Dalam rangka membantu Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Papua memantau keberhasilan program peningkatan kompetensi guru yang dilakukan di University of the Sunshine Coast (USC) dan untuk memutakhirkan perkembangan kurikulum dan pedagogi pembelajaran di Australia dan Papua, Willi Toisuta & Associates (WTA) menyelenggarakan konferensi guru matematika, sains, dan bahasa Inggris pada 22-25 Maret 2011 di Gedung Sasana Krida, kantor Gubernur Provinsi Papua.

Kegiatan berisi seminar dan lokakarya ini adalah kegiatan perdana dari serangkaian agenda pertemuan tahunan yang akan diselenggarakan di Papua, atas kerjasama WTA, USC, dan Dikpora Papua.

Hari Pertama

Pada hari pertama, acara dibuka oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu, dan dihadiri oleh rombongan WTA yang dipimpin langsung oleh Willi Toisuta dan Eka Simanjuntak, rombongan USC yang terdiri dari Noel Meyers, Merv Hyde, William Allen, John Hunt, Robert Whannell, Ulrike Kessner, serta jajaran Dikpora Papua, dan 120 guru (di antaranya ada alumni penerima beasiswa ALAF sejumlah 44 orang).

Dalam sambutannya, Gubernur Papua menyatakan bahwa program peningkatan sumberdaya manusia Papua dilaksanakan tidak hanya dengan mengikuti pertumbuhan deret hitung dan deret ukur, tetapi juga memerlukan lompatan. Program yang sedang dilaksanakan adalah mendorong generasi muda hingga memiliki seribu orang PhD pada tahun 2025 melalui pemberian ke dalam dan luar negeri. Gubernur mengulang hingga tiga kali pernyataan bahwa akses pendidikan adalah hak warga Papua.

Acara selanjutnya adalah penyampaian materi beberapa pembicara, yaitu James Modouw (Kepala Dikpora Papua), Dede Rosadah (perwakilan PGRI), Willi Toisuta, William Allen, dan Noel Meyers.

James Modouw memaparkan tentang program pendidikan seiring dengan regulasi pemerintah dalam hal kurikulum tingkat satuan pendidikan. Dalam hal ini, perlunya lompatan pengembangan pendidikan dengan memfasilitasi sarana pendidikan yang senantiasa ditingkatkan, termasuk sarana teknologi informasi dan komunikasi sehingga menjangkau seluruh pelosok yang ada di Papua.

Penyampaian materi dilanjutkan oleh PGRI yang diwakili Dede Rosadah yang menyampaikan program profesionalisasi guru yang sedang dikembangkan PGRI guna mendukung sertifikasi profesi guru yang diluncurkan pemerintah.

Willi Toisuta menyoroti miskonsep pengembangan pendidikan internasional terkait dengan tantangan globalisasi. Ia menyampaikan pandangan tentang hasil ujian nasional tahun 2006, 2007, dan 2008 yang menunjukkan angka rata-rata 5.94; 6.28; 6.35 sebagai “level of engagement” yang rendah. Ia juga menyampaikan bahwa pendidikan harusnya membangun pola pikir yang konstruktif dan tidak mengejar penghargaan atau juara semata.

William Allen menekankan pemahaman konsep kurikulum yang harus senantiasa tergantung pada kreativitas guru dalam memformulasikan pendekatan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan siswa. Pada akhirnya ia menyatakan bahwa kurikulum yang sesungguhnya adalah guru itu sendiri. Topik ini selanjutnya diikuti dengan lokakarya yang meminta setiap kelompok merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa abad 21. Dalam hal ini setiap kelompok bidang studi merancang pendekatan pembelajaran yang kreatif.

Sore harinya, Noel Meyers menyampaikan perlunya merancang pembelajaran yang berkesinambungan dan tidak mengedepankan pendekatan yang bersifat sesaat saja.

Hari Kedua

Hari kedua, acara dimulai pukul 09.00 WIT dengan awalan oleh Robert Whannell tentang esensi sains dan bagaimana mempersepsikannya. Sains merupakan pengetahuan yang membantu menilai dan membandingkan berbagai situasi. Presentasi Whannell dilanjutkan oleh lokakarya dengan mengelompokkan guru sesuai bidang studi masing-masing untuk menyusun rencana pembelajaran dengan mengambil topik situasi nyata di sekitar kehidupan sekolah.

Presentasi berikutnya diisi oleh guru yang telah mengikuti pelatihan di USC Australia, yaitu Kristian Laheba (guru kimia SMA YPPK Adhi Luhur, Nabire) dan Dominicus Wahju W.S. (guru matematika SMA Negeri 1 Timika).

Kristian Laheba mempresentasikan pengalaman mengajar yang ia kembangkan setelah kembali dari USC. Diawali dengan pemutaran film pembelajaran yang direkamnya sendiri dengan situasi belajar yang berbeda-beda, termasuk kerja kelompok dan belajar di luar kelas, Kristian juga menunjukkan perancangan belajar yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan, dimana foto yang ditampilkan menunjukkan lingkungan yang mulai rusak oleh sampah serta perburuan kanguru. Perancangan pembelajaran yang menunjukkan tanggungjawab guru terhadap persoalan lingkungan sekaligus memberi teladan bagi siswa selaku pembina masyarakat. Selain itu, Kristian menunjukkan hasil kerja siswa berupa laporan penelitian yang mengaitkan beberapa bidang studi. Presentasi ini dilanjutkan oleh lokakarya perancangan pembelajaran terintegrasi dengan topik penyelamatan lingkungan, dan untuk itu anggota kelompok dimintakan terdiri dari latar belakang bidang studi yang berbeda.

Presentasi dilanjutkan oleh Dominicus Wahju yang menunjukkan berbagai pendekatan dalam pengenalan bangun ruang dengan menunjukkan enam benda peraga yang terbuat dari karton. Benda peraga itu dibagikan kepada peserta secara acak dan selanjutnya mereka yang menerimanya diminta untuk mengelaborasi dan mendefinisikan bangun ruang itu dengan bantuan teman sekitarnya. Keenam orang yang menerima benda itu selanjutnya diminta tampil di depan kelas dan dibagikan kartu bertuliskan salah satu bangun ruang, dan secara bergantian pemegang kartu membacakan kartunya. Peserta yang terlebih dahulu mendeskripsikan bangun ruang yang dibacakan tersebut akan menerima kartu, dan peserta yang menerima kartu paling banyak dinyatakan sebagai pemenang. Dengan memanfaatkan komputer, Dominicus membuktikan bahwa volume kubus adalah tiga kali volume limas. Hal ini juga selanjutnya dibuktikan secara fisik dengan alat peraga yang telah dipersiapkan. Ini penting karena siswa tidak hanya ditunjukkan secara visual, tetapi juga secara fisik untuk konfirmasi pengetahuan.

Pada sesi lokakarya, Dominicus mengarahkan peserta untuk merancang pembelajaran interaktif, kreatif, dan aplikatif. Semuanya disesuaikan dengan bidang studi masing-masing kelompok. Semuanya dimaksudkan supaya siswa lebih meresapi dan mengingat materi pelajaran terkait.

Pada sesi laporan lokakarya, kelompok bidang studi biologi yang dipimpin oleh Binsar (seorang guru dari SMA Buper yang juga alumni beasiswa ALAF) menampilkan topik pembelajaran pencernaan dengan model lomba cerdas cermat, dimana setiap peserta secara bergantian menyusun pertanyaan yang relevan dengan topik yang disiapkan Binsar dalam sepotong kertas untuk masing-masing peserta. Sementara kelompok bidang studi kimia merancang pembelajaran dengan bentuk permainan ular tangga.

Pada hari yang sama, secara paralel, John Hunt dari USC melatih para guru dari sekolah yang akan menerima proyek OLPC (One-Laptop-Per-Child) soal bagaimana mengoperasikan dan memanfaatkannya. Pelatihan komputer ini dilaksanakan di salah satu ruang PPTIK.

Hari Ketiga

Tepat pukul 09.00 WIT hari ketiga, Merv Hyde memulai kegiatan dengan topik motivasi. Ia memaparkan pentingnya motivasi dengan membedakan motivasi yang digerakkan dari dalam diri siswa dan motivasi ekstrinsik dari guru. Cara memotivasi juga perlu mempertimbangkan budaya, supaya program pembelajaran dapat diterima dengan mudah. Guru juga dapat memotivasi masyarakat dengan merancang pembelajaran yang mempengaruhi kehidupan masyarakat di lingkungan sekolah. Hyde selanjutnya meminta peserta lokakarya bekerja merancang pembelajaran yang memotivasi masyarakat sekitar sekolah untuk peduli terhadap lingkungan. Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan bidang studi masing-masing peserta.

Terinspirasi dengan kegiatan sebelumnya, semua kelompok merancang proyek bertema lingkungan hidup. Kelompok matematika dengan pendekatan statistik yang akan dikumpulkan anak berbentuk data sekunder dan data primer. Sementara kelompok kimia melibatkan masyarakat dalam reklamasi pantai melalui penanaman tanaman mangrove. Sebagaimana yang terjadi pada tahap akhir setiap lokakarya, setiap kelompok saling mengunjungi dan saling bertanya untuk pengembangan ide.

Pemaparan materi dilanjutkan dengan presentasi Sri Murniani Letsoin yang saat ini mengajar di SMK IT di Merauke. Ia mempresentasikan inovasi pembelajaran dengan teknologi informasi dalam kurikulum yang ada. Sri menunjukkan beberapa contoh pendekatan praktis serta hambatan dan tantangannya. Kegiatan ini dilanjutkan dengan lokakarya yang meminta setiap kelompok bidang studi merancang proyek pembelajaran untuk ditampilkan dengan bantuan teknologi informasi.

John Hunt pada siang harinya mempresentasikan “A Lean Green Machine” dengan menunjukkan komputer OLPC sebagai salah satu sarana belajar yang baik. Pengoperasian OLPC menjadi kegiatan pelatihan bersama pada lokakarya terakhir hari ketiga.

Hari Keempat

Pada hari terakhir, semua peserta tetap semangat dan hadir tepat waktu. Sesi dimulai dengan presentasi Yakobus Wonam (guru bahasa Inggris dari SMA YPPK Yos Sudarso Merauke) dengan topik pengembangan pembelajaran bahasa Inggris sehingga menarik dan menyenangkan. Yakobus membagi pengalamannya mengajak para siswa yang pemalu dan tertinggal untuk ikut dalam sebuah film pembelajaran yang disutradarai dan direkam sendiri oleh sang guru. Situasi ini berhasil memotivasi siswanya sehingga kemudian meminati bahasa Inggris dan melanjutkan kuliah pada jurusan sastra Inggris.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan lokakarya yang mengharapkan peserta merancang pembelajaran supaya menarik dan tidak membosankan dengan memakai satu metode tertentu. Kesempatan ini menjadi tempat berbagi pengalaman antara alumni penerima beasiswa ALAF dan guru-guru yang belum mendapat kesempatan mengikuti program peningkatan kapasitas di luar negeri.

Pada sesi terakhir ada perkenalan piranti lunak Blackboard dari Ulrike Kessner sebagai sarana pertemuan antara guru untuk berbagi informasi secara virtual. Dengan menunjukkan kapasitas apa yang dapat dilihat serta diakses pada Blackboard ini, para guru juga diundang untuk menjadi anggota komunitas guru Papua.

Setelah makan siang, lokakarya kembali dilanjutkan untuk merumuskan rencana aksi dari kegiatan konferensi ini. Tiga poin utama dari berbagai rencana aksi adalah: (1) melaporkan hasil yang didapatkan peserta kepada kepala sekolah; (2) mencari waktu untuk mendiseminasikan model-model pembelajaran yang didapat pada program ini kepada sesama guru di sekolah atau MGMP; (3) berusaha sendiri atau berkolaborasi dengan guru bidang studi lain untuk menerapkan pola pembelajaran, sebagaimana didapat pada kegiatan ini.

Acara selanjutnya ditutup dengan refleksi kegiatan oleh Willi Toisuta, dilanjutkan dengan penyampaian kesan-kesan peserta dalam dua bahasa yang menggelitik peran para pemrasaran dan tentunya ucapan terima kasih. Kenang-kenangan juga diberikan Prof. Merv bersama Dr. Bill Allen kepada guru presenter dan ketua kelompok.

Kegiatan diakhiri dengan puisi serta lagu “Tanah Papua” yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris.

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail