Rektor Universitas Kristen Satya Wacana John Titaley telah menutup dengan resmi kegiatan “Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah Bertaraf Internasional bagi Kepala Sekolah SMP, SMA, dan SMK Provinsi Papua” pada hari Sabtu, 10 September 2011, di Ruang Probowinoto UKSW. Penutupan ini dihadiri oleh 19 peserta pelatihan, Kepala Dinas Dikpora Papua James Modouw, Direktur Willi Toisuta & Associates Eka Simanjuntak, serta beberapa staf pengajar Satya Wacana.

Sejak 1 Agustus 2011 para peserta telah berada di kampus UKSW untuk menjalani 81 sesi pelatihan intensif tentang bahasa Inggris, kepemimpinan, komunikasi, manajemen sekolah, prinsip-prinsip good governance, problem solving dan pengambilan keputusan, analisis SWOT, berpikir kreatif dan inovatif, analisis peluang dan risiko, perencanaan bisnis sekolah, dan penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran. Pelatihan ini merupakan persiapan sebelum para peserta berangkat ke Australia pada 30 September 2011, untuk belajar kepemimpinan pedagogik dan manajemen sekolah di University of the Sunshine Coast, Queensland.

Jeffrie Lempas, ketua tim kerja WTA yang bertugas menangani pelatihan, dalam laporannya menyatakan bahwa selama enam minggu di Salatiga, kemampuan bahasa Inggris peserta telah mengalami kemajuan. Dari tes TOEIC-like di awal dan akhir masa pelatihan, ada sepuluh peserta menunjukkan kenaikan skor signifikan antara 50 hingga 275 poin, dan lima peserta menunjukkan kenaikan sebesar 5 hingga 45 poin. Dua peserta lain tidak menunjukkan peningkatan, sedangkan dua peserta lainnya lagi tidak terukur karena tidak mengikuti tes awal akibat terlambat tiba di Salatiga.

“Kemampuan bahasa Inggris ditingkatkan supaya mereka lebih bisa menyerap ilmu selama di Australia. Sedangkan sesi tentang manajemen sekolah, analisis SWOT, perencanaan bisnis, dan sebagainya itu diberikan supaya konsep dasar mereka sama dengan yang mereka akan pelajari di sana,” kata Jeffrie.

Dalam kesempatan bicaranya mewakili para peserta, Yustinus Raunsai dari SMP Negeri Anotaurei di Yapen mengatakan, “Kami merasa sangat beruntung telah terpilih dari sekian banyak guru di Papua. Program pelatihan ini kalau bisa terus dilaksanakan agar guru bisa meningkatkan mutu pelayanan mereka untuk anak-anak Papua.” Tentang sesi pelatihan bahasa Inggris, Raunsai menyarankan panitia untuk tidak menggabungkan peserta berkemampuan rendah dan tinggi, agar mereka yang kemampuannya masih rendah bisa mengikuti materi dengan lebih baik.

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail