological need” adalah sebuah hubungan berbasis ilmu pengetahuan dan penelitian. Adalah juga merupakan kenyataan bahwa pengetahuan dan teknologi terus mengalami perubahan yang cepat. Sebab itu, pembelajaran terbaik yang perlu diperoleh dari sekolah dan perguruan tinggi adalah pengembangan kapasitas belajar, karena hanya kemampuan semacam itu saja yang dapat memungkinkan siswa atau mahasiswa bertumbuh secara intelektual sepanjang hayat.

Dari sudut pandang di atas akan tampak bahwa proses internasionalisasi persekolahan paling sedikit memiliki dua sisi yang saling terkait. Pertama, penataan secara internal persekolahan. Fokus pada pengembangan kapasitas belajar siswa memerlukan penataan proses pembelajaran yang dipusatkan pada pengembangan kualitas. Dalam hubungan ini diperlukan perencanaan, manajemen, penjaminan, dan pengendalian kualitas secara terpadu.

Sisi kedua adalah sisi makro, yaitu aspek-aspek yang berhubungan dengan penataan sistem nasional. Tentu kepentingan kita bukanlah sekedar melaksanakan pendidikan internasional. Sebab, sekolah berstandar internasinal (SBI) yang memusingkan banyak kepala itu pertama-tama menganjurkan standarisasi dan kemudian internasionalisasi. Banyak asumsi yang dikenal selama ini harus diuji kembali sebab pelaksanaan SBI—jikalau mau benar dan efektif—bukan sekedar mengadopsi sistem internasional, tetapi menginkorporasikan kemampuan kita ke dalam ruang lingkup proses pembelajaran internasional untuk saling memperkaya. Melalui teknologi informasi dan komunikasi global, ranah pendidikan kita telah dan akan semakin diinfiltrasi oleh pendidikan internasional beserta segala nilai pengiringnya. Ketahanan sistem kita akan sangat bergantung pada kemampuan mengelola secara bermakna pengaruh yang masuk dari luar Indonesia.

Oleh sebab itu, dalam melangkah ke depan kita butuh penataan sistem nasional yang:

  • terintegrasi, dimana perencanaan makro, nasional, dan departemental telah memperhitungkan dan mengantisipasi peranan dan kontribusi konkret yang diharapkan dari model-model pembelajaran pada semua aras;
  • terkoordinasi, misalnya dengan memosisikan pendidikan sains, matematika, dan bahasa sebagai landasan dalam prioritas pengembangan basis pengetahuan, untuk menopang prioritas-prioritas pembangunan dan kemajuan bangsa. Kontinum dalam pengalaman pembelajaran di antara berbagai jenjang dan jenis persekolahan tidak hanya turut meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proses pembelajaran, tetapi juga investasi nasional untuk pengembangan daya saing bangsa. Salah satu faktor kunci di sini adalah pengadaan dan pengembangan karir guru serta fasilitas penopang pendidikan yang modern bagi semua anak bangsa dimanapun mereka berada;
  • seimbang, dimana globalisasi dengan tren pendidikan yang “market-driven” amat cocok dengan aspirasi kontemporer siswa dan mahasiswa karena secara langsung dapat dinikmati relevansinya. Walau demikian, “performativitas” atau kompetensi melaksanakan suatu pekerjaan (dalam industri misalnya) dengan tingkat efisiensi yang tinggi tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan secara umum. Keunggulan intelektual (intellectual excellence) menyatu dengan pendidikan yang “knowledge-driven” sehingga ilmu pengetahuan dapat berkembang. Ini membutuhkan pola pikir yang kritis dan merdeka (critical and liberal thinking). Kecendekiaan dan nilai-nilai fundamental kemanusiaan janganlah begitu saja dijadikan “korban bakaran” di atas altar globalisasi dan inovasi. Perimbangan antara “human and social capital formation” amat diperlukan, karena di penghujung proses pendidikan yang “market-driven” maupun “knowledge-driven”, akan ditemukan bahwa persyaratan penting yang diperlukan—agar terjadi interaksi yang berguna antara pendidikan dan pengembangan industri—adalah keunggulan berpikir (thinking excellence);
  • berkelanjutan, karena yang didamba bagi kelestarian pembangunan tidak akan terjadi jikalau sistem itu tidak terintegrasi, tidak terkoordinasi, dan tidak seimbang.

Kompas edisi 3 Mei 2010 memperkenalkan sesuatu yang membanggakan bangsa. Anak Indonesia apabila memperoleh kesempatan dan bimbingan yang benar akan mampu juga menampilkan ide-ide yang besar. Teknologi robotik dihasilkan oleh anak “home-schooling” dan pesantren, sedangkan anak SMP IPIEMS menghasilkan “Nata de Melo” dari kecambah. Sebelumnya kita tahu bahwa anak Papua meraih juara fisika sedunia, dan anak-anak lain silih berganti menjuarai berbagai jenis olimpiade sedunia dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kenyataannya, hasil-hasil gemilang tersebut tidak selalu merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Para siswa tidak menghasilkan karyanya sebagai kegiatan yang langsung terkait dengan pembelajaran sehari-hari. Bukankah mereka bersekolah di “home-schooling” atau memperoleh gemblengan secara khusus—kadang hingga sepanjang tahun—tanpa memperoleh pelajaran yang lain? Belum lagi biaya yang khusus harus dikeluarkan untuk semua itu.

Selama kurikulum masih sarat matapelajaran, selama pembelajaran masih sangat berorientasi pada “prescribed textbook”, selama pemerintah masih terus memberlakukan kurikulum dan kebijakan yang tidak berangkat dari “demand side”, maka pengembangan talenta dan potensi-potensi “luar biasa” akan sukar teraktualisasi secara terencana dan efisien.

WTA School System memungkinkan terobosan. Sistem pembelajarannya yang berbasis penelitian mengintegrasikan belajar dan aktivitas-aktivitas konkret untuk memahami yang teoretik, mendalami konsep yang esensial, menata pengetahuan yang ditemukan beserta klarifikasi dan verikasi terhadap kebenaran dan nilai-nilainya, untuk kemudian mengomunikasikan secara efektif pengetahuan yang dimiliki sebagai pertanggungjawabannya terhadap kepentingan publik. Itulah sebabnya metodologi WTA School System mengintegrasikan proses pembelajaran dan penelitian mengikuti empat langkah kerja yang strategis 4T: telaah, teliti, tata, dan tutur.

WILLI TOISUTA

© Ilustrasi: Ahmad Fuady