14 October 2018

Pelatihan 4T Bagi Guru SMP di Propinsi NTT

Hasil Ujian Nasional tahun 2017, Provinsi Nusa Tenggara Timur memperoleh rerata nilai 51.56% (https://puspendik.kemdikbud.go.id/hasilun/). Meskipun sudah berada diatas rerata nasional, diharapkan angka ini meningkat terutama untuk Matematika dan IPA yang masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Berbeda dengan hasil UN, Indonesia National Assesment Program  (INAP) SD pada tahun 2016 untuk NTT masih berada dibawah Nasional yaitu memperoleh nilai “kurang” sebesar 65.2%, 77.48%, dan 77.36%, untuk masing-masing kemampuan baca, matematika dan sains (https://puspendik.kemdikbud.go.id/inap-sd/). Soal INAP ini mengacu pada soal PISA dan TIMSS yang relevan mengukur kualitas berpikir siswa.

Berdasarkan kualitas input (INAP SD) dan output (UN SMP), maka para siswa NTT memerlukan penguatan di bidang matematika dan sains secara signifikan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, maka ada dua hal utama yang perlu di perhatikan yaitu kualitas guru dan kurikulum. Kurikulum dalam hal ini secara spefisik tentang pendekatan pembelajaran yang efektif. Dengan demikian, dilakukan Program Pengembangan Kapasitas Guru Sains dan Matematika Sekolah Menengah Pertama Propinsi Nusa Tenggara Timur. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur (dalam hal ini Dinas Pendidikan Propinsi Nusa  Tenggara Timur) dengan Universitas Kristen Artha Wacana dan PT Wacana Tata Akademika. Ada empat kapasitas utama yang menjadi tujuan utama program yakni: konten atau penguasaan materi pembelajaran, pedagogi, teknologi dan penguasaan Bahasa Inggris. Terdapat  dua kegiatan utama program yaitu Training of Trainer dan Pelatihan Guru.

Untuk peningkatan kapasitas konten dan pedagogi, guru dikenalkan dengan model pendekatan saintifik untuk pembelajaran matematika dan sains yang dikembangkan oleh Dr.(HC). yang disebut dengan 4T (Telaah-Teliti-Tata-Tutur). Model ini efektif untuk menstimulasi  dan mengoptimalkan kapasitas belajar  dan cara berpikir siswa. Keingintahuan siswa didorong melalui pengamatan/observasi dan pengumpulan data untuk mengklarifikasi kebenaran sains dan mengkomunikasikannya sebagai bagian dari tanggung jawab ilmiah.

Dalam TELAAH, siswa akan merumuskan masalah dan pertanyaan. Lalu dalam tahap TELlTl siswa dipandu untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah yang relevan. Selanjutnya, di tahap TATA siswa dipandu menstrukturkan kembali pengetahuan yang baru di perolehnya, melalui diskusi, loka karya, dan debat ilmiah. Akhirnya, pada tahap TUTUR pengetahuan yang baru harus dipertanggungjawabkan pada publik melalui publikasi dan produk inovatif lainnya.