Produk Lainnya

  • Positif Disiplin
    Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli di banyak negara menunjukkan bahwa penggunaan hukuman sebagai bentuk ‘pendisiplinan’ terbukti berdampak negatif bagi perkembangan anak, karena hukuman tujuannya adalah untuk menyakiti, mempermalukan dan mengancam anak. Akibatnya anak menjadi takut dan mengalami trauma, sehingga kreativitas anak menurun, anak mengalami demotivasi belajar. Oleh karena itu, hukuman seharusnya tidak lagi digunakan oleh guru, alternatifnya guru harus melatih siswa agar siswa menjadi anak yang disiplin karena kesadaran sendiri. Disiplin positif adalah pendekatan pedagogi yang didasarkan pada kekuatan dialog yang saling menghargai antara guru dan siswa, membangun pemahaman dan kesadaran siswa untuk bertindak positif dan bertanggung jawab terhadap setiap tindakannya (konsekuensi logis). Dengan melatihkan disiplin positif pada siswa, guru tidak perlu lagi menggunakan kekerasan (melalui hukuman) kepada anak, hal ini akan mengindarkan guru berurusan dengan hukum.
  • Pelatihan Vokasi Berstandar Internasional
    Untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja profesional yang mendukung daya saing industri nasional dan kompetisi global di pasar sumber daya manusia, dimana pendidikan vokasional memainkan peranan yang cukup siknifikan, WTA adalah satu dari sedikit lembaga yang memahami tentang bagaimana pendidikan dan pelatihan vokasional ini dilaksanakan. Belajar dari negara-negara maju yang sudah memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan dan pelatihan vokasional seperti Australia, Jerman, dll, WTA telah mengembangkan alat ukur (tools) untuk melakukan assesmen terhadap lembaga dan program vokasi. Selain melakukan assesmen, WTA juga telah mengembangkan beberapa kurikulum dan pendekatan pelatihan vokasi yang berorientasi pada industri dan kontekstual.
  • Model Pembelajaran 4T
    Model pembelajaran 4T menggunakan pendekatan saintifik (science approch), dirancang oleh Bapak Willi Toisuta, PhD guna menstimulasi dan mengoptimalkan kapasitas belajar dan cara berpikir siswa. Keingintahuan siswa didorong melalui pengamatan/observasi dan pengumpulan data untuk mengklarifikasi kebenaran sains dan mengkomunikasikannya sebagai bagian dari tanggung jawab ilmiah. Metode pembelajaran 4T memiliki 4 (empat) tahapan yang berurutan: Dalam TELAAH, siswa akan merumuskan masalah dan pertanyaan. Lalu dalam tahap TELlTl siswa dipandu untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah yang relevan. Selanjutnya di tahap TATA siswa dipandu menstrukturkan kembali pengetahuan yang baru di perolehnya, melalui diskusi, loka karya, dan debat ilmiah. Akhirnya, pada tahap TUTUR pengetahuan yang baru harus dipertanggungjawabkan pada publik melalui publikasi dan produk inovatif lainnya.