Pengalaman Belajar Markus di Sunshine Coast

Nama saya Markus Salubongga, guru SMP Negeri 12 Angkasa V Jayapura. Saya adalah salah satu dari 24 guru yang dikirim oleh Pemda Papua, melalui Willi Toisuta & Associates untuk mengikuti pelatihan di University of the Sunshine Coast, Queensland, Australia.

Selama di Sunshine Coast saya tinggal bersama keluarga Australia bernama Neil dan Jenny McKillop. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Robert dan seorang anak perempuan bernama Joan. Robert sudah menikah dan memiliki istri bernama Belinda. Mereka dikaruniai seorang anak bernama David. Sedangkan Joan memiliki tunangan bernama Shoun dan akan menikah di bulan Oktober 2009. Saya hanya tinggal bersama Neil dan Jenny ditemani seekor anjing bernama Maxi dan dua ekor kucing. Keluarga Neil adalah keluarga yang baik, friendly, dan sudah biasa menerima mahasiswa internasional.

Kami tinggal di Currimun di Caloundra, sebuah daerah di pinggir pantai. Neil dan Jenny adalah pensiunan guru. Mereka sering mengikuti kegiatan gereja, jalan-jalan ke pantai bersama Maxi, dan bepergian. Malam harinya kami nonton televisi bersama. Selama tinggal bersama mereka, saya merasa sangat diperhatikan. Pagi hari kami sarapan bersama, lalu mereka menyiapkan makan siang untuk saya bawa ke kampus. Malamnya mereka membuat makan malam yang lengkap dengan dessert. Dari Senin sampai Jumat kami diantar ke kampus USC. Mereka selalu mengantar dan menjemput pada waktu yang tepat.

Selama perjalanan ke kampus maupun perjalanan pulang, kami selalu bercerita, baik tentang cuaca, pelajaran, dan apa saja yang kami temui di perjalanan. Hal itu sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris praktis saya. Setiap hari Sabtu dan Minggu kami gunakan untuk ke pantai dan berekreasi ke tempat yang menarik. Mengenai makanan, mulanya saya merasa belum familiar. Baru setelah dua atau tiga hari saya merasa tidak ada masalah. Apa yang mereka sediakan itu juga yang saya makan tanpa membuat mereka kecewa. Saya merasa mendapat banyak pengalaman dari mereka, baik kultur maupun bahasa Inggris praktis.

Di kampus USC kami belajar bahasa Inggris mulai pukul 08.40 hingga 10.40, kemudian istirahat selama 20 menit, dan lanjut lagi pada pukul 11.00 sampai 12.00. Istirahat makan siang selama 1 jam. Pada jam makan siang juga kami gunakan untuk berlatih bahasa Inggris bersama para mahasiswa internasional yang berasal dari Jepang, Korea, Spanyol, Arab, dan India. Kemudian kami melanjutkan pelajaran pukul 13.00 sampai 15.00. Sisa waktu satu setengah jam (sebelum dijemput host family pada pukul 16.30) kami gunakan mengunjungi perpustakaan. Di waktu luang kami juga diajak berkunjung ke salah satu sekolah dalam lingkungan USC, yaitu Chancellor State College.

Kami memiliki dua orang guru, yaitu Mr. Warren dan Mrs. Jacky. Mereka sangat profesional dalam mengajar. Metode mengajar dan pendekatan yang mereka gunakan sangat efektif dalam meningkatkan ketrampilan bahasa Inggris kami. Setiap minggu kami diberi tugas menulis dan selalu dibombardir satu per satu untuk mengetahui dimana letak kesalahan kami. Kami juga memiliki jadwal belajar bersama-sama dengan siswa internasional lain dan memiliki pilihan kegiatan di hari Kamis, seperti movie, shopping, conversation, sport, self access, dan lain-lain. Fasilitas di USC sangat lengkap, sambungan ke Internet 24 jam yang dapat diakses nirkabel, perpustakaan, dan selengkapnya. Belajar di USC sangat asyik dan menyenangkan. Ini membuat kami mudah menyerap pelajaran yang diberikan. Itulah pengalaman saya selama home stay dan belajar bahasa Inggris di USC.

Selama kurang lebih sebulan di Sunshine Coast, saya merasakan banyak perubahan terjadi, di antaranya:

  • Waktu pertama tinggal di home stay saya banyak kesulitan dalam berkomunikasi. Selain faktor minim berbahasa Inggris, juga karena penyesuaian situasi. Tapi sekarang sudah lebih baik dan lancar. Home stay sangat mendukung studi saya sehingga biasa dibantu dalam spelling, pronounciation, bahkan grammar.
  • Secara pribadi juga ada perubahan sedikit dengan kedisiplinan, bagaimana menghargai waktu, menghargai listrik, dan juga menghargai air.
  • Dalam belajar bahasa Inggris di USC, hal yang sangat berubah adalah kemampuan menulis. Waktu persiapan di Bali, menulis merupakan hal yang sangat berat bagi saya. Tapi sekarang hampir setiap hari diberi tugas menulis dan sudah sedikit ringan.
  • Mengenai grammar, sudah mulai ada perubahan terutama membedakan tenses dan kapan tenses itu harus digunakan.
  • Mengenai dasar-dasar bahasa Inggris, saya rasa sudah ada perubahan. Tinggal bagaimana supaya saya membiasakan diri menggunakannya.
  • Kami juga sempat melakukan mini lesson di kelas, dipandu oleh guru kami Warren dan Jacky. Mereka memberi banyak masukan bagi kami.

MARKUS SALUBONGGA

Pelatihan Guru Papua Penerima Beasiswa ALAF di Australia

Dalam rangka mempersiapkan sekolah berstandar internasional (SBI) di Papua, Pemerintah Provinsi Papua untuk kedua kalinya mengirimkan guru-gurunya menjalani pelatihan di Australia. Seperti diketahui, program pelatihan guru-guru di Australia pertama sekali dilaksanakan pada tahun 2008. Program ini dirancang secara khusus oleh Willi Toisuta & Associates dan University of the Sunshine Coast di Queensland, Australia. WTA sejak tahun 2007 telah dipercaya oleh Pemerintah Provinsi Papua untuk merancang dan melaksanakan program-program pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di Papua.

Untuk program yang kedua ini biaya perjalanan, biaya hidup, dan biaya pelatihan para guru ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Australia melalui program Australian Leadership Award Fellowship (ALAF). Para guru penerima beasiswa ALAF ini merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh WTA. Mereka berasal dari berbagai kabupaten di Papua, yaitu 5 orang dari kabupaten Jayapura, 9 orang dari kota Jayapura, 6 orang dari kabupaten Mimika, 3 orang dari kabupaten Keerom, dan 1 orang dari kabupaten Yapen Waropen.

Sebelum menjalani pelatihan di Australia, seluruh guru yang lulus proses seleksi ini telah mengikuti program persiapan bahasa Inggris selama tiga bulan di Indonesia Australia Language Foundation Denpasar, Bali.

Di Australia, program pelatihan akan dilaksanakan oleh USC. Pelatihan ini terdiri dari dua tahapan. Yang pertama adalah pelatihan program English Language Lessons selama empat minggu. Selama melaksanakan program ini, para guru tinggal bersama keluarga-keluarga Australia (home stay). Yang kedua adalah Teacher Development Program selama enam minggu. Dalam tahap ini, pada pagi hari para guru akan dimagangkan di sekolah-sekolah wilayah Queensland, Australia, sedangkan pada siang harinya mereka akan dilatih tentang kurikulum, strategi dan metode mengajar (pedagogi), pemanfaatan ICT dalam pembelajaran, dan lain-lain. Beberapa sekolah di Queensland yang berpartisipasi dalam program ini adalah Chancellor State College, Siena Catholic College, Mathew Flinders Anglican College, Mountain Creek State High School, Maroochydore State High School, Beerwah State High School, St. Johns Catholic College, Kawana State High School, dan Sunshine Coast Grammar School.

Pada tanggal 3 Juli 2009, di Jakarta telah dilaksanakan acara penyerahan beasiswa dan pelepasan bagi para guru Papua tersebut. Acara ini dihadiri oleh Agus Wahyu Sadikin (Kepala Sub Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Pelatihan), James Modouw (Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua), Lasarus Hara (Kepala Bidang Ketenagaan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua), Zakarias S.O. (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom), Michael Bliss (Minister CounselorAustralian Department of Foreign Affairs and Trade), Lisa Mollard (Unit Manager of Scholarship and Volunteering AusAID Jakarta), Siska Wiliyhana (Australian Scholarship Promotion), Anindita Kusumawardhani (Australian Education Centre Manager), Yoyoh Hafidz (Program Manager Papua Education, AusAID), Vladimir Pejovic (Academic Manager English Language Services, IALF, Bali), Willi Toisuta dan Eka Simanjuntak dari WTA, Bill Allen dan Rama Brierty dari University of the Sunshine Coast.

Dalam sambutannya, James Modouw mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan wawasan para guru Papua. Oleh sebab itu, para guru diharapkan dapat mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh, agar apa yang diperoleh selama di Australia dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas anak-anak didik di Papua.

Pada sore harinya para guru tersebut berangkat ke Sunshine Coast, Queensland, diantar oleh Lasarus Hara dan Eka Simanjuntak. Di Sunshine Coast, para guru langsung disambut oleh para keluarga home stay masing-masing yang berjumlah 25 keluarga, yang sebelumnya sudah ditunjuk secara khusus oleh University of the Sunshine Coast. Di rumah keluarga home stay inilah para guru akan tinggal selama sebulan penuh.

Keesokan harinya juga diadakan acara penyambutan yang disiapkan oleh pihak USC, yang dihadiri pimpinan University of the Sunshine Coast, Greg Hill (acting vice chancellor and president), Merv Hyde (program director), Bill Allen, Suzie Burford (program manager), dan beberapa staf pengajar dan administrasi. Dalam sambutannya, Greg Hill dan Lasarus Hara berharap agar kerjasama ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan mengingat USC memiliki fasilitas pendidikan dan pelatihan yang sangat baik dan lengkap. Pusat pelatihan ICT di USC misalnya, selama ini juga digunakan oleh Pemerintah Negara Bagian Queensland untuk melatih guru-guru dari sekolah-sekolah di Queensland di bidang pemanfaatan ICT dalam pembelajaran.