01 October 2016

Penerapan Disiplin Positif di Provinsi Papua dan Papua Barat

Salah satu pendekatan dalam menumbuhkan kedisiplinan pada diri siswa tanpa kekerasan adalah disiplin positif. Disiplin positif adalah sebuah pendekatan yang berfokus pada kekuatan tindakan positif. Tujuannya adalah menghasilkan anak yang bertanggung jawab dalam mengelola tindakan mereka sendiri, daripada tergantung pada pihak lain/otoritas (guru, orang tua) untuk mengatur tindakan mereka (Unicef, 2012). Disiplin positif didasarkan pada prinsip dialogis, partisipatoris dan mendorong kemampuan anak dalam mengelola perilakunya secara positif. Dengan disiplin positif karakter positif anak dibentuk sehingga nilai kedisiplinan dibangun secara mandiri bukan melalui kekerasan atau hukuman.

Penting bagi guru-guru dan kepala sekolah untuk memahami disiplin positif sehingga dapat mengkonstruksi pembelajaran dan menciptakan lingkungan sekolah tanpa kekerasan. Penerapan disiplin harus dilakukan secara konsisten, karena perubahan perilaku tidak akan terjadi dalam proses yang hanya simultan. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitator yang berperan mendampingi guru dan kepala sekolah sehingga penerapan disiplin positif dapat dilakukan secara konsisten. Penerapan disiplin positif dengan pendekatan fasilitator telah dilaksanakan oleh Unicef bekerja sama dengan Yayasan Nusantara Sejati (YNS) di 40 sekolah di Provinsi Papua dan Papua Barat.