Positif Disiplin

Salah satu pendekatan dalam menumbuhkan kedisiplinan pada diri siswa tanpa kekerasan adalah disiplin positif. Disiplin positif adalah sebuah pendekatan yang berfokus pada kekuatan tindakan positif. Tujuannya adalah menghasilkan anak yang bertanggung jawab dalam mengelola tindakan mereka sendiri, daripada tergantung pada pihak lain/otoritas (guru, orang tua) untuk mengatur tindakan mereka (Unicef, 2012). Disiplin positif didasarkan pada prinsip dialogis, partisipatoris dan mendorong kemampuan anak dalam mengelola perilakunya secara positif. Dengan disiplin positif karakter positif anak dibentuk sehingga nilai kedisiplinan dibangun secara mandiri bukan melalui kekerasan atau hukuman. Penting bagi guru-guru dan kepala sekolah untuk memahami disiplin positif sehingga dapat mengkonstruksi pembelajaran dan menciptakan lingkungan sekolah tanpa kekerasan. Penerapan disiplin harus dilakukan secara konsisten, karena perubahan perilaku tidak akan terjadi dalam proses yang hanya simultan. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitator yang berperan mendampingi guru dan kepala sekolah sehingga penerapan disiplin positif dapat dilakukan secara konsisten. Penerapan disiplin positif dengan pendekatan fasilitator telah dilaksanakan oleh Unicef bekerja sama dengan Yayasan Nusantara Sejati (YNS) di 40 sekolah di Provinsi Papua dan Papua Barat.

TUJUAN
Adapun tujuan dari pelaksanaan program Model Penerapan Disiplin Positif di Kota Semarang dan Kabupaten Klaten adalah sebagai berikut:

  • Menciptakan model yang efektif dalam penerapan disiplin positif di sekolah-sekolah tingkatan SD-SMP dalam rangka penurunan tindak kekerasan pada anak;
  • Mewujudkan pilot project penerapan disiplin positif di 2 (dua) sekolah di Kota Semarang dan Kabupaten Klaten;
  • Tersedianya pelatih/fasilitator yang mampu melatih dan mendampingi guru, orang tua dan masyarakat dalam pelaksanaan penerapan disiplin positif;

STRATEGI DAN KEGIATAN
Dalam pelaksanaan program Model Penerapan Disiplin Positif di Kota Semarang dan Kabupaten Klaten berikut strategi yang telah diterapkan:

  • Menggunakan teacher training/mentoring system, yaitu dengan menempatkan fasilitator di sekolah sasaran untuk menjalankan peran sebagai mentor. Fasilitator akan berperan dalam melatih, mendampingi (mentoring) dan memonitoring penerapan disiplin positif di sekolah. Setiap sekolah akan didampingi oleh 2 (dua) orang fasilitator, dengan demikian akan ada 4 (empat) orang fasilitator dalam satu wilayah (4 orang di Kota Semarang dan 4 orang di Kabupaten Klaten). Sementara dalam setiap kabupaten/kota, fasilitator tersebut akan didampingi oleh satu orang fasilitator pendamping. Untuk fasilitator pendamping YNS akan bekerja sama dengan Yayasan SETARA di Kota Semarang dan LPA (Lembaga Perlindungan Anak) di Kabupaten Klaten.
  • Sistem pelatihan berjenjang. Tim YNS tidak akan secara langsung melatih guru, tetapi, sesuai dengan pendekatan teacher training/mentoring system, akan melatih beberapa fasilitator melalui training of trainer (ToT). Pelatih Nasional (Tim YNS) akan melaksanakan ToT kepada fasilitator. Fasilitator ini kemudian yang melatih pada guru yang didampingi oleh Pelatih Utama dari YNS.
  • Kegiatan penerapan disiplin positif ini akan diintegrasikan dengan program bullying dari Tim Bullying dari Unicef. Oleh karena itu dalam pelatihan, pendampingan dan beberapa kegiatan lain materi bullying dari Program Pencegahan Bullying Unicef akan diintegrasikan dengan materi disiplin positif dari YNS. Begitu juga pelaksanaan dan budget beberapa kegiatan akan di-cover dalam program pencegahan bullying.