Disipin positif

Maraknya kasus kekerasan pada anak sungguh memprihatinkan. Apalagi, kekerasan ini justru terjadi di lingkungan sekolah dan dilakukan oleh guru sendiri. Wujud dari kekerasan yang terjadi di sekolah umumnya adalah hukuman yang diberikan guru kepada siswa atas perilaku yang dianggap tidak tepat atau melanggar aturan. Hal ini terjadi karena guru percaya bahwa menghukum anak didik adalah salah satu bentuk pedagogi yang baik bagi anak.

Berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli di banyak negara menunjukkan, bahwa penggunaan hukuman sebagai bentuk ‘pendisiplinan’ ternyata berdampak negatif bagi perkembangan anak. Anak menjadi trauma, kreativitas anak menurun, dan lain-lain. Oleh karena itu, hukuman seharusnya tidak lagi digunakan oleh guru dalam mendidik siswa. Salah satu alternatif pengganti dari penggunaan hukuman adalah penerapan disiplin positif. Disiplin positif adalah pendekatan pedagogi yang didasarkan pada kekuatan tindakan positif, rasa tanggung jawab (konsekuensi), pemahaman (logis), dialog dan penghargaan terhadap hak dan kebutuhan perkembangan anak. Disiplin positif didasarkan pada prinsip menghargai hak anak (empati), mendorong proses dialogis, melatih anak berpikir logis, mendidik anak untuk bertanggung jawab serta mengembangkan perilaku positif anak di masa yang akan datang.

Dengan menggunakan disiplin positif, guru tidak perlu menggunakan kekerasan (melalui hukuman) kepada anak dalam mengembangkan perilaku positif dan kedisiplinan pada anak. Bahkan perilaku positif dan kedisiplinan ini akan terbangun dari kesadaran anak sendiri.