Saat mengikuti kuliah John Hunt soal pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, saya mendapati bahwa isi kuliahnya lebih banyak membahas filosofi pendidikan ketimbang teknologi itu sendiri.

John Hunt adalah salah satu konsultan pendidikan dari Willi Toisuta & Associates. Ia mengajar di School of Science and Education pada University of the Sunshine Coast di Queensland. Belakangan ini Hunt terlibat dalam proyek One Laptop Per Child (OLPC), sebuah proyek penyediaan laptop murah untuk anak-anak sedunia. Ia aktif membantu usaha melek komputer (computer literacy) di Papua dan Dumaji, suatu kawasan Aborigin di Australia.

Inti kuliahnya sederhana dan mungkin semua orang sudah tahu: bahwa teknologi bisa sangat bermanfaat bagi proses belajar. Dengan internet, orang bisa mengakses pengetahuan seluas-luasnya. Pertemuan, pertukaran, dan pertandingan ide bisa dilakukan melintasi batas ruang dan waktu. Komputer membantu orang menumpahkan pikiran, menyimpan, dan membaginya bersama orang lain dengan mudah, murah, serta cepat. Dan seterusnya.

Hunt meminta para peserta kuliah untuk membayangkan diri mereka sebagai dinosaurus dan menuliskan tiga masalah yang mungkin mereka hadapi saat menjadi dinosaurus. Kenapa begitu? Kata Hunt, sebagai pembelajar, orang harus berpikir kreatif. Dan untuk berpikir kreatif, orang harus berpikir beda. Hunt merujuk taksonomi pembelajaran Bloom yang menjelaskan bahwa tahap belajar orang dimulai dengan mengingat, kemudian memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan akhirnya mencipta. Untuk bisa mencipta pengetahuan baru, orang harus kreatif. Orang bisa manfaatkan teknologi dalam setiap tahap belajar taksonomi Bloom.

Kreativitas berguna dalam penggunaan teknologi. Matt Farthing, salah satu murid Hunt yang belajar tentang sel, mengekspresikan pengetahuan baru hasil belajarnya lewat sebuah lagu tentang struktur sel. Kata Matt, ia justru merasa belajar lebih banyak soal sel dari kegiatan seperti ini. Sekarang “lagu ilmiah” itu bisa disimak lewat YouTube.

John Hunt mempromosikan filsafat John Dewey soal pembelajaran berbasis penyelidikan (inquiry-based learning). Guru perlu melibatkan murid dalam proses penyelidikan ilmiah. Murid bisa terlibat saat rasa ingin tahunya tersentuh. Caranya? Hunt biasa menanyai para murid apa yang telah mereka ketahui, kemudian apa yang belum dan ingin mereka ketahui. Saat apa yang ingin diketahui sudah jelas, mereka bisa menentukan bagaimana cara terbaik memperoleh pengetahuan itu, teknologi apa yang perlu dipakai, dan sebagainya.

Kuliah John Hunt mengingatkan saya bahwa teknologi adalah alat. Mau dipakai untuk belajar atau cari hiburan, terserah orangnya. Teknologi cuma bermanfaat untuk pendidikan bila orang memanfaatkannya untuk pendidikan. Teknologi yang terdiri dari hardware dan software sepenuhnya tergantung pada brainware si pemakai. Mungkin itulah sebab kenapa kuliah John Hunt lebih banyak membahas filosofi pendidikan ketimbang teknologi. Karena penggunaan teknologi sepenuhnya tergantung pada paradigma si pemakai. Untungnya, paradigma orang juga bisa diubah dengan bantuan teknologi, sama seperti saat John Hunt membawakan kuliahnya dengan penyertaan data, bagan, dan gambar lewat teknologi LCD.

SATRIA ANANDITA

© Ilustrasi: Samantha Penney

share it...
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailFacebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail