Pertumbuhan dan kebangkitan ekonomi global seperti yang sedang terjadi di negara-negara Asia sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya kita mengenal ucapan “ekonomi global berbasis pengetahuan”. Penetrasi yang lebih luas telah dimungkinkan karena revolusi dalam teknologi informasi dan komunikasi. Fenomena yang perlu diperhatikan sekarang bukan saja transformasi sosial dan politik pada mancanegara, tetapi juga hubungannya dengan pemetaan pendidikan ke masa depan, yaitu membrojolnya (emergence) pasaran kerja sejagat.

Globalisasi jelas mempengaruhi liberalisasi ekonomi sekaligus liberalisasi sosial, yaitu demokratisasi politik. Dalam liberalisasi ekonomi dunia telah terjadi perpindahan pekerja berpengetahuan (knowledge workers) seperti para ilmuwan, pakar, dan mereka yang berketrampilan tinggi—mereka dapat berpindah kemanapun mereka diperlukan sehingga batas-batas negara tidak lagi menjadi penghalang. Itulah sebabnya mobilisasi spasial terjadi secara spontan.

Dominasi pekerja berketrampilan tinggi dengan sendirinya menggeser kesempatan tenaga kerja lokal, yang sebelum bersaing saja sudah memiliki kelemahan dalam pendidikan pra-jabatan, dan pendidikan umum yang tidak mendorong kreativitas serta independensi bertindak—pengalaman membuat keputusan yang diperlukan pada saatnya. Dengan sendirinya “orang lokal” yang memiliki kemampuan akan memperoleh kesempatan, dan bahkan dalam rangka proteksi nasional mungkin saja memperoleh prioritas. Namun jumlahnya selalu sangat terbatas sehingga membaurnya mereka dalam kelompok yang didominasi “asing” hanya turut menciptakan “kelas elit” baru, yang tidak mungkin memperbesar kemungkinan membangun daya saing nasional. Padahal, daya saing nasional diperlukan untuk mengimbangi penetrasi ekonomi global berbasis-pengetahuan, demi pengembangan kekuatan ekonomi yang berorientasi pada meratanya kesejahteraan nasional.

Dipandang sepintas, demokratisasi pendidikan nampak seolah menjadi jawaban terhadap kepentingan nasional. Yang menjadi persoalan besar adalah: karena demokratisasi juga menyatu dengan liberalisasi ekonomi, kekuatan peubah yang menentukan prioritas kurikulum akan selalu didominasi oleh tuntutan ekonomi global dan bukan lagi orientasi nasional atau historik. Tidak dapat lagi diberlakukan pembedaan antara “kami” dan “mereka” karena semua pemain sudah menjadi kompetitor. Selanjutnya, mobilisasi sosial yang terjadi karena adanya demokratisasi telah membuka peluang yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan kesempatannya, dalam rangka memperoleh pendidikan pada semua jenis dan tingkatan persekolahan, termasuk perguruan tinggi. Perluasan daya tampung telah terjadi sehingga penerimaan siswa atau mahasiswa menjadi masif. Kenyataan itu turut menyebabkan lembaga pendidikan menjadi “demand absorbing” sehingga mudah mengancam kualitas. Dengan kata lain, akses meningkat tetapi kualitas terancam.

tantangan demokratisasi pendidikanTabel berikut (klik untuk memperbesar gambar) menunjukkan dua kenyataan yang kontradiktif. Di satu pihak ada tuntutan dan kesadaran untuk memenuhi standar internasional, tetapi di lain pihak kelemahan inheren dalam sistem nasional masih merupakan beban yang berat. Jelas bahwa hak kebanyakan anak untuk memperoleh pengajaran terbaik akan terhambat jikalau kualifikasi guru tidak memadai, fasilitas belajar minim, dan kurikulum masih “overloaded”. Apalagi masih terdapat “miss conception” dalam merancang dan menginterpretasi konsep-konsep esensial.

Hasil Ujian Nasional pada tahun 2006, 2007, dan 2008 menunjukkan angka rata-rata sebagai berikut: 5.94; 6.28; 6.35. Agar angka-angka ini dapat dimengerti dalam suatu perspektif keberhasilan, suatu analogi dengan gambaran John Biggs (1999) akan dicoba berikut ini. Karena disadari sepenuhnya bahwa generalisasi tidak dapat dibuat terhadap semua pendapat—apalagi tanpa mengklarifikasi asumsi yang mendasarinya—analogi ini tidak bermaksud merepresentasi akurasi apapun kecuali sekedar menampakkan sebuah kecenderungan yang menarik.

Apabila hasil Ujian Nasional dipergunakan untuk memasuki perguruan tinggi akan terjadi kemungkinan berikut ini. Angka rata-rata 6 dari skala 1 sampai 10 jikalau ditempatkan dalam rentangan Biggs tentang level of engagement dari rendah ke tinggi, maka kedudukannya berada di antara relating dan recognizing (ke bawah) atau relating dan applying (ke atas). Pada posisi yang demikian, keterlibatan mahasiswa baru dalam proses pembelajaran masih cenderung memberat pada keadaan yang pasif. Akibatnya, mahasiswa masih tergantung pada dosen sebagai satu-satunya sumber informasi. Itulah sebabnya tingkat pemahamannya tidak mendalam dan terbatas. Biggs menyatakan bahwa mahasiswa tahun permulaan yang dapat berhasil dengan baik secara akademik adalah mereka yang memiliki kemampuan berinteraksi pada posisi applying ke reflecting, dan terutama theorizing. Mereka ini yang dinamakan Biggs sebagai mahasiswa tipe akademik karena memiliki pemikiran analitikal, sehingga dapat menyesuaikan dirinya dengan metode pembelajaran yang memerlukan independensi dalam proses “pengayaan” dan “pendalaman” konten, tidak bergantung pada dosen.

Di kalangan internasional, penciutan gap antara tipe akademik dan non-akademik biasanya telah terjadi lebih dini, yakni pada jenjang persekolahan. Ini pun harus dimulai dari jenjang terendah karena perjalanan pembelajaran, dari pengembangan kapasitas belajar sampai mampu mengelola daya saing bangsa, adalah suatu perjalanan panjang. Inti dari pengembangan daya saing bangsa bukan terletak pada keuntungan yang diperoleh dari produktivitas ekonomi per se, tetapi pada kreativitas berpikir dan kemampuan serta ketrampilan intelektual, sehingga dapat menghasilkan produk ekonomi dan teknologi yang berdaya saing.

Jadi, hubungan antara “scientific interest” dan “technological need” adalah sebuah hubungan berbasis ilmu pengetahuan dan penelitian. Adalah juga merupakan kenyataan bahwa pengetahuan dan teknologi terus mengalami perubahan yang cepat. Sebab itu, pembelajaran terbaik yang perlu diperoleh dari sekolah dan perguruan tinggi adalah pengembangan kapasitas belajar, karena hanya kemampuan semacam itu saja yang dapat memungkinkan siswa atau mahasiswa bertumbuh secara intelektual sepanjang hayat.

Dari sudut pandang di atas akan tampak bahwa proses internasionalisasi persekolahan paling sedikit memiliki dua sisi yang saling terkait. Pertama, penataan secara internal persekolahan. Fokus pada pengembangan kapasitas belajar siswa memerlukan penataan proses pembelajaran yang dipusatkan pada pengembangan kualitas. Dalam hubungan ini diperlukan perencanaan, manajemen, penjaminan, dan pengendalian kualitas secara terpadu.

Sisi kedua adalah sisi makro, yaitu aspek-aspek yang berhubungan dengan penataan sistem nasional. Tentu kepentingan kita bukanlah sekedar melaksanakan pendidikan internasional. Sebab, sekolah berstandar internasinal (SBI) yang memusingkan banyak kepala itu pertama-tama menganjurkan standarisasi dan kemudian internasionalisasi. Banyak asumsi yang dikenal selama ini harus diuji kembali sebab pelaksanaan SBI—jikalau mau benar dan efektif—bukan sekedar mengadopsi sistem internasional, tetapi menginkorporasikan kemampuan kita ke dalam ruang lingkup proses pembelajaran internasional untuk saling memperkaya. Melalui teknologi informasi dan komunikasi global, ranah pendidikan kita telah dan akan semakin diinfiltrasi oleh pendidikan internasional beserta segala nilai pengiringnya. Ketahanan sistem kita akan sangat bergantung pada kemampuan mengelola secara bermakna pengaruh yang masuk dari luar Indonesia.

Oleh sebab itu, dalam melangkah ke depan kita butuh penataan sistem nasional yang:

  • terintegrasi, dimana perencanaan makro, nasional, dan departemental telah memperhitungkan dan mengantisipasi peranan dan kontribusi konkret yang diharapkan dari model-model pembelajaran pada semua aras;
  • terkoordinasi, misalnya dengan memosisikan pendidikan sains, matematika, dan bahasa sebagai landasan dalam prioritas pengembangan basis pengetahuan, untuk menopang prioritas-prioritas pembangunan dan kemajuan bangsa. Kontinum dalam pengalaman pembelajaran di antara berbagai jenjang dan jenis persekolahan tidak hanya turut meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proses pembelajaran, tetapi juga investasi nasional untuk pengembangan daya saing bangsa. Salah satu faktor kunci di sini adalah pengadaan dan pengembangan karir guru serta fasilitas penopang pendidikan yang modern bagi semua anak bangsa dimanapun mereka berada;
  • seimbang, dimana globalisasi dengan tren pendidikan yang “market-driven” amat cocok dengan aspirasi kontemporer siswa dan mahasiswa karena secara langsung dapat dinikmati relevansinya. Walau demikian, “performativitas” atau kompetensi melaksanakan suatu pekerjaan (dalam industri misalnya) dengan tingkat efisiensi yang tinggi tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan secara umum. Keunggulan intelektual (intellectual excellence) menyatu dengan pendidikan yang “knowledge-driven” sehingga ilmu pengetahuan dapat berkembang. Ini membutuhkan pola pikir yang kritis dan merdeka (critical and liberal thinking). Kecendekiaan dan nilai-nilai fundamental kemanusiaan janganlah begitu saja dijadikan “korban bakaran” di atas altar globalisasi dan inovasi. Perimbangan antara “human and social capital formation” amat diperlukan, karena di penghujung proses pendidikan yang “market-driven” maupun “knowledge-driven”, akan ditemukan bahwa persyaratan penting yang diperlukan—agar terjadi interaksi yang berguna antara pendidikan dan pengembangan industri—adalah keunggulan berpikir (thinking excellence);
  • berkelanjutan, karena yang didamba bagi kelestarian pembangunan tidak akan terjadi jikalau sistem itu tidak terintegrasi, tidak terkoordinasi, dan tidak seimbang.

Kompas edisi 3 Mei 2010 memperkenalkan sesuatu yang membanggakan bangsa. Anak Indonesia apabila memperoleh kesempatan dan bimbingan yang benar akan mampu juga menampilkan ide-ide yang besar. Teknologi robotik dihasilkan oleh anak “home-schooling” dan pesantren, sedangkan anak SMP IPIEMS menghasilkan “Nata de Melo” dari kecambah. Sebelumnya kita tahu bahwa anak Papua meraih juara fisika sedunia, dan anak-anak lain silih berganti menjuarai berbagai jenis olimpiade sedunia dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kenyataannya, hasil-hasil gemilang tersebut tidak selalu merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Para siswa tidak menghasilkan karyanya sebagai kegiatan yang langsung terkait dengan pembelajaran sehari-hari. Bukankah mereka bersekolah di “home-schooling” atau memperoleh gemblengan secara khusus—kadang hingga sepanjang tahun—tanpa memperoleh pelajaran yang lain? Belum lagi biaya yang khusus harus dikeluarkan untuk semua itu.

Selama kurikulum masih sarat matapelajaran, selama pembelajaran masih sangat berorientasi pada “prescribed textbook”, selama pemerintah masih terus memberlakukan kurikulum dan kebijakan yang tidak berangkat dari “demand side”, maka pengembangan talenta dan potensi-potensi “luar biasa” akan sukar teraktualisasi secara terencana dan efisien.

WTA School System memungkinkan terobosan. Sistem pembelajarannya yang berbasis penelitian mengintegrasikan belajar dan aktivitas-aktivitas konkret untuk memahami yang teoretik, mendalami konsep yang esensial, menata pengetahuan yang ditemukan beserta klarifikasi dan verikasi terhadap kebenaran dan nilai-nilainya, untuk kemudian mengomunikasikan secara efektif pengetahuan yang dimiliki sebagai pertanggungjawabannya terhadap kepentingan publik. Itulah sebabnya metodologi WTA School System mengintegrasikan proses pembelajaran dan penelitian mengikuti empat langkah kerja yang strategis 4T: telaah, teliti, tata, dan tutur.

WILLI TOISUTA

© Ilustrasi: Ahmad Fuady

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail