Maraknya kekerasan pada anak saat ini sungguh memprihatinkan semua pihak. Apalagi kekerasan ini justru terjadi di lingkungan sekolah dan pelakunya adalah guru yang pada banyak kasus, mendapat restu dari orang tuanya sendiri. Wujud dari kekerasan yang terjadi di sekolah umumnya adalah hukuman yang diberikan guru kepada siswa atas perilaku yang dianggap tidak tepat atau melanggar aturan. Hal ini terjadi karena masih banyak guru dan orang tua yang percaya bahwa menghukum anak didik adalah salah satu bentuk pedagogi yang baik bagi anak dan kekerasan juga dianggap sebagai cara paling efektif untuk membuat anak menjadi disiplin. Untuk mengurangi praktek kekerasan terhadap anak disekolah Unicef bekerja sama dengan Yayasan Nusantara Sejati (YNS), yang merupakan bagian WTA, mencoba mengimplementasikan pendekatan disiplin positif (positive discipline) bagi guru, siswa dan orang tua.

Untuk itu, Unicef dan IGGRD/YNS mengembangkan program implementasi positif disiplin yang disesuaikan dengan konteks Papua. Program ini dimulai dengan mengadakan pelatihan (ToT) untuk memberikan pemahaman bagi para mentor/pelatih YNS/Unicef tentang disiplin positif. Pelatihan pemahaman ini telah dilaksanakan di hotel Sahid Jayapura pada tanggal 25-27 Juli 2016.

Pada tanggal 02-05 November 2016 yang lalu, bertempat di Hotel D’Green Jayapura, 25 mentor/pelatih YNS/Unicef berkumpul untuk mengikuti pelatihan (ToT) disiplin positif tahap II. Dalam pelatihan ini, mentor/pelatih yang sudah mengikuti pelatihan tahap I, difasilitasi menyusun program pelatihan dan pendampingan yang akan digunakan untuk melatih, mendampingi dan mensupervisi pelaksanaan program disiplin positif oleh guru di 20 sekolah dampingan TNS/Unicef di Kabupaten Jayapura.

Sebelum kegiatan pelatihan dan pendampingan pada guru dilaksanakan, para mentor/trainer diminta untuk menerapkan prinsip-prinsip disiplin positif dalam kehidupannya (proses internalisasi). Ini dilakukan agar para mentor/pelatih dapat membantu/mendorong para guru-guru menerapkan penerapan disiplin positif dengan keteladanan. Hal ini tergambar dari pendapat Ulva Ulivia, salah satu peserta, yang mengatakan, “Pembelajaran yang saya dapat dari pelatihan ini adalah, tanpa saya sadari saya sering melakukan tindakan misbehave sehingga saya sadar sebelum melatihkan disiplin positif pada guru-guru, saya harus memulai dari diri saya sendiri terlebih dahulu.”

Dalam dua hari terakhir, mentor/pelatih diminta untuk menyusun sendiri rencana pelatihan (manual pelatihan) yang akan mereka gunakan ketika melatih para guru. Dengan demikian, ketika memberikan pelatihan dan pendampingan disiplin positif mentor/pelatih dapat melakukannya sesuai dengan konteks sekolah dimana guru tersebut bekerja. Pelatihan ini difasilitasi oleh 3 orang pelatih nasional (YNS) dan beberapa pelatih lokal (pengajar dari Universitas Cendrawasih dan kepala sekolah).

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail