Sebuah model pendidikan berbasis kearifan lokal orang Ambon untuk mendorong modernitas dan rekonstruksi sosial.

Kota Ambon adalah pusat pembelajaran di provinsi Maluku. Di sana terdapat sekolah-sekolah terbaik dan satu-satunya universitas negeri daerah itu. Sistem pendidikannya lumpuh sewaktu konflik bertahun-tahun. Tak hanya bangunan dan fasilitas-fasilitasnya hancur, hingga proses belajar-mengajar di segala tingkat mengalami stagnasi, masyarakatnya secara umum juga tertinggal dalam trauma, kecurigaan, dan banyak orang terlantar di kotanya sendiri.

Walikota Ambon mengusulkan sebuah proses rekonsiliasi untuk rakyat Ambon dan berfokus, dari perspektif jangka panjang, pada pendidikan. Sebuah proses kependidikan berkualitas tinggi harus terpasang dalam atmosfer harmoni pada konteks sosial yang spesifik dan orisinal—inklusivitas, keterbukaan pikiran, dan toleransi persaudaraan keluarga besar. Kearifan lokal yang begitu, yang telah diketahui dan dilaksanakan rakyat Ambon, harus direvitalisasi agar menjadi dasar dan desain baru bagi proses belajar-mengajar, supaya itu dapat berkontribusi dan mendorong modernitas serta rekonstruksi sosial.

Ini akan menyentuh isi dan pendekatan dalam proses belajar-mengajar untuk sekolah-sekolah dasar dan menengah. Atas bantuan UNDP, sebuah proyek jangka pendek dilaksanakan di tahun 2001-2003 dengan fokus pada peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran serta bantuan untuk perlengkapan dan beberapa rekonstruksi fisik bagi satu SMA. Empat SD, dua SMP, dan satu SMA terpilih untuk mendapat bantuan proyek itu.

Ke depan, sebuah visi dan pendekatan untuk jangka yang lebih panjang akan dibutuhkan dan diusulkan untuk menerapkan prinsip dan praktik “Pedagogi Orang Basudara” (POB).

Model POB itu, pertama-tama, akan punya sebuah komponen penelitian. Ini untuk menelaah secara mendalam kearifan lokal yang berkaitan dengan nilai-nilai sosial, kultural, dan religius yang dipercaya dan dilaksanakan orang Ambon sebagai dasar dan tradisi dalam praktik mendidik anak, serta pendidikan keluarga, bagi pengasuhan semua anak Ambon.

Fokus penelitian yang demikian, saya harap, akan membantu kita untuk memahami corak kognitif, pola pikir, dan perilaku belajar anak-anak sehingga, dalam pengertian yang lebih luas, itu akan menjadi penelitian penting tentang keterdidikan anak-anak Ambon. Dalam konteks ini, konsep keterdidikan dimengerti sebagai potensi atau probabilitas pembelajaran dalam sebuah latar kelas formal. Oleh sebab itu, pertanyaan tentang bagaimana pengalaman kanak-kanak di sini dapat menjadi faktor berpengaruh bagi keberhasilan belajar di sekolah.

Telah diketahui bahwa faktor-faktor seperti praktik pengasuhan anak, hubungan antar-keluarga, penggunaan bahasa ibu pada satu sisi, dan nilai serta konteks sosial dan kultural pada sisi lain, sangat menentukan arah perkembangan anak. Masuk ke situasi sekolah dengan latar belakang yang berpengaruh demikian membuat kecocokan menjadi penentu penting yang tak dapat dihindari selanjutnya. Jika latar belakang pengalaman anak tersebut cocok dengan harapan dan ketentuan sekolah formal, maka probabilitas pembelajaran menjadi tinggi. Sebaliknya, jika latar belakang pengalamannya tak cocok, atau hanya sedikit memenuhi harapan sekolah, maka kesempatan terjadinya pembelajaran efektif menjadi rendah.

Sementara faktor-faktor itu penting untuk menggenjot pembelajaran bermutu tinggi, agar anak-anak Ambon dapat dipersiapkan untuk hidup efektif dalam masa depan masyarakat yang modern, POB harus juga mendorong rekonstruksi sosial. Revitalisasi nilai-nilai dan kearifan lokal akan menjadi dasar untuk membangun, di antara anak-anak, rasa kemasyarakatan yang bebas dari prasangka, ketidakadilan, polarisasi keagamaan, dan kemiskinan material serta intelektual. Inilah proses pendidikan untuk membantu anak-anak memahami serta berpartisipasi dalam resolusi konflik dan, oleh sebab itu, merupakan pencerahan dalam hubungan sosial, personal, kultural, dan religius. Sebuah kurikulum perdamaian harus difokuskan pada proses internalisasi kultural—dengan demikian, itu akan sekaligus membangun kapasitas intelektual dan memperkuat kultur kebersamaan. POB, karena itu, akan menganggap rasa cinta damai sebagai satu bagian integral dalam menghasilkan anak Ambon yang belajar dan setia lewat pendidikan.

Sebagai konsekuensi, sistem sekolah dan para guru harus merancang sebuah model untuk menggenjot potensi pembelajaran siswa. Tidak akan ada pembelajaran yang nyata kecuali aspek ini diperlakukan sepantasnya. Kurikulum POB akan secara serius menginkorporasikan latar belakang si anak dengan nilai-nilainya.

Sejauh ini, kurikulum sekolah Indonesia belum menyentuh dimensi-dimensi tersebut. Rantai yang terputus ini akan disambung oleh POB. POB akan secara kontekstual membangun tiga tonggak yang saling berkaitan untuk sekolah-sekolah di Ambon: (1) deskripsi proses pembelajaran; (2) resep, atas dasar tonggak pertama, bagi teori instruksional; (3) desain instruksional dan rekomendasi mengenai metodologi sebagai bagian pembelajaran baru yang menginkorporasikan “kebersamaan” dalam dan lewat pembelajaran bagi anak-anak Ambon.

POB juga akan meninggalkan tradisi kurikulum yang sudah terlalu sumpek untuk memberi jalan bagi pendekatan yang dapat mengintegrasikan secara bermakna domain kognitif, afektif, dan performa dalam pengajaran dan pembelajaran. POB harus terarah kepada pemikiran rasional dan menyisihkan sektarianisme yang akan memacetkan demokrasi dan modernitas.

WILLI TOISUTA

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail