Pengalaman WTA

Program Literasi Papua

Program Penguatan Baca Tulis Kelas Awal mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam menangani kesenjangan pendidikan di Provinsi Papua dan Papua Barat. UNICEF dengan dukungan dari DFAT dalam melaksanakan Pendidikan untuk daerah pinggiran dan pedalaman di Tanah Papua. Dibawah kerjasama antara Program Pemerintah Indonesia dan Program UNICEF tahun 2011 – 2018, program ini didanai oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Pemerintah Australia. Tujuan utamanya yaitu menguji pendekatan yang efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas awal di daerah pedalaman di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Positif Disiplin

Salah satu pendekatan dalam menumbuhkan kedisiplinan pada diri siswa tanpa kekerasan adalah disiplin positif. Disiplin positif adalah sebuah pendekatan yang berfokus pada kekuatan tindakan positif. Tujuannya adalah menghasilkan anak yang bertanggung jawab dalam mengelola tindakan mereka sendiri, daripada tergantung pada pihak lain/otoritas (guru, orang tua) untuk mengatur tindakan mereka (Unicef, 2012). Disiplin positif didasarkan pada prinsip dialogis, partisipatoris dan mendorong kemampuan anak dalam mengelola perilakunya secara positif. Dengan disiplin positif karakter positif anak dibentuk sehingga nilai kedisiplinan dibangun secara mandiri bukan melalui kekerasan atau hukuman.

Program Literasi Sumba Tengah

Program Pendidikan untuk daerah pinggiran dan pedalaman di tanah papua diselenggarakan dengan dua (2) pilar kegiatan utama, yaitu : Sekolah dan Pemerintah yang didukung oleh Pilar masyarakat. Serta memiliki 2 sasaran, yaitu :
Sasaran Utama, yaitu: anak-anak di 120 sekolah dasar di 6 kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat: Kabupaten Biak Numfor, Jayawijaya, Mimika, Jayapura, Manokwari dan Sorong.
Sasaran Intervensi Program ditujukan kepada pembuat kebijakan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, komite sekolah dan masyarakat umum.

Program literasi baca tulis kelas awal di Sumba Tengah merupakan program peningkatan kemampuan membaca di 40 Sekolah Dasar yang dimulai sejak Agustus 2017. Program ini merupakan kerja sama antara WTA/YNS dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Tengah dan UNICEF. Program literasi ini dilatar belakangi oleh tingginya angka buta huruf di Sumba Tengah. Berdasarkan data dari BPS (2017) 10% penduduk di Pulau Sumba tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Studi UNESCO dan Kementerian Pendidikan (2012) juga menunjukkan bahwa Provinsi NTT merupakan salah satu provinsi dengan tingkat buta huruf tertinggi di Indonesia. Studi tersebut juga mengungkap bahwa adanya pola hubungan antara tingkat buta huruf dengan tingkat kemiskinan. Permasalahan literasi merupakan permasalahan yang vital sehingga perlu untuk ditangani secara serius. Program ini juga mendukung upaya Pemerintah Nasional dalam upaya mengurangi kesenjangan antar wilayah dalam bidang pendidikan.

Kegiatan :

  • Pelatihan Penyegaran Fonologi Bagi Fasilitator Literasi.
    Kegiatan pelatihan penyegaran fonologi ini diawali dengan perkenalan. Kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan beberapa soal-soal (pre-test) oleh peserta pelatihan yang bertujuan untuk mengobservasi tingkat pemahaman peserta. Selama 2 hari pelatihan terlihat bahwa semua peserta serius mengikuti setiap tahapan. Peserta sangat antusias dan terlibat secara aktif serta memperlihatkan kerjasama yang baik jika ada sesi diskusi atau kerja kelompok. Peserta juga memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terkait materi tersebut, hal ini menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Pada akhir pelatihan, peserta kembali diberi soal-soal (post test) yang bertujuan untuk melihat tingkat perkembangan pemahaman setiap peserta tentang materi yang telah dilatihkan.
  • Sosialisasi Program WTA Tahun Anggaran 2018.
    Kegiatan di laksanakan di aula pertemuan pemerintah dibuka oleh Kepala Bidang Pendidikan dasar sumba Tengah mewakili Kepala Dinas PPO yang pada waktu bersamaan mengikuti kegiatan penting lainnya. Acara di mulai dengan rangkaian pembukaan (doa, menyanyi lagu kebangsaan dan perkenalan). Materi pertama di sampaikan oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar dengan beberapa pernyataan penting yang mendukung penuh pelaksanaan kegiatan WTA :

    • Meminta untuk memperbaiki pola komunikasi yang tidak berjalan dengan baik pada waktu yang lalu (2017) karena sangat mempengaruhi pencapaian tujuan program WTA. Kabid juga memberikan apresiasi kepada WTA karena dapat menyajikan dan menyampaikan dokumen kerjasama yang di minta sebagai prasyarat pencairan dana dengan cepat.
    • Harapan dari Dinas PPO kiranya dengan hadirnya WTA dapat mengangkat dan menyelesaikan persolan literasi yang masih rendah khususnya di sekolah dasar.

Penelitian

Penelitian Vokasi

Pelatihan Vokasi Berstandar Internasional Untuk mengantisipasi kompetisi global di pasar sumber daya manusia, WTA berkolaborasi dengan penyelenggara pelatihan dari Australia dan Eropa untuk melaksanakan berbagai Pelatihan Vokasi Berstandar Internasional (terutama untuk industri teknologi lanjutan) bagi lembaga-lembaga Indonesia yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, olahraga, transportasi, teknik, parawisata, dan lain sebagainya. Pelatihan-pelatihan tersebut dirancang untuk memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), dilakukan di beberapa lokasi di Indonesiadan dilaksanakan dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia.

Penelitian Educability

Dinas Pendidikan dan Pengajaran Papua merencanakan untuk melaksanakan penelitian tentang kondisi keterdidikan anak Papua. Penelitian ini menggambarkan karakteristik belajar dan perilaku anak pra-sekolah di Papua dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian ini akan digunakan untuk menyusun kurikulum dan metode-metode pembelajaran yang didasarkan atas kondisi dan potensi keterdidikan anak Papua, kurikulum, dan proses pembelajaran yang diyakini akan mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki anak-anak Papua. Hasil penelitian ini juga akan menjadi dasar bagi program pendidikan guru dan tenaga kependidikan di Papua.
Untuk konteks Papua, dalam rangka mewujudkan apa yang disampaikan di atas, maka diperlukan adanya suatu gambaran yang jelas tentang educability anak Papua. Educability ini mencakup karakteristik belajar dan perilaku anak sejak usia pra-sekolah atau anak usia dini dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Karakteristik belajar dan perilaku anak ini paling tidak dipengaruhi oleh 2 hal yaitu;

  1. Faktor sosial budaya, lingkungan hidup, kondisi ekonomi dan lingkungan keluarga (pandangan orang tua terhadap pendidikan, tingkat pendidikan orang tua).
  2. Kualitas hidup anak yang merupakan gambaran/dampak dari pengaruh gizi (nutrisi) pada lingkungan fisik dan sosial (budaya) yang berbeda.

Penelitian ICT Papua

Papua yang berada di Indonesia timur adalah Provinsi dengan populasi sekitar 3 juta jiwa, dengan mayoritas penduduk yang tinggal di lebih dari 3000 desa yang tersebar di seluruh dataran rendah dan dataran tinggi terpencil, rawa dan daerah pesisir. Provinsi Papua umumnya memiliki jalan dan listrik dan infrastruktur telekomunikasi minimal, khususnya di lokasi terpencil. Papua memiliki tingkat kemiskinan, angka buta huruf, dan sekolah non-retensi yang tinggi, mempunyai tingkat keberhasilan terendah dalam ujian nasional (UN). Hasil pendidikan di pedesaan dan daerah terpencil di provinsi Papua adalah yang terendah. Penggunaan TIK telah disorot sebagai sebuah strategi penting untuk mengangkat kualitas proses pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan di Papua. Visi TIK dalam beberapa tahun terakhir semakin difokuskan pada upaya untuk memastikan interkoneksi jaringan internet yang terintegrasi di seluruh Provinsi, Kabupaten dan sekolah. Hal ini membutuhkan bandwidth serat optik wireless broadband yang tinggi, yang tersedia dalam wilayah-wilayah yang dapat diakses atau satelit dengan bandwidth rendah yang dapat beroperasi di tempat-tempat dimana bandwidth serat opti wireless broadband, tidak mungkin disediakan.

Pendekatan pedagogis baru untuk penyelenggaran pendidikan mendukung visi Papua untuk menggunakan TIK dalam pendidikan. Peningkatan kapasitas guru bukan hanya sekedar membangun kompetensi TIK, tetapi fokus pada bagaimana guru dapat menggunakan berbagai jenis pedagogi yang dapat membantu siswa untuk belajar secara kolaboratif, memecahkan masalah (problem-solving), dan menjadi peserta didik yang kreatif dalam mempersiapkan diri menjadi warga abad ke-21 dan memasuki dunia kerja. Dalam UNESCO ICT Competency Framework for Teachers (2011), ada tiga fase kunci yang terlibat:

  1. Melek Teknologi: memungkinkan siswa untuk menggunakan TIK untuk belajar secara efisien,
  2. Pendalaman pengetahuan: membangun keterampilan siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam dan menerapkannya dalam mengatasi masalah-masalah didunia nyata.
  3. Penciptaan pengetahuan: menciptakan pengetahuan baru untuk membangun masyarakat yang sukses dan sejahtera, baik sebagai warga negara maupun pekerja.

Pemetaan dan Evakuasi

Nias dan Nias Selatan

Dalam Pemetaan Kondisi Pendidikan Nias dan Nias Selatan, dilakukan beberapa kegiatan, yaitu: pengumpulan data sekunder dari beberapa sumber, wawancara mendalam, Focus Group Discussion, Seminar Awal. Semua kegiatan tersebut dilakukan secara tersebar diseluruh Kabupaten Nias dan Nias Selatan. Dari hasil kegiatan tersebut, diperoleh beberapa usulan/masukan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kondisi Pendidikan Dasar Menengah yaitu

  • Pelatihan Guru; Program pertukaran guru. (luar Nias); Perlu adanya tambahan insentif bagi guru dari pemerintah/BRR; Meningkatkan nilai beasiswa anak.(Beasiswa anak perlu ditingkatkan menjadi sebesar Rp. 150.000);
  • Sosialisasi program Paket B dan C; Perlu perpustakaan terpusat dan taman bacaan; Memfasilitasi penyusunan kurikulum KTSP (Akan segera dibentuk tim penyusun kurikulum SD/SMP/SMA sesuai dengan KTSP); Perlu sistem dan mekanisme pengangkatan pengawas sekolah; Pemberdayaan SMK. (Misalnya SMK kelautan diberi fasilitas budi daya rumput laut, kepiting dll. SMK pertanian diberikan fasilitas pengembangan tanaman coklat, kelapa, karet, dll. SMK juga perlu di perkuat dengan tenaga ahli dibidang tekhnologi yang berkaitan dengan jurusannya);
  • Program pertukaran pelajar; Training aparat Dinas Pendidikan.

Ambon

  • Pemetaan Kondisi dan Penyusunan Program Utama Pendidikan Kota Ambon Tahun 2008 – 2012
  • In Service Training Kepala Sekolah Jenjang SD s.d. SLTA Kota Ambon 26 Nov. – 1 Desember 2007
  • In Service Training Guru Sains dan Matematika Jenjang SMA Kota Ambon 3 s.d. 7 Desember 2007
  • Presentasi Pengembangan Kurikulum Rintisan Sekolah Dasar Bertaraf Internasional (dari sisi konseptual) dan Penyusunan Silabus. Presentasi sudah dilaksanakan tgl 25 Februri 2008, sedangkan penyusunan silabus kelas 1 dan 4 sudah dikirim ke Ambon,