Jasa WTA

Konsultansi

  • Membantu pemerintah dalam menemukan solusi terbaik dalam mengatasi persoalan seputar PENDIDIKAN UMUM, INKLUSI DAN VOKASIONAL di berbagai wilayah di Indonesia.
  • Membantu lembaga pendidikan milik pemerintah maupun swasta dalam mendirikan sekolah berkualitas dan/atau meningkatkan kualitas sekolah yang sudah berjalan.
  • Memberikan konsultasi kepada koorporasi dalam mengoptimalkan pengelolaan program CSRnya sektor pendidikan dan pengembangan kapasitas sumberdaya manusia di Indonesia.
  • Membantu mendirikan dan mengembangkan kapasitas penelitian/riset, di lembaga-lembaga berbasis riset maupun universitas.

Peningkatan Kapasitas SDM

  • Merancang dan melaksanakan program-program peningkatan kapasitas berbasis kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) bagi kepala sekolah, pengawas sekolah, guru dan tenaga kependidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan (customized). Peningkatan kapasitas ini mencakup analisa kebutuhan pelatihan (TNA), melaksanakan pelatihan, pendampingan (mentoring) dan studi banding baik di dalam maupun di luar negeri.
  • Merancang dan melaksanakan program pelatihan kerja (Vokasional), sesuai dengan kebutuhan industri.

Penelitian dan Evaluasi Program

  • Merancang dan melaksanakan penelitian terkait isu-isu pendidikan dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia lainnya.
  • Membantu pemerintah daerah melakukan pemetaan kondisi pendidikan di wilayah mereka di Indonesia.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap sekolah maupun program-program pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah, lembaga donor, perushaan/coorporasi (program CSR).
  • Membantu para peneliti dan pelajar Indonesia atau asing yang ingin melakukan riset di Indonesia atau luar negeri untuk menemukan mitra lokal (individu ataupun institusi).

Pengelolaan Beasiswa

Merencanakan dan mengelola program beasiswa yang didanai oleh pemerintah Indonesia maupun lembaga non pemerintah.

Produk Lainnya

Model Pembelajaran 4T

Model pembelajaran 4T menggunakan pendekatan saintifik (science approch), dirancang oleh Bapak Willi Toisuta, PhD guna menstimulasi dan mengoptimalkan kapasitas belajar dan cara berpikir siswa. Keingintahuan siswa didorong melalui pengamatan/observasi dan pengumpulan data untuk mengklarifikasi kebenaran sains dan mengkomunikasikannya sebagai bagian dari tanggung jawab ilmiah. Metode pembelajaran 4T memiliki 4 (empat) tahapan yang berurutan: Dalam TELAAH, siswa akan merumuskan masalah dan pertanyaan. Lalu dalam tahap TELlTl siswa dipandu untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah yang relevan. Selanjutnya di tahap TATA siswa dipandu menstrukturkan kembali pengetahuan yang baru di perolehnya, melalui diskusi, loka karya, dan debat ilmiah. Akhirnya, pada tahap TUTUR pengetahuan yang baru harus dipertanggungjawabkan pada publik melalui publikasi dan produk inovatif lainnya

Literasi Berbasis Fonik

Literasi baca tulis merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang karena segala segi kehidupan baik dalam ranah akademis maupun non akademis mensyarakatkan bukan sekedar komunikasi lisan melainkan juga komunikasi tulisan. Selain itu literasi baca tulis merupakan syarat untuk seseorang agar mampu cakap dalam literasi lainnya, seperti literasi numerasi, literasi budaya dll. WTA/YNS dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi baca tulis menggunakan metode fonik dengan pendekatan berimbang. Literasi yang lebih dikenal dengan istilah literasi fonik ini menawarkan 4 keterampilan literasi yang perlu dikuasasi melalui pengajaran 9 komponen literasi.
4 Keterampilan literasi yang dimaksud adalah: D(dengar) U(ucap) B(baca) T(tulis). Empat keterampilan literasi ini diperlukan agar seseorang dapat melakukan komunikasi yang bermakna baik secara lisan maupun tulisan. Empat keterampilan ini akan dicapai melalui pengajaran 9 komponen literasi fonik yaitu:

  • Kesadaran cetak : merupakan pengenalan sistem fungsi cetak, penekanannya adalah bahwa tulisan memiliki fungsi dan aturan. Pengajaran kesadaran cetak bertujuna untuk mengenalkan pola-pola umum dalam sebuah tulisan agar mempermudah peserta didik dalam belajar membaca.
  • Fonologi : merupakan pengenalan tentang bunyi-bunyi bahasa, pemahaman bahwa bunyi kata merupakan kumpulan dari bunyi-bunyi kecil yang dirangkai menjadi bunyi yang memiliki makna.
  • Pengetahuan Abjad : merupakan pengajaran tentang bunyi, nama dan bentuk huruf, pada komponen ini peserta didik diajarkan untuk menghubungkan bunyi dengan simbol yang mewakilinya (bentuk huruf).
  • Fonik : merupakan pengajaran untuk merangkai bunyi kecil menjadi bunyi suku kata dan bunyi kata sampai pada bunyi kalimat sehingga dapat menjadi bunyi yang memiliki makna. Pada komponen ini siswa sudah dapat membaca dan menulis secara teknis.
  • Kosakata & Pemahaman: merupakan pengajaran tentang perbendaharaan kata yang diajarkan beserta maknanya sehingga peserta didik mampu menagkap pesan dari bacaan secara utuh.

Pelatihan Vokasi Berstandar Internasional

Untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja profesional yang mendukung daya saing industri nasional dan kompetisi global di pasar sumber daya manusia, dimana pendidikan vokasional memainkan peranan yang cukup siknifikan, WTA adalah satu dari sedikit lembaga yang memahami tentang bagaimana pendidikan dan pelatihan vokasional ini dilaksanakan. Belajar dari negara-negara maju yang sudah memiliki pengalaman panjang di bidang pendidikan dan pelatihan vokasional seperti Australia, Jerman, dll, WTA telah mengembangkan alat ukur (tools) untuk melakukan assesmen terhadap lembaga dan program vokasi. Selain melakukan assesmen, WTA juga telah mengembangkan beberapa kurikulum dan pendekatan pelatihan vokasi yang berorientasi pada industri dan kontekstual.