campus ministry pic

Preambul

Konsep campus ministry (CM) dalam skenario ini adalah “nurturing as well as empowering, on the basis of the Christian faith”, kapasitas dari sebuah perguruan tinggi sebagai masyarakat akademik agar mencapai:

Excellence (knowledge and skills of talented professionals—konsep tentang “excellence” dalam konteks CM ini adalah knowledge-driven dan karenanya tentu research-based. Selanjutnya, konsep tentang “talented professionals” hendaknya dipahami dalam konteks: (a) profesionalisme, yakni menuntut pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan menjamin performativitas (efficient performance dalam dunia kerja); (b) pengembangan kapasitas belajar mahasiswa sebagai aktualisasi dari “imago Dei”. Karena konsep yang serius ini, peran CM adalah meningkatkan status dari quality improvement perguruan tinggi Kristen kepada pencapaian kapasitas transformatif sebagai suatu institusi yang mendemonstrasikan “Christian presence” dalam pendidikan tinggi)

Leadership (sebagai bagian dari pembentukan modal sosial untuk pengembangan civil society)

Stewardship (menghidupkan dan memberlakukan budaya dan nilai-nilai spiritual untuk menyelaraskan pengadaan dan penggunaan semua sumber-daya finansial dan non-finansial bagi satu prioritas utama, yakni terlaksananya pembelajaran yang bermutu tinggi—proses pembelajaran sebagai suatu ethical imperative, yaitu pelaksanaan proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh dan tuntas)

Dengan demikian, CM didesain sebagai suatu proses pendidikan dan pembinaan dalam rangka mewujudkan kehadiran Kristen (Christian presence) dalam kampus secara berkelanjutan. CM bukan sekedar sebuah kumpulan doa, bernyanyi dan mendengar khotbah para pendeta. CM adalah “nafas” kehidupan iman dalam eksistensi sebuah perguruan tinggi Kristen; bagaimana memerankan nilai-nilai spiritual untuk menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan. Jadi, memberi warna yang khas kepada etos kerja para pelaku pembelajaran dan perilaku organisasi suatu perguruan tinggi Kristen yang bermutu bagi setiap mahasiswa (high quality and high equity).

Berdasarkan paparan di atas, maka esensi CM perlu diterjemahkan ke dalam berbagai program dan aktivitasnya. Berbagai gagasan akan dikemukakan sebagai referensi. Para pendeta CM perlu memperbincangkan desain mereka secara realistis dan memikirkan bagaimana menerapkannya.

Berikut di bawah ini adalah satu di antara berbagai upaya programatik (yang masih perlu disempurnakan) untuk mewujudkan nota konsep ini. Dengan sengaja program-program diklasifikasi secara hirarkis, mulai dengan kategori yang tertinggi, yaitu program induk (tema program utama), kemudian diterjemahkan ke dalam kategori program utama, lalu dijabarkan ke dalam berbagai kategori program, dan akhirnya kepada kegiatan atau aksi program sebagai basis untuk mengusulkan/merancang anggaran.

Gunanya hirarki semacam ini adalah agar kita dapat mulai dari ideal-ideal (kadang-kadang merupakan terjemahan langsung dari visi dan misi perguruan tinggi kita). Hanya pendekatan begini dapat membuat kita lebih taat prinsip dalam pemrograman sampai kepada aksi program, dan tentu konsekuensinya pada penganggaran secara realistis (tidak mengada-ada).

Kategori-kategori Program Campus Ministry

Program Induk

  1. Mewujudkan konsep “Christian presence” kepada sivitas akademika.

Program Utama 1

  1. Memerankan nilai-nilai spiritual untuk menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan sehingga terwujud etos kerja para pelaku pembelajaran dan terjadi perubahan perilaku individual dan organisasi dalam kampus yang mencerminkan “Christian presence”.
  2. Menulis dan memublikasikan untuk seluruh sivitas akademika buku santapan rohani yang merujuk pada kalender akademik. Dengan demikian landasan spiritual dan nilai-nilai Kristiani mendasari kegiatan akademik setiap hari. Perhatian penting perlu diberikan kepada hari-hari penting dalam kalender akademik.
  3. Membudayakan penggunaan buku santapan rohani kampus (SRK) di kampus dan di rumah, dan dalam kelompok sejawat (academic-peer groups).
  4. Memrogramkan kebaktian rutin dan khusus dengan liturgi yang beragam dan ekumenikal.

Kegiatan

  1. Membentuk komite penerbitan buku santapan rohani kampus dengan tugas yang jelas—termasuk riset, konsultasi, editorial, dan tata cetak yang kreatif dan atraktif.
  2. Memublikasikan buku santapan rohani kampus dan mengatur distribusinya sesuai perencanaan yang jelas.
  3. Merancang kegiatan penggunaan buku santapan rohani kampus.

Program Utama 2

  1. Mengembangkan komponen pendidikan umum untuk menopang studi ilmu dan teknologi berdasarkan perspektif iman dan nilai-nilai Kristiani.

Program

  1. Turut membangun sebuah departemen matakuliah umum (DMU) yang setara fakultas dengan personil yang memadai untuk mengajarkan, berdasarkan perspektif iman dan nilai-nilai Kristiani, matakuliah yang penting dalam pembentukan sikap dan kepribadian serta kepemimpinan mahasiswa.
  2. Turut mengembangkan program pengabdian kepada masyarakat melalui sebuah lembaga pengabdian kepada masyarakat, dengan tujuan mengintegrasikan ilmu dan pengabdian sebagai tonggak dari suatu masyarakat Pancasila (civil society).
  3. Mengembangkan perkuliahan khusus sebagai refleksi iman terhadap permasalahan aktual dalam berbangsa dan bernegara Indonesia, dan membangun rasa tanggungjawab mahasiswa dan warganegara secara beradab. Perkuliahan khusus ini diadakan dengan mengundang para ahli dan tokoh nasional dan internasional, yang memiliki pergumulan dan memperjuangkan keyakinan mereka, misalnya dalam persoalan demokrasi, hak asasi manusia, keadilan, dan keutuhan ciptaan (concern for the environment).

Kegiatan

  1. Mengadakan pembicaraan dan lobi dengan para senator dan pimpinan universitas tentang peran kritikal dari komponen pendidikan umum dalam pembentukan profesi dan ilmuwan.
  2. Mempersiapkan kurikulum bersama para senator dan para ahli lainnya untuk matakuliah dasar filsafat (termasuk filsafat ilmu), kebudayaan, etika, dan mungkin politik. Sasarannya adalah teori, kinerja, dan perilaku.
  3. Mengembangkan kelompok diskusi, konvensi, konferensi berkala, penerbitan, dalam bidang-bidang ilmu yang disebut sebelumnya.
  4. Membantu mengembangkan profesionalitas (ketrampilan profesional) sebagai bagian dari “delivery service” dan kesaksian dosen Kristen dalam proses pembelajaran (ethical imperative).
  5. Mendorong terjadinya research-based teaching and learning dan mengintegrasikannya dengan program service learning.
  6. Turut menciptakan hubungan dosen-mahasiswa yang ideal berdasarkan model yang sudah disepakati bersama.
  7. Memelopori terjadinya perwalian akademik sebagai tanggungjawab moral dosen.
  8. Memikirkan program remediasi bagi mahasiswa yang terlambat pertumbuhan akademiknya.
  9. Mengembangkan program service learning sebagai tonggak dalam pengabdian kepada masyarakat yang terarah bagi terbentuknya servant leader dalam diri setiap mahasiswa.

Program Utama 3

  1. Berperan aktif dalam membangun collective performance dari universitas yang terwujud dalam kualitas masyarakat akademiknya (ilmiah).

Program

  1. Mendorong dan memelihara kualitas yang berkelanjutan dimana tampak secara konkret ciri-ciri kecerdikan, kreativitas, dan produktivitas di antara masyarakat akademik UHN.
  2. Turut melahirkan dan menjamin berlangsung seterusnya kebebasan akademik dan otonomi kampus.
  3. Membudayakan nilai-nilai dari masyarakat kampus yang berkomitmen pada otonomi, tetapi bertanggungjawab dalam menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas.
  4. Mengembangkan kebiasaan memberlakukan continual self-evaluation sebagai landasan pengambilan keputusan manajerial pada semua lini organisasi UHN.

Kegiatan

  1. Membantu pimpinan universitas membentuk komisi penilaian kinerja (performance appraisal) UHN dan mendorong terlaksananya secara teratur dan rutin.
  2. Turut merancang, membentuk, dan kemudian melaksanakan hasil kerja dari berbagai komisi, yang meliputi kode etik UHN, disiplin ilmu, dan dosen.
  3. Merancang dan turut dalam proses pemberlakuan “standard of good practices” bagi sivitas akademika UHN, yang membuktikan secara nyata perwujudan kehadiran Kristen dalam perilaku kampus UHN.

Catatan Penting: Ada asumsi yang implisit, yaitu bahwa buku santapan rohani kampus yang akan memberi nafas bagi kehidupan “Christian presence” dalam kampus sudah dirancang untuk “memberi terang firman Tuhan” bagi program-program yang diusulkan dan terutama doa bagi pergumulan mewujudkannya.

Kebutuhan Akan Refleksi Teologis

Semua ini adalah konsekuensi dari sebuah penelusuran eksperiensial yang belum selesai untuk menjawab tantangan yang amat kompleks mengenai eksistensi sebuah perguruan tinggi Kristen di Indonesia, yang dalam keseharian hidupnya sukar mengaktualisasi dengan optimal visi dan misinya melalui program tri darmanya, apalagi membangun secara bermakna nilai-nilai fundamental yang dipercayai seperti akuntabilitas, profesionalitas secara ketat berdasarkan perspektif iman (faithful obedience).

Demi manajemen perguruan tinggi yang bertanggungjawab, peran CM membantu perguruan tinggi Kristen mencapai excellence adalah dalam rangka “human capital formation” (HCF), yakni pembentukan manusia berkualitas yang produktif dan kreatif dalam menjawab permintaan pasar, maupun menjadi pemeran utama dan perancang (bukan sekedar tukang dari roda pembangunan, industrialisasi, dan globalisasi) dalam knowledge-driven economy itu sendiri. Sisi yang lainnya yaitu membantu perguruan tinggi Kristen mencapai leadership dan stewardship sebagai bagian dari “social capital formation” (SCF). Wujudnya adalah kepekaan para mahasiswa terhadap keadilan, penindasan hak asasi manusia, perang terhadap kemiskinan, demokrasi dan transparansi dalam rangka membangun manusia yang adil dan beradab. Inilah komitmen pada Matius 25:45 itu. Dengan demikian menjadi jelas yang sudah dikatakan dalam preambul tentang tugas CM untuk memerankan nilai-nilai spiritual, guna menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan dari warga akademik sehingga mereka, dalam bahasa T.B. Simatupang, aktif berpartisipasi secara kritis, kreatif, dan realistis dalam (pembangunan sebagai pengamalan Pancasila) proses pembentukan modal sosial dan manusia.

Ada persoalan besar di sini, sekaligus tantangan pada konsep mengenai kehadiran Kristen dalam konteks CM. Kalau sekedar high quality dan high equity dalam proses menghasilkan keluaran perguruan tinggi, bukan hanya kalangan Kristen yang concern dan bekerja keras mewujudkannya melalui perguruan tinggi.

Berdasarkan pengalaman, dapat dikemukakan dua profil perguruan tinggi Kristen di Indonesia yang saling berbeda dalam kemampuannya mewujudkan kehadiran Kristen di kampus mereka.

Yang pertama adalah perguruan tinggi Kristen yang, karena keharusan untuk menyalurkan seluruh energi dalam survival strategy institusinya, maka kesiapan untuk memberi respons terhadap tekanan-tekanan eksternal yang berhubungan dengan akuntabilitas publiknya mendominasi kebijakan apapun. Dalam keadaan demikian, dapat dilihat bahwa komitmen pada kehadiran Kristen hanya nampak pada lambang-lambang, dan mungkin juga ritual dengan berbagai instrumen penopangnya. Sudah terjadi bahwa dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal sehubungan dengan tuntutan untuk memenuhi standar benchmarking, banyak perguruan tinggi Kristen yang lemah secara kualitas bersedia “membayar upeti” untuk mempertahankan kelangsungan operasional. Tindakan menyogok “dibaptis” dengan nama “pemberian kasih”.

Yang kedua adalah profil perguruan tinggi Kristen yang mampu berperan dalam masyarakat industrial, dan karenanya menjadi responsif menopang ekonomi yang abundance atau bahkan over-abundance. Idola yang baru adalah kemakmuran. Diperkuat dengan slogan tentang pentingnya peran perguruan tinggi dalam pengembangan daya saing bangsa, maka pertimbangan ekonomi dan politik yang pragmatik dalam penggunaan solusi ilmu pengetahuan dan teknologi semakin memperoleh pembenaran, walaupun disadari akan adanya constraints seperti terbatasnya sumberdaya alam secara ketat, atau ketidakpedulian terhadap membengkaknya biaya sosial lainnya. Dalam konteks seperti ini, nilai-nilai ekonomi, politik, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi amat dikukuhkan dan dengan sendirinya lentur terhadap nilai moral dan etik. Pembentukan modal manusia yang dibicarakan kini dijadikan wahana dan prasyarat untuk membentuk masyarakat teknokratik yang materialistik. Jikalau perlu, demi kepentingan teknokratik-materialistik, pengetahuan dikemas menjadi komoditi dan ukuran keberhasilan dalam pekerjaan direduksi menjadi performativitas. Seharusnya, perguruan tinggi Kristen yang taat prinsip mempertahankan perspektif kualitas pembelajaran, yang secara riil memang harus market-driven tetapi juga research-driven.

Ada keprihatinan yang lebih luas karena walaupun diketahui bahwa materialisme memiliki juga dampak negatif bagi masyarakat umum secara luas, orang-orang dan masyarakat Kristen bahkan gereja sendiri tidak secara gigih berusaha mengubah arah pembangunan yang negatif. Ini menyebabkan berkembangnya Kekristenan yang sinkretistik—pada hakekatnya kita meyakini dan berpegang pada nilai-nilai religius, tetapi mengakomodasi juga kebiasaan serta asumsi-asumsi sivilisasi industrial modern, seperti kolusi antara ekonomi dan politik (pengusaha dan penguasa) untuk memperluas pengaruh dan kekayaan, jikalau relativistik dalam standar nilai atau norma.

Beramah-tamah dengan dosa ternyata terjadi, baik dalam kalangan kampus perguruan tinggi Kristen, maupun komunitas Kristen secara umum. Dengan demikian maka wawasan pendidikan Kristen itu sendiri yang terutama harus dibangun kembali. Persoalannya amat kompleks: bukan sekedar urusan survival dari situasi kembang-kempis secara finansial dan profesional, maupun sikap kompromistik secara rohani. Melampaui segala interes kelembagaan perguruan tinggi, bahkan eksistensinya sendiri, terdapat isu sentral, yaitu kapasitas dalam rangka pemenuhan akan panggilan profetik kita dalam bersaksi dan melayani dalam dunia pendidikan tinggi.

Agar terjadi komitmen yang baru, diperlukan telaah tentang bagaimana dan seberapa sempurna perguruan tinggi Kristen telah memberikan responsnya terhadap panggilan (profetik) tersebut. Secara institusional, hanya CM yang dapat menjadikan studi ini sebagai prioritas. Kantor rektorat sudah disibuki dengan tugas manajerial, dekan dan para dosen dengan tugas akademik, sedangkan mahasiswa dengan menentukan nasibnya sendiri dalam pembelajaran, dan terutama dalam menentukan karirnya setelah lulus.

Analisisnya hendaknya dimulai dengan distorsi-distorsi dari kebenaran, dan didasarkan atas keyakinan bahwa: (1) perguruan tinggi Kristen juga sudah menjadi kontributor pada distorsi yang ada; (2) perlu ada kerendahan hati untuk bertobat dan memohon pengampunan—bukan menonjolkan arogansi; (3) semua pembaharuan harus bertolak dari perspektif kerajaan Tuhan—bukan kepentingan kelembagaan belaka. Mudah-mudahan dari titik berangkat demikian dapat dibangun kembali juga persepsi perguruan tinggi Kristen tentang keahlian dan profesi yang sadar betul bahwa: (a) “takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan”—bukan saja pengetahuan rasionalistik; (b) “obedience to God” dimengerti sebagai “true freedom” dalam kontras dengan “individual self-determinism”; (c) buah-buah roh diterima sebagai “abundant life” dalam kontras dengan “personal success”.

Jadi, CM perlu mengembangkan sebuah common framework secara teologis untuk mewujudkan kehadiran Kristen dalam kampus perguruan tinggi Kristen—pada hakekatnya sebagai landasan dari kehidupan yang baru (langit yang baru dan bumi yang baru) yang substansial dalam kampus.

WILLI TOISUTA

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail