Willi Toisuta & Associates dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Papua menyelenggarakan seminar dan workshop bertajuk “Kondisi Keterdidikan Anak Papua” pada 9-11 Februari 2010, di Gedung Sasana Karya Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jayapura. Seminar ini adalah upaya menindaklanjuti hasil penelitian tentang kondisi keterdidikan anak Papua yang telah dilakukan WTA pada 2009 lalu.

Seminar dihadiri perwakilan unsur pemerintah, Depdiknas, Depkes, dan Depdagri, juga para anggota DPRD dengan beberapa komisi terkait di dalamnya. Hadir juga dari unsur perguruan tinggi, LSM, dan masyarakat sipil. Mereka bersama merumuskan rekomendasi-rekomendasi guna perbaikan sektor-sektor penting pendukung keterdidikan anak Papua, antara lain pertumbuhan otak, kondisi gizi dan kesehatan, pendidikan anak usia dini (PAUD) di Papua, pendidikan guru di Papua, strategi pembelajaran di kelas, dan peran serta masyarakat bersama pemerintah dalam mendidik anak Papua.

Seminar hari pertama diawali dengan pemaparan materi dari Gubernur Papua Barnabas Suebu. Sebagai keynote speaker kegiatan ini, Suebu menyampaikan bahwa penelitian keterdidikan ini penting untuk mengawali perbaikan pendidikan di Papua. Oleh sebab itu, tindak lanjut dari penelitian ini perlu segera diimplementasikan melalui program-program yang tepat sasaran.

Kepala Disdikpora Provinsi Papua James Modouw mengemukakan Strategi dan Kebijakan Pengembangan Pendidikan Provinsi Papua Tahun 2007-2011. Kata Modouw, terdapat beberapa masalah pendidikan di Papua, salah satunya adalah kualitas pembelajaran yang masih rendah yang ditandai dengan proses pembelajaran yang didominasi pendekatan teacher-centered. Oleh sebab itu, perlu adanya strategi kebijakan penyelenggaraan in-service teacher trainingtentang pembelajaran multitingkat dan kelas awal untuk guru dan kepala sekolah.

Setelah itu, giliran Agus Sumule memaparkan pengembangan SDM Papua di bidang pendidikan. “Karena potensi SDM pada masing-masing daerah berbeda, sangat berbahaya bila kemampuan semua kabupaten di Indonesia dalam menyelenggarakan pendidikan berkualitas disamaratakan,” kata staf ahli Gubernur Papua ini.

Salah satu masalah serius yang terjadi di Papua adalah kekurangan guru untuk daerah-daerah terpencil. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan model pendidikan semi-asrama untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menurut Sumule, dengan sekolah model semi-asrama, orangtua murid dan masyarakat desa dapat dilibatkan penuh dalam proses pendidikan, sehingga anak Papua dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas.

Materi terakhir pada hari pertama dipaparkan oleh Willi Toisuta, ketua tim pengarah kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa keterdidikan anak Papua berkaitan dengan konsep kompatibilitas. Kompatibilitas adalah kecocokan antara latarbelakang pengalaman anak pada masa pra-sekolah dengan lingkungan pembelajaran pada saat anak masuk sekolah pertama kali. Apabila kompatibel, maka probabilitas keberhasilan anak dalam belajar tinggi. Apabila sebaliknya, maka probablitasnya rendah.

Keterdidikan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain continuum of experience, konteks sosial-budaya-religius, pola asuh, status kesehatan, dan kondisi nutrisi. Paparan ini menjadi materi utama dan merupakan bahan pembekalan bagi para peserta untuk mengikuti seminar berikutnya di hari kedua serta workshop di hari ketiga.

Seminar hari kedua dilakukan dalam bentuk diskusi panel. Lima pembicara mempresentasikan topik-topik yang memiliki korelasi penting dengan keterdidikan anak Papua:

  1. Gunawan Bambang Dwiyanto, Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Depkes, mempresentasikan “Pertumbuhan Otak Anak dan Status Gizi dan Kesehatan Anak Papua”
  2. Gutama, Sekretaris Direktorat Jendral Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas, membawakan topik “Pendidikan Anak Usia Dini di Papua”
  3. Johannes Esomar, peneliti dari Universitas Negeri Manado, membawakan topik “Interaksi Kelas di Sekolah-sekolah Papua”
  4. Conny Semiawan, guru besar Universitas Negeri Jakarta, membawakan topik “Pendidikan Guru di Papua”
  5. Prabawa Eka Soesanta, Kepala Seksi Pengembangan Pelatihan Ditjen Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kementerian Dalam Negeri, mempresentasikan “Peran Serta Pemerintah dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Mendukung Keterdidikan Anak Papua”

Selain kelima pembicara tersebut, dalam panel juga hadir para ahli yang memberi tanggapan dari topik-topik yang telah dipresentasikan. Para penanggap tersebut antara lain Stefanus Manongga (peneliti WTA), Jan Ihalauw (peneliti Universitas Cendrawasih), Festus Simbiak (Pembantu Rektor I Universitas Cendrawasih), dan James Modouw (Kepala Disdikpora Provinsi Papua). Diskusi untuk memperdalam kelima topik tersebut dipandu langsung oleh Willi Toisuta.

Pada hari ketiga dilakukan workshop dimana para peserta dibagi ke dalam lima focused group discussion (FGD) sesuai dengan topik diskusi panel pada hari sebelumnya. Tujuan FGD untuk mendiskusikan permasalahan dan kebutuhan masing-masing sektor kemudian dirumuskan dalam rekomendasi-rekomendasi kebijakan dan rencana aksi pada lima sektor penting penopang keterdidikan anak Papua yaitu: (1) sektor pertumbuhan anak Papua (12 butir rekomendasi); (2) PAUD di Papua (9 butir rekomendasi); (3) strategi pembelajaran di Papua (10 butir rekomendasi); (4) model pendidikan guru di Papua (5 butir rekomendasi); (5) peran serta pemerintah dan masyarakat dalam keterdidikan anak Papua (24 butir rekomendasi).

Keseluruhan rekomendasi dan rencana aksi tersebut diharapkan dapat diperhatikan serta diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan para pemangku kepentingan demi transformasi pendidikan di Papua.

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail