Produk Kami

Pembelajaran 4T

Model pembelajaran 4T menggunakan pendekatan saintifik (science approch), dirancang oleh Bapak Willi Toisuta, PhD guna menstimulasi dan mengoptimalkan kapasitas belajar dan cara berpikir siswa. Keingintahuan siswa didorong melalui pengamatan/observasi dan pengumpulan data untuk mengklarifikasi kebenaran sains dan mengkomunikasikannya sebagai bagian dari tanggung jawab ilmiah. Model pembelajaran 4T memiliki 4 (empat) tahapan yang berurutan, yaitu:

  • TELAAH, siswa akan merumuskan masalah dan pertanyaan.
  • TELlTl, siswa dipandu untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah yang relevan.
  • TATA, siswa dipandu menstrukturkan kembali pengetahuan yang baru diperolehnya, melalui diskusi, loka karya, dan debat ilmiah.
  • TUTUR, pengetahuan yang baru harus dipertanggungjawabkan pada publik melalui publikasi dan produk inovatif lainnya.

Disiplin Positif

Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli dibanyak negara menunjukkan bahwa penggunaan hukuman sebagai bentuk ‘pendisiplinan’ terbukti berdampak negatif bagi perkembangan anak, karena hukuman tujuannya adalah untuk menyakiti, mempermalukan dan mengancam anak. Akibatnya anak menjadi takut dan mengalami trauma, sehingga kreativitas anak menurun, anak mengalami demotivasi belajar. Oleh karena itu, hukuman seharusnya tidak lagi digunakan oleh guru, alternatifnya guru harus melatih siswa agar siswa menjadi anak yang disiplin karena kesadaran sendiri. Disiplin positif adalah pendekatan pedagogi yang didasarkan pada kekuatan dialog yang saling menghargai antara guru dan siswa, membangun pemahaman dan kesadaran siswa untuk bertindak positif dan bertanggung jawab terhadap setiap tindakannya (konsekuensi logis). Dengan melatihkan disiplin positif pada siswa, guru tidak perlu lagi menggunakan kekerasan (melalui hukuman) kepada anak, hal ini akan mengindarkan guru berurusan dengan hukum.


Literasi Berbasis Fonik

Literasi baca tulis merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang karena dalam ranah akademis maupun non akademis mensyaratkan bukan sekedar komunikasi lisan melainkan juga komunikasi tulisan. Selain itu literasi baca tulis merupakan syarat untuk seseorang mampu cakap dalam literasi lainnya, seperti literasi numerasi, literasi budaya dan yang lainnya. WTA/YNS dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi baca tulis menggunakan metode fonik dengan pendekatan berimbang, atau yang lebih dikenal dengan istilah literasi fonik ini menawarkan 4 keterampilan literasi yang perlu dikuasasi melalui pengajaran 9 komponen literasi.

Empat keterampilan literasi yang dimaksud adalah: D(dengar) U(ucap) B(baca) T(tulis). Empat keterampilan literasi ini diperlukan agar seseorang dapat melakukan komunikasi yang bermakna baik secara lisan maupun tulisan. Empat keterampilan ini akan dicapai melalui pengajaran 9 komponen literasi fonik yaitu:

  • Kesadaran cetak: merupakan pengenalan sistem fungsi cetak, penekanannya adalah bahwa tulisan memiliki fungsi dan aturan.
  • Fonologi: merupakan pengenalan tentang bunyi-bunyi bahasa, pemahaman bahwa bunyi kata merupakan kumpulan dari bunyi-bunyi kecil yang dirangkai menjadi bunyi yang memiliki makna.
  • Pengetahuan Abjad: merupakan pengajaran tentang bunyi, nama dan bentuk huruf, pada komponen ini peserta didik diajarkan untuk menghubungkan bunyi dengan simbol yang mewakilinya (bentuk huruf).
  • Fonik: merupakan pengajaran untuk merangkai bunyi kecil menjadi bunyi suku kata dan bunyi kata sampai pada bunyi kalimat sehingga dapat menjadi bunyi yang memiliki makna. Pada komponen ini siswa sudah dapat membaca dan menulis secara teknis.
  • Kosakata dan Pemahaman: merupakan pengajaran tentang perbendaharaan kata yang diajarkan beserta maknanya sehingga peserta didik mampu menangkap pesan dari bacaan secara utuh.
  • Tata Bahasa dan Menulis: merupakan pengajaran tentang aturan-aturan dalam penulisan sehingga peserta didik dapat menyampaikan gagasan melalui tulisan secara tepat.
  • Berbicara: merupakan pengajaran yang melatih keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi secara lisan sehingga dapat berkomunikasi secara efektif dan menarik.

Pelatihan Vokasi Berstandar Internasional

Untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja profesional yang mendukung daya saing industri nasional dan kompetisi global di pasar sumber daya manusia, dimana pendidikan vokasional memainkan peranan yang cukup signifikan, WTA adalah satu dari sedikit lembaga yang memahami tentang bagaimana pendidikan dan pelatihan vokasional ini dilaksanakan. Belajar dari negara-negara maju yang sudah memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan dan pelatihan vokasional seperti Australia, Jerman, dan negara maju lainnya, WTA telah mengembangkan alat ukur (tools) untuk melakukan penilaian terhadap lembaga dan program vokasi. Selain melakukan penilaian, WTA juga telah mengembangkan beberapa kurikulum dan pendekatan pelatihan vokasi yang berorientasi pada industri dan kontekstual.