Setelah satu setengah bulan lebih belajar di University of the Sunshine Coast atas kerjasama International Projects Group USC, Willi Toisuta & Associates, dan Pemerintah Provinsi Papua, akhirnya 19 kepala sekolah dan wakil kepala sekolah dari Papua berhak menerima sertifikat short course (kuliah pendek) dari USC, Queensland, Australia.

Sertifikat ini diserahkan langsung oleh Direktur IPG USC Merv Hyde di aula USC belum lama ini. Acara penyerahan sertifikat ini dirangkai dengan pelepasan para kepala sekolah dan wakil kepala sekolah asal Papua dan disaksikan Deputy Vice-Chancellor USC Birgit Lohmann, Alison Atwell (Academic Advisor IPG), Bill Allen (Programs Leader IPG), Direktur WTA Eka Simanjuntak, para host, serta dosen-dosen USC.

Merv Hyde mengaku sangat bangga dan bahagia ketika melihat kepala sekolah dan wakil kepala sekolah asal Papua berhasil menyelesaikan proses perkuliahan selama satu setengah bulan di USC dengan sukses. “Saya melihat animo kepala sekolah dan wakil kepala sekolah untuk belajar di USC cukup tinggi, bahkan selama proses perkuliahan mereka belajar secara sungguh-sungguh dan tekun di USC,” kata Merv saat berbincang dengan Papua Pos usai acara pelepasan peserta kuliah pendek manajemen kepemimpinan sekolah di USC.

Merv mengaku cukup memahami dunia pendidikan Indonesia, khususnya menyangkut pendidikan di tanah Papua. Pasalnya, ia pernah menjadi penasihat Menteri Pendidikan Indonesia pada era Wardiman Djojonegoro. Ia juga mengaku telah bekerja selama 35 tahun di berbagai provinsi di Indonesia.

Ia mengatakan, sebelum pihaknya menggarap IPG, ia bertemu dengan WTA yang mengajak dirinya untuk terlibat dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di tanah Papua. Pada saat itu, tahun 2007, Gubernur Papua Barnabas Suebu ingin menggalakkan pendidikan di Papua agar bisa lebih maju.

WTA menawarkan kepada dirinya untuk mengerjakan proyek peningkatan mutu pendidikan di tanah Papua. Tawaran ini diterimanya sehingga di tahun 2007 itu ia datang ke Papua untuk melakukan riset demi mengetahui apa sebenarnya yang dibutuhkan rakyat, khususnya menyangkut pengembangan pendidikan di Papua.

Pada saat melakukan riset, ia bertemu dan berbicara dengan guru-guru, wakil kepala sekolah, kepala sekolah, bahkan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemangku pendidikan dan kesehatan di tanah Papua. “Antara dunia pendidikan dan kesehatan tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berkaitan. Kalau manusianya tidak sehat atau sakit-sakit, bagaimana kita mengembangkan SDM?” katanya.

Untuk peningkatan SDM Papua, ia mengharapkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru-guru yang telah mengikuti kuliah pendek di USC dapat menerapkan ilmu yang diperolehnya selama perkuliahan. “Sekarang bola ada di tangan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru. Mereka mau tidak melakukan perubahan? Perubahan pendidikan di tanah Papua sekarang ada di tangan kita, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru, serta pemangku lainnya,” tandasnya.

Dengan adanya kerjasama WTA, Pemerintah Provinsi Papua, dan IPG ini, lebih kurang 100 orang tenaga pendidikan dari Papua telah menyelesaikan kuliah pendek di USC, belum lagi guru-guru dari Papua Barat, yang jumlahnya 20 orang, belum lama ini telah menyelesaikan kuliah pendek di USC juga.

Selain program penguatan sekolah di Papua, kata Merv, pihaknya akan memasukkan teknologi baru bagi guru-guru di Papua sehingga pendidikan di tanah Papua bisa lebih maju. “Kita ada program bantuan laptop sebanyak 200 unit kepada guru-guru khusus untuk guru-guru SD. Jadi ini yang menjadi komitmen kami dengan WTA untuk membantu rakyat Papua lewat pengembangan pendidikan,” paparnya.

Sementara itu, Academic Advisor IPG Alison Atwell menilai bahwa selama mengikuti kuliah pendek di USC, para kepala sekolah dan wakil kepala sekolah sangat antusias untuk belajar, bahkan mereka cukup kreatif mengembangkan materi-materi yang diberikan oleh para dosen di USC. “Saya cukup bangga melihat saudara-saudara saya yang terkasih dari tanah Papua. Mereka selama satu setengah bulan lebih belajar dengan penuh semangat dan setia mengikuti materi perkuliahan manajemen kepemimpinan sekolah di USC,” kata Alison yang mengaku mengerti sedikit-sedikit bahasa Indonesia.

Menurutnya, model belajar yang diterapkan kepada para kepala sekolah dan wakil kepala sekolah adalah belajar teori di kelas, kemudian mereka turun ke lapangan untuk praktik langsung ke sejumlah sekolah di Brisbane. “Saya melihat interaksi mereka cukup bagus. Apa yang dipelajari di sekolah dan hasil praktik di lapangan dievaluasi di kampus. Jadi waktu belajar di kampus lima hari dan satu hari dipakai untuk mengevaluasi sejauh mana aplikasi ilmu yang diperoleh di kampus dan di lapangan,” paparnya seraya menambahkan bahwa dirinya pernah bekerja di Indonesia selama 14 tahun, bahkan tesis doktornya di Lombok.

Jadi bicara tentang konteks dunia pendidikan di Indonesia, ia mengaku cukup mengerti karena sudah cukup lama bekerja di Indonesia. “Jadi komitmen saya untuk mengembangkan pendidikan di Papua tidak perlu diragukan. Oleh karena itu saya menaruh harapan yang cukup besar, setelah kepala sekolah dan wakil kepala sekolah kembali ke Papua harus ada perubahan,” pintanya.

“Saya mau kelak, dalam sisa hidup saya akan datang ke Papua untuk melihat langsung apakah ada perubahan atau tidak, meskipun saya sadar untuk mengubah pola manajemen dan pendekatan belajar kepada anak-anak butuh waktu dan proses. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi mereka. Contoh kecil saja, WC di sekolah harus bersih. Karena saya lihat sekolah-sekolah di Indonesia, WC tidak bersih. Hal seperti inilah yang perlu diperhatikan,” katanya.

Jadi selain memecahkan persoalan yang mereka hadapi saat kuliah, para kepala sekolah, wakil kepala sekolah, maupun guru-guru yang kuliah pendek di USC didorong untuk melakukan perubahan-perubahan kecil di sekolah masing-masing. Apalagi menyangkut kebersihan dan disiplin.

Direktur WTA Eka Simanjuntak menjelaskan awal kerjasama WTA dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua. WTA menawarkan kerjasama pada kepala dinas tersebut untuk melatih guru-guru Papua di Australia. Pada saat itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua James Modouw mengatakan bahwa biayanya mahal.

“Lantas kita mengatakan bahwa biaya tidak mahal karena ada fasilitas beasiswa dari Pemerintah Australia (ALAF). Namun untuk mengakses fasilitas dana tersebut, kita harus punya rekan kerja di Australia. Kemudian WTA menawarkan untuk mencarikan salah satu lembaga di Australia untuk melatih dan mencari dana pelatihan bagi guru-guru dari Papua. Pada waktu itu saya dan Pak James Modouw datang ke Australia untuk bertemu dengan rektor USC. Kemudian kita jelaskan kedatangan kita, ternyata disambut hangat oleh rektor USC. Setelah selesai, kita mulai rekrut guru-guru di Papua dan diseleksi oleh WTA. Sesudah diseleksi, nama-nama itu diajukan kepada ALAF dan disetujui oleh AusAID. Kemudian guru-guru dikirim ke IALF Bali untuk dilatih bahasa Inggris. Setelah tiga bulan di Bali, guru-guru dikirim USC,” tutur Eka.

Kerjasama ini dimulai pada tahun 2008, kemudian tahun 2009, 2010, dan 2011. Papua adalah provinsi Indonesia yang pertama kali memanfaatkan dana ALAF dan dana otonomi khusus untuk melatih guru-gurunya. Konon, Papua adalah provinsi yang paling getol mengirimkan guru-guru untuk mengikuti kuliah pendek di Australia. Pada bulan September 2010, USC memberikan gelar doktor honoris causa kepada Gubernur Papua Barnabas Suebu.

Sumber: Papua Pos

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail