pendidikan sebagai tindakan misonerSaya akan bertolak dengan pendirian bahwa kata “misioner” yang dipergunakan dalam paparan ini—sesuai dengan permintaan Yapendik GPIB—adalah konsisten dengan kata aslinya, yaitu “missionary”. Dengan demikian, dalam konteks kita, artinya adalah orang atau sekelompok orang yang ditutus (oleh badan tertentu) untuk melaksanakan suatu tugas khusus (mission). Rumusan demikian sesuai dengan pemahaman kita tentang pengutusan untuk mengabarkan Injil oleh para misionaris agama Kristen dari Eropah ke kepulauan di Nusantara ini, ratusan tahun yang lampau. Pengabaran Injil tersebut yang kemudian memungkinkan didirikannya gereja-gereja Kristen dan jemaatnya, yang terus bertumbuh dan kini membentuk umat Kristen di Indonesia. Dalam proses sejarah yang sedemikian, kita dapat mencatat bahwa bukan persekolahan Kristen saja yang telah dipergunakan sebagai wahana ampuh dalam pengabaran Injil. Rumah sakit Kristen dan berbagai badan serta yayasan sosial lainnya juga telah memberi kontribusinya tersendiri.

Sebenarnya sejak permulaan, Pengutusan Agung (Mat. 28:18-20) sudah merupakan suatu misi yang holistik; itu bukan sekedar membebaskan dari kebodohan, atau menyejahterakan dari penindasan dan menyembuhkan dari sakit, apalagi ditambah jaminan asal percaya pada Yesus maka segala keinginan akan dipenuhi. Ditugaskan untuk pergi ke seluruh ujung bumi adalah penugasan masuk ke dalam suatu konteks yang baru. Konteks itu adalah suatu realitas dengan kepelbagian budaya dan agama sesama manusia. Selanjutnya, “menjadikan mereka murid-Ku” menandai kesadaran bahwa mereka adalah “murid dari guru-guru yang lain”. Dalam konteks tersebut, tidak mungkin terjadi suatu relasi yang bermakna apabila mereka yang diutus memberlakukan eksklusivisme yang kaku, dengan menganggap bahwa kepelbagian dalam konteks baru yang dihadapi hanyalah suatu tradisi non-Kristen, dan karenanya perlu dijadikan obyek evangelisasi.

Dalam hubungan dengan pendidikan, misi yang holistik tidak sekedar mengejar pemenangan jiwa sebagai akhir dari kehidupan Kristen. Sebaliknya, pengutusan untuk menjadikan mereka murid-Ku mengharuskan suatu proses transformasi; di satu pihak transformasi diri dan di pihak yang lain transformasi sosial. Jadi, menjadikan mereka murid-Ku adalah juga suatu proses kontekstualisasi nilai-nilai Kristen, sehingga komunitas manusia dalam lingkungan sosial, kultural, spiritual, dan politiknya harus dikaji dan diperhitungkan sebagai bagian yang esensial dari agenda pendidikan. Pekerjaan yang besar ini membutuhkan pondasi yang kokoh, yaitu pemahaman yang sungguh-sungguh teliti, pertama-tama akan konteks dimaksud, terutama adalah konteks kita sendiri, yaitu iman yang akil balig (dewasa) untuk melaksanakan panggilan mengadakan transformasi manusia dan masyarakat. Ini berarti merancang pendidikan untuk tujuan penginjilan saja hanya akan mengerdilkan Pengutusan Agung itu sendiri.

Tantangan Pendidikan Kristen

Jikalau kita telaah secara dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Kristen di Indonesia, dapat dicatat dua fenomena yang telah terjadi dan memiliki kekuatan intervensi secara signifikan. Di samping itu sedang terjadi juga fenomena ketiga yang baru dan amat mempengaruhi masa depan pendidikan Kristen. Fenomena yang terakhir ini, jika ia mampu, dapat mempengaruhi arah perubahan masa depan bangsa, bahkan peradaban.

Fenomena pertama adalah pendidikan dan penginjilan yang dilakukan oleh para misionaris. Perkembangan gereja dan umat Kristen sekarang banyak dipengaruhi oleh masa yang menentukan ini. Fenomena kedua adalah peranan yang telah terjadi sebagai upaya bersama melaksanakan pembangunan bangsa. Apabila upaya ini ingin diekstrapolasikan menjadi sesuatu yang eksplisit, akan tampak peran pendidikan dalam menghasilkan para pemimpin bangsa. Sebenarnya, menghasilkan kelompok elit yang berpartisipasi dan memimpin perubahan nasional sudah dimulai pada masa kolonial. Kita mencatat tentang peran sekolah Kristen dan sekolah guru Kristen yang mendidik pemimpin-pemimpin bangsa dari berbagai daerah dan beragam latar-belakang agama.

Fenomena ketiga kini sedang mewujud, yaitu peran pendidikan Kristen dalam alam globalisasi—seolah-olah ia mengamanatkan “amanat agung” yang tersendiri. Dalam globalisasi sangat dikenal ekonomi berbasis pengetahuan, yang mendorong kekuatan pasar menjadi faktor pemengaruh kehidupan masyarakat informasinya. Salah satu dimensi yang berpengaruh adalah mendekatkan pendidikan dengan tuntutan pasar, sehingga pengetahuan dengan mudah dikemas menjadi komoditi. Implikasinya, keberhasilan pendidikan hanya diukur dalam performativitas, yaitu derajat efisiensi dan efektivitas yang tinggi dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Karena kecenderungan ini, maka kurikulum sekolah dan terutama pendidikan tinggi harus dibuat menjadi sensitif terhadap tuntutan pasar; penelitian terapan dijadikan prioritas dan keberhasilan manajemen diukur dari penggunaan ciri-ciri manajerial dan entrepreneurial. Semua ini membuat kepala sekolah atau rektor universitas Kristen tidak hanya berlagak, tetapi berbicara pun menyerupai CEO.

Inilah konteks yang baru dalam abad ke-21, tetapi pendidikan Kristen tetap harus hadir untuk memberi orientasi yang berpihak pada pengembangan citra manusia yang hakiki. Dalam konteks globalisasi, orientasi pasar amat mendorong lahirnya kompetisi untuk meningkatkan “earning capacity” seseorang. Tidak jarang terjadi, pendidikan dalam era globalisasi sangat mengagungkan pelatihan profesional, dimana pelaksanaan suatu pekerjaan (job) bukan lagi merupakan pemenuhan akan suatu panggilan, tetapi suatu kebutuhan teknikal dan performa yang diukur dengan keterhandalan kerja (fitness to work) dengan imbalan finansial yang menantang. Dalam konteks yang demikian, pendidikan akan menyuburkan “the spirit of self-seeking individualism”. Pendidikan Kristen tidak dapat memberi toleransi kepada perangkap yang membelenggu manusia dalam individualisme dan persaingan kekayaan di antara mereka. Sebaliknya, pendidikan Kristen perlu mengembangkan kapasitas belajar yang berorientasi pada kualitas melalui liberal arts education dan berpikir kritis, bukan mengorbankannya di atas altar inovasi yang didorong oleh kekuatan pasar. Inilah tugas pendidikan Kristen yang emansipatif—“dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).

Makna Pendidikan Kristen Dalam Abad Ke-21

Berpartisipasi dan terutama berperan dalam era globalisasi dan modernitas bukan suatu pilihan bagi pendidikan Kristen. Hanya dengan berproses di dalamnya identitas Kristen dapat diaktualkan (menggarami). Bukan saja ada kewajiban untuk memenuhi persyaratan agar berproses itu dapat menjadi efektif, tetapi lebih dari segalanya adalah memosisikan peran pendidikan Kristen yang profetik secara konkret.

Hal penting pertama di sini berhubungan dengan kehidupan masyarakat informasi berbasis pengetahuan. Anggota komunitas ini memerlukan pengetahuan agar dapat berperan secara efektif di dalamnya. Semakin ia berpengetahuan, semakin terbuka kesempatan baginya untuk berbagi peran, tanggung-jawab, atau terlibat dalam pengambilan keputusan berbasis nalar (knowledge is power). Pendidikan Kristen harus turut berperan untuk memperluas basis memperoleh kesempatan menikmati pendidikan bagi sebanyak mungkin orang, terutama mereka yang marjinal. Dengan demikian pendidikan Kristen akan menerobos kebiasaan membiarkan pendidikan menjadi keberuntungan dari sekelompok elit saja. Dengan memperbesar akses, pendidikan Kristen turut memperbaiki berbagai ketidakseimbangan dalam inter-relasi di antara sesama manusia sebagai akibat dari globalisasi dan modernitas.

Dari perspektif yang lain kita mengetahui bahwa para penguasa pendidikan dapat saja merumuskan konten, metodologi, atau proses pendidikan lainnya untuk mengamankan kebijakan politik, dalam rangka memelihara status quo dari sistem yang mereka jalankan. Sistem ini sudah jelas dapat mengontrol masyarakat berdasarkan landasan ideologi penguasa. Kecenderungan yang tidak demokratis serta sektarian serupa ini menggambarkan ketidakadilan bagi masyarakat luas, sehingga menjadi penting untuk memperjuangkan perubahan kebijakan serupa itu. Demi kepentingan masyarakat luas, kebijakan pendidikan yang berpusat pada status quo perlu diorientasikan kembali menjadi yang mentransformasikan masyarakat luas.

Beberapa Ciri Khas Yang Perlu

Proses yang partisipatif dan demokratik. Dalam masyarakat global dengan sistem ekonominya yang berbasis pengetahuan, proses demokratik dan partisipatoris biasanya digantikan oleh “manajemen”—segala aspek kehidupan seolah-olah menjadi obyek manajemen sebagai bagian dari sistem tata kelola dunia. Hal yang sama terjadi dalam kalangan pendidikan. Bagaimana otonomi institusi pendidikan masih membutuhkan legitimasi secara konkret pun sekarang masih merupakan perjuangan dalam sistem desentraliasi yang sudah formal. Dalam konteks seperti ini, kredensial lembaga pendidikan Kristen harus nampak dengan memberlakukan secara terencana sistem yang demokratik melalui proses pengambilan keputusan yang partisipatif. Ini berlaku juga dalam pelaksanaan sistem pembelajarannya. Gaya manajerial tanpa konsultasi, dialog, dan partisipasi dari guru/dosen dengan siswa/mahasiswa harus ditinggalkan. Jikalau kita mendambakan suatu masyarakat kita menjadi demokratik dan partisipatif, maka itu juga yang harus tercipta sebagai suatu lingkungan kehidupan sehari-hari dimana siswa dan mahasiswa kita hidup dan belajar. Mereka akan membawa tradisi berdemokrasi seterusnya dalam kehidupan bermasyarakat, dan bukan kebanggaan ber-IPK.

Menghargai hak asasi dan harkat kemanusiaan. Apabila sukses, efisiensi, dan profit terus menjadi mantra ampuh dari era globalisasi, maka pelanggaran terhadap hak asasi dapat diterangkan dengan mudah, karena pragmatisme adalah bagian integral dalam inter-relasi kehidupan masyarakat. Kesetaraan di antara manusia harus menjadi fokus dalam proses pendidikan, karena sekolah Kristen adalah benteng yang mempertahankan bahwa harkat kemanusiaan semua orang senantiasa dihormati dan tak seorangpun akan ditindas haknya.

Pengembangan tanggung-jawab etis. Modernitas telah ditandasi oleh ciri indivisualisme yang kuat, dan globalisasi dengan orientasi ekonominya telah memperkuat itu. Telah dikatakan sebelumnya bahwa sebagai akibat dari karakteristik yang demikian, pendidikan turut dipengaruhi untuk mendorong bangkitnya generasi yang saling berkompetisi—jikalau sebelumnya terdapat perbedaan antara “mereka” dan “kami”, budaya baru ini hanya mengenal pembedaan antara sesama kompetitor. Sekolah Kristen tidak dapat turut dalam melahirkan individu yang menyingkirkan “yang lain” melalui kompetisi. Sebaliknya, dalam kerangka amanat Pengutusan Agung, lembaga-lembaga pendidikan Kristen harus menumbuh-kembangkan tanggung-jawab etis dalam masyarakat, fokus pada solidaritas, dan orientasi untuk bermasyarakat melalui semua bentuk pendidikan.

Pendidikan kesadaran sosial dan politik. Dalam konteks “knowledge is power”, pendidikan Kristen mengajarkan “sharing of power” dan proses resolusi konflik. Namun sebaliknya, dalam spirit individualisme dan pragmatisme, globalisasi cenderung membius kesadaran sosial dengan menjauhkan sedapat mungkin proses sosial dan politik dari diskursus masyarakat. Tanpa pengembangan kesadaran sosial dan politik, guru dan siswa hanya menjadi transmiter dan resipien segudang informasi tanpa peduli akan signifikansi sosial dari pengetahuan yang diproduksi itu. Inilah proses yang efisien untuk mempertahankan status quo. Karena itu, pendidikan Kristen perlu menanamkan budaya berpikir kritikal tentang masyarakat dan membebaskan siswa/mahasiswa dari kenaifan sosial dan politik.

Berpihak kepada yang paling hina. “Penghakiman yang terakhir” (Mat. 25) menampilkan secara eksplisit salah satu kriteria tentang identitas Kristen. Yang menjadi fokus dari pelajaran ini adalah pernyataan Yesus bahwa mereka yang diselamatkan adalah yang berbuat sesuatu terhadap orang lain yang identitasnya tidak diketahui, sedangkan mereka yang terkutuk adalah yang tidak mengenal dan tidak berbuat apa yang seharusnya dapat mereka perbuat terhadap orang lain. Jadi diperlukan suatu perbuatan yang sengaja dan langsung bagi yang terhina dan tertindas. Dalam masa yang lampau kita mengenal teori difusi yang menganjurkan suatu pendekatan “trickle-down”. Di sini lembaga pendidikan kita mengutamakan mendidik kalangan elit yang pada waktunya akan mempengaruhi orang-orang lain. Tetapi pengalaman telah membuktikan bahwa pendekatan “trickle-down” dalam pendidikan tidak membawa perubahan yang menjadi tujuannya. Pendidikan Kristen membutuhkan pendekatan yang lebih radikal dengan fokus yang langsung kepada mereka yang terhina dan miskin. Jikalau hal ini tidak terjadi, kita hanya akan menjadi tangan-alat para penguasa dan elit bangsa untuk memaksimalkan kepentingannya. Ciri pendidikan Kristen yang diagungkan adalah dalam kapasitas untuk menciptakan pemimpin dan knowledge workers dari kalangan underprivileged. Mereka ini harus menguasai ilmu pengetahuan agar dapat menjadi kekuatan baru yang dapat mempengaruhi “the forces of change”, bukan sekedar skrup dari roda pembangunan.

Pendidikan yang transformatif. Pendidikan Kristen, secara khusus lagi sekolah dan perguruan tinggi Kristen harus mengumpulkan segala daya dan dana (pooling and sharing of all resources) agar dapat berubah dan layak memenuhi amanat Pengutusan Agung yang holistik, yang sebagiannya diperbincangkan dalam paparan ini. Dalam konteks tersebut, lembaga pendidikan Kristen harus bisa mendemonstrasikan adanya perubahan, dari kepuasan sekarang dalam berbagai upaya perbaikan mutu kepada kesanggupan untuk menerima tanggung-jawab mengadakan transformasi, dalam rangka memenuhi misinya yang holistik. Sekolah yang berhasil dalam upaya transformatif adalah sekolah yang telah berubah secara signifikan, sistematik, berkelangsungan, dan menjamin keberhasilan serta kualitas bagi murid-muridnya. Kegagalan dalam upaya transformasi semacam ini biasanya adalah kegagalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyatukan impak dari empat macam kapital: intelektual, sosial, finansial, dan spiritual.

Dengan sendirinya, kekuatan dan kemampuan memaksimalkan impak dari berbagai kekuatan tersebut amat tergantung kepada apa yang sekarang amat didambakan, yaitu outstanding governance. Bukan sekedar tata kelola yang profesional, kreatif, inovatif, dan kemauan untuk mengambil risiko dalam penerobosan ke dalam new boundaries, tetapi kemampuan menghadirkan iman yang tentunya tidak memaksakan, tidak apologetik, dan tidak kompromistik.

Inilah kerangka pendidikan sebagai tindakan misioner yang holistik dalam abad ke-21.

WILLI TOISUTA

© Ilustrasi: Eddie Eddings

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail