Client

UNICEF

PEMDA PAPUA

Program Penguatan Baca Tulis Kelas Awal mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam menangani kesenjangan pendidikan di Provinsi Papua dan Papua Barat. UNICEF dengan dukungan dari DFAT dalam melaksanakan Pendidikan untuk daerah pinggiran dan pedalaman di Tanah Papua. Dibawah kerjasama antara Program Pemerintah Indonesia dan Program UNICEF 2011 – 2018, program ini didanai oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Pemerintah Australia. Tujuan utamanya yaitu menguji pendekatan yang efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas awal di daerah pedalaman di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Program Pendidikan untuk daerah pinggiran dan pedalaman di tanah papua diselenggarakan dengan dua (2) pilar kegiatan utama, yaitu : Sekolah dan Pemerintah yang didukung oleh Pilar masyarakat. Serta memiliki 2 sasaran, yaitu :

  1. Sasaran Utama, yaitu: anak-anak di 120 sekolah dasar di 6 kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat: Kabupaten Biak Numfor, Jayawijaya, Mimika, Jayapura, Manokwari dan Sorong.
  2. Sasaran Intervensi Program ditujukan kepada pembuat kebijakan, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, komite sekolah dan masyarakat umum.

PEMDA SULAWESI TENGAH

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov. Sulawesi Utara) senantiasa berupaya memberikan pendidikan yang bermutu bagi masyarakat. Salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu adalah melalui penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sesuai dengan amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 50, ayat 3, yaitu: “Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi sekolah yang bertaraf Internasional”.

Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional diharapkan mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang berprestasi dan memiliki daya saing global. Beberapa indikator penyelenggaraan SBI adalah proses pembelajaran yang menggunakan berbagai strategi pembelajaran, tidak semata-mata mementingkan hasil; tetapi proses, mengembangkan seluruh potensi siswa (student-centered) memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya komputer dengan perangkatnya dalam pembelajaran, dan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran untuk mata pelajaran tertentu (Sains dan Matematika). Proses pembelajaran yang demikian membutuhkan guru-guru yang memiliki pengetahuan dan kemampuan pada aspek pedagogi, TIK, dan bahasa Inggris.

Pada bulan Desember 2011, WTA bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Utara dalam menyelenggarakan kegiatan seleksi guru-guru Sains dan Matematika yang akan mengikuti Pelatihan Pengayaan Kurikulum, Pedagogi, dan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Guru Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Provinsi Sulawesi Utara. Gambaran singkat tentang pelatihan.

PEMDA PAPUA BARAT

Atas bantuan Willi Toisuta & Associates, 20 guru SMA RSBI yang berasal dari Manokwari, Sorong, dan Fak-fak, Papua Barat, mendapatkan beasiswa pelatihan di Australia selama sepuluh minggu. Keduapuluh guru tersebut terbang ke Australia setelah mendapatkan beasiswa Australian Leadership Awards Fellowships (ALAF). Mereka akan mengikuti training pengayaan kurikulum dan pedagogik di University of the Sunshine Coast, Queensland, Australia.

Dosen University of the Sunshine Coast, Bill Allen menjelaskan, pada lima minggu pertama, selain mendapat pelatihan, para guru akan diberi kesempatan tinggal bersama orangtua angkat mereka. Ini sebagai upaya untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris para guru tersebut. Setelah itu, lima minggu berikutnya, para guru harus menerapkan apa yang mereka dapat selama pelatihan dalam program magang di sekolah-sekolah di Australia.

PEMDA SUMBA TENGAH

Program literasi baca tulis kelas awal di Sumba Tengah merupakan program peningkatan kemampuan membaca di 40 Sekolah Dasar yang dimulai sejak Agustus 2017. Program ini merupakan kerja sama antara WTA/YNS dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Tengah dan UNICEF. Program literasi ini dilatar belakangi oleh tingginya angka buta huruf di Sumba Tengah. Berdasarkan data dari BPS (2017) 10% penduduk di Pulau Sumba tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Studi UNESCO dan Kementerian Pendidikan (2012) juga menunjukkan bahwa Provinsi NTT merupakan salah satu provinsi dengan tingkat buta huruf tertinggi di Indonesia. Studi tersebut juga mengungkap bahwa adanya pola hubungan antara tingkat buta huruf dengan tingkat kemiskinan. Permasalahan literasi merupakan permasalahan yang vital sehingga perlu untuk ditangani secara serius. Program ini juga mendukung upaya Pemerintah Nasional dalam upaya mengurangi kesenjangan antar wilayah dalam bidang pendidikan.

Untuk menjalankan program tersebut WTA/YNS merekrut 24 fasilitator yang merupakan sarjana-sarjana lokal yang dilatih beberapa pengetahuan da keterampilan seperti: literasi fonik, pedagogi, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Manajemen Perpustakaan, Disiplin Positif. Pengetahuan dan keterampilan tersebut diperlukan agar fasilitator dapat melatih dan mendampingi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Selain itu fasilitator juga dilatihkan tentang community engagement yang meliputi keterampilan mengenali karakteristik masyarakat, pemetaan sosial, analisis masalah sosial, manajemen konflik dll. Keterampilan tersebut dibutuhkan agar fasilitator dapat terlibat dan berbaur dengan masyarakat untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.

Strategi program tersebut diterjemahkan dalam beberapa kegiatan baik di sekolah maupun di masyarakat. Kegiatan di sekolah meliputi: Pelatihan dan pendampingan rutin secara instensif kepada guru. Pengadaan akses buku bacaan, Kelompok Kerja Guru (KKG). Sedangkan kegiatan di masyarakat meliputi: pendampingan intensif dengan tokoh masyarakat dan orang tua, kegiatan kampanye pendidikan, rapat konsolidasi tingkat kampung, dan janji layanan.

Setelah 10 bulan intervensi tampak adanya perubahan di sekolah, seperti menurunnya angka ketidakhadiran siswa di sekolah, meningkatnya jumlah guru yang membuat rencana pembelajaran, meningkatnya jumlah guru yang mampu menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan RPP.