Willi Toisuta merayakan ulang tahunnya yang ke-70 di Sasono Mulyo, Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta. Ulang tahun yang sebenarnya jatuh pada 17 September 2008 baru dapat dirayakan pada 2 November 2008 karena kesibukan Willi.

Para hadirin perayaan ini antara lain adalah Gus Dur (mantan Presiden Republik Indonesia), Sabam Sirait (tokoh PDIP), Luhut Panjaitan (mantan menteri perindustrian dan duta besar Indonesia untuk Singapura), Yacob Tobing (mantan duta besar Indonesia untuk Korea), Jos Luhukay (wakil presiden direktur Bank Danamon), John Titaley (mantan rektor Universitas Kristen Satya Wacana), John Ihalauw (mantan rektor UKSW), dan Kris Herawan Timotius (rektor UKSW).

Tidak ketinggalan tokoh gereja seperti Yemima Krey (ketua Sinode GKI di Tanah Papua), John Ruhulessin (ketua Sinode GPM Ambon), Andreas Yewangoe (Ketua Umum PGI), Samuel Kaihatu (ketua MS GPIB). Sejumlah tokoh pendidikan nasional juga hadir, seperti H.A.R. Tilaar bersama Martha Tilaar, Hamdan Mansour, Winarno Surachmad, Yohanes Surya, serta sejumlah pejabat, pengusaha, sahabat, dan handai taulan.

Perayaan ini diawali dengan ibadah pengucapan syukur yang dipimpin John Titaley. Mengawali khotbahnya, Titaley mengatakan bahwa ini adalah perayaan ulang tahun ke-70 mantan rektor UKSW kedua yang pernah dihadirinya. Yang pertama adalah perayaan ulang tahun ke-70 Sutarno yang diadakan di UKSW. Titaley mengatakan, walaupun perayaan 70 tahun Willi Toisuta dilakukan di Jakarta dan bukan di UKSW, ini tidak menutup fakta bahwa Willi adalah bagian dari UKSW.

Menurut Titaley, Willi Toisuta sudah hadir di UKSW sejak tahun 1957/1958, sebelum Willi menjadi rektor UKSW selama dua periode berturut-turut (1983-1993). Dengan mengambil bahan renungan dari Mazmur 90:10-11, Titaley membahas komitmen, konsistensi, dan kerja keras Willi Toisuta, serta makna mencapai usia 70 tahun. Konsistensi dan komitmen Willi untuk dunia pendidikan begitu besar. Padahal Willi bisa saja mengambil pilihan hidup yang lain, menjadi artis misalnya. Konon, semasa mudanya Willi pernah menjadi juara lomba pop singer tingkat mahasiswa, mengalahkan Bob Tutupoly. Titaley juga mengatakan bahwa dia bisa menjadi seperti sekarang karena didikan Willi. John Titaley adalah salah satu hasil didikan Willi Toisuta.

Eka Simanjuntak sebagai pemrakarsa perayaan ini mengemukakan perumpamaan tentang ayam dan ikan. Menurutnya, jika ayam akan bertelur, seluruh kampung tahu karena ributnya. Padahal ayam itu belum bertelur. Berbeda dengan ikan, bertelur di tempat yang dalam, diam-diam, dan kita baru tahu setelah telur-telur itu menjadi ikan yang banyak. Waktu bertelur, tidak ada yang tahu bahwa ikan itu sedang bertelur. Willi Toisuta diumpamakan sebagai ikan, diam-diam bertelur, tidak ada yang tahu, dan menghasilkan ikan yang banyak.

Puncak perayaan adalah penyerahan kado ulang tahun berupa buku berjudul “70 Tahun Sang Visioner”. Hadiah ulang tahun ini diserahkan oleh H.A.R. Tilaar. Sebelum menyerahkan hadiah, Tilaar mengatakan bahwa sebagai guru dia senang jika muridnya lebih berhasil dari dirinya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Paling tidak, ada dua kelebihan Willi Toisuta dari dirinya. Pertama, Willi pernah menjadi rektor. Kedua, rambut Willi lebih putih dari Tilaar.

Ketika menerima dan membuka hadiah, Willi sempat kaget dan berkata, “Ini sepertinya buku tentang saya, yang ditulis oleh sejumlah manusia. Semoga isinya yang baik saja.” Ferry Karwur sebagai ketua tim penulisan buku mengatakan, “Betapa sulitnya merahasiakan ini dari beliau. Karena itu, setiap orang yang dihubungi untuk menulis diminta untuk tidak mengatakan kepada beliau.” Buku ini merupakan surprise untuk Willi.

Buku setebal 339 halaman ini kemudian secara simbolis diserahkan kepada beberapa orang, dan dibagikan kepada seluruh tamu yang hadir. Jika ada yang membutuhkan, atau ingin memperoleh buku ini, dapat menghubungi Eka Simanjuntak (ekasimanjuntak@iggrd.or.id) atau Ferry Karwur (fkarwur@yahoo.com).

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail