Hasil penelitian kondisi keterdidikan (educability) anak Papua yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua bekerjasama dengan Willi Toisuta & Associates akhirnya dipresentasikan pada Rabu pagi, 28 Oktober 2009, di Gedung Negara Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jayapura.

Presentasi yang berlangsung dari pagi hingga tengah hari dan dihadiri oleh sekitar 50 peserta dari dinas terkait, LSM, dan akademisi dari dalam dan luar negeri, bertujuan untuk menunjukkan temuan-temuan dan analisis tentang kondisi keterdidikan anak Papua yang tersebar di dataran rendah (<100 mdpl), dataran menengah (101-1.000 mdpl), dan dataran tinggi (>1.000 mdpl) Papua.

“Kita mengharapkan untuk tidak cukup hanya dipresentasikan dan diberikan masukan, serta tidak berhenti dalam suatu rumusan-rumusan rekomendasi-rekomendasi tapi juga ditindaklanjuti dalam program-program yang betul-betul ada sangkut-pautnya dan berkesinambungan. Yang kita butuhkan adalah program-program yang menyentuh kebutuhan dasar anak Papua,” demikian harapan Gubernur Papua yang disampaikan dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tedjo Soeprapto.

Temuan dan analisis yang dipresentasikan oleh Willi Toisuta selaku pemimpin dari tim peneliti mengundang sikap optimistik sekaligus pesimistik peserta setelah mengetahui salah satu temuan bahwa 72,52 persen dari 1.481 sampel anak Papua mengalami keterhambatan tahapan perkembangan terutama pada domain bahasa, adaptif motorik halus, dan kepribadian sosial yang secara tidak langsung memberi pengaruh terhadap aspek kognitif anak dan kesiapannya memasuki pendidikan formal. Anak Papua yang memiliki tahapan perkembangan hidup normal sesuai dengan anak-anak seusianya di dunia hanya 27,48 persen.

“Pendidikan anak usia dini di Papua berada pada kondisi krisis,” kata Merv Hyde, konsultan internasional WTA dari University of the Sunshine Coast dan anggota tim peneliti keterdidikan anak Papua, tentang presentasi temuan perkembangan anak Papua yang ditampilkan.

Beberapa rekomendasi yang diusulkan kepada Pemerintah Provinsi Papua, menindaklanjuti temuan kondisi keterdidikan anak Papua adalah sebagai berikut:

  1. Perlu ada kebijakan implementasi peningkatan pertumbuhan dan perkembangan anak secara utuh dan holistik melalui revitalisasi konsep PAUD.
  2. Optimalisasi sistem pendidikan berdasarkan style of learning, local wisdom, dan tumbuh-kembang anak Papua.
  3. Perlu dilakukan studi lanjut tentang local wisdom untuk penyusunan bahan-bahan ajar.
  4. Perlu ada kompatibilitas antara standar minimal sekolah dasar dengan kompetensi guru sekolah dasar.
  5. Perlu dibangun sebuah pusat kajian dan pengembangan pendidikan Papua.

Mengakhiri responnya terhadap presentasi temuan yang ada, Noel Meyers dari Faculty of Science, Health, and Education USC menyemangati sikap pesimistik kondisi educability anak Papua dengan mengatakan, “Penting untuk melihat kondisi sekarang tetapi harus tetap berpikir ke depan. Saya yakin Papua akan menjadi bagian dari masyarakat tercerdas di Bumi ini.”

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail