01 January 2017

Program Penerapan Disiplin Positif

Hasil Penelitian Plan International dan ICRW menunjukkan bahwa 84 persen perlajar pelajar di Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah (ICRW,2015). Hal senada dikemukakan oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) bahwa tren kekerasan pada anak meningkat tajam dari tahun ke tahun . KPAI mencatat sekitar 1700-an kasus kekerasan pada anak setap tahunnya . Pelaku kekerasan ini adalah guru sendiri. Kekerasan yang dilakukan guru pada siswa dibungkus dalam praktek pedagogi bernama hukuman. Hukuman digunakan sebagai metode pendisiplinan pada siswa. Guru dan orang tua meyakini bahwa penggunaan hukuman fisik sangat efektif dalam mengembangkan perilaku anak/sisanya. Namun hasil penelitian justru menunjukkan bahwa hukuman fisik menimbulkan dampak negatif bagi anak seperti putus sekolah, terhambatnya perkembangan anak, rasa tidak aman rendahnya kreatifitas bahkan kematian (Durrant, 2005). Kondisi-kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat kekerasan pada anak sudah sampai pada titik yang sangat mengkhawatiran.

Salah satu pendekatan dalam menumbuhkan kedisiplinan diri siswa/anak tanpa kekerasan adalah disiplin positif. Disiplin positif adalah pendekatan yang berfokus pada kekuatan tindakan positif. Tujuannya adalah menghasilkan anak/ siswa yang bertanggung jawab dalam mengelola tindakan mereka sendiri, tanpa harus bergantung pada pihak/otoritas lain (guru, orang tua) utuk mengatur tindakan mereka (Unicef, 2012). Disiplin positif didasarkan pada prinsip dialogis, partisipatoris, dan mendorong kemampuan anak dalam mengelola perilakunya secara  positif. Dengan disiplin positif karakter positif anak/siswa akan dibentuk sehingga nilai kedisiplinan dibangun secara mandiri bukan melalui kekerasan atau hukuman.

Penting bagi guru-guru dan kepala sekolah untuk memahami disiplin positif sehingga dapat mengkonstruksi pembelajaran secara konsisten dan simultan dan menciptakan lingkungan sekolah tanpa kekerasan.

Yayasan Nusantara Sejati (YNS) menyusun suatu modul materi pelatihan bagi guru,kepala sekolah, komite sekolah,orangtua dan  tokoh-tokoh masyarakat yang  berkepentingan dengan isu kekerasan terhadap anak, atas permintaan dan bersama dengan UNICEF, yang kemudian sudah digunakan sebagai acuan bagi UNICEF dan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Pelatihan Anak) untuk melatih guru-guru/Kepala Sekolah dan Komite Sekolah  di seluruh Indonesia.

Aktivitas-aktivitas utama dalam program penerapan Displin Positif ini adalah Pelatihan Guru  (dengan  aktivitas pendampingan dan monitoring), serta Training of Trainer (TOT).